
Calvin mengusap kasar wajahnya, dia kelepasan. Dia menunggu Alice di depan pintu kamar, karena wanita hamil itu masuk begitu saja dan mengunci pintu.
Lama berdiri ponselnya kembali bordering kali ini semakin lama, Calvin mengira itu adalah Mala tidak tahunya adalah Wardi asistennya. Calvin tidak peduli lagi berapa lama Alice akan keluar dari kamar.
Dia berlari keluar dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, bagaimana bisa dalam waktu dekat semua masalah datang dengan beruntun. “Ahhh! sialan,” umpatnya sepanjang jalan.
Di tempat tujuan, Calvin memegang kepalanya dengan tatapan tidak percaya, pabrik makanan yang baru saja beroperasi dua bulan terakhir sudah habis dilahap si jago merah.
“Bagaimana bisa terjadi?” tanya nya dia yakin ada yang tidak beres.
“Maaf Tuan. Ini kesalahan kami,” jawab seseorang yang diyakini adalah pimpinan yang ditunjuk.
“Apa maksudmu?” Calvin sudah memegang kerah leher pria yang sejak tadi sudah merasa sangat takut, “Katakan dengan jelas atau kau juga akan kulempar ke dalam kobaran api!” mata Calvin sudah memerah.
Salah satu dari mereka memberanikan diri untuk maju, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Calvin melepas dengan paksa pria yang dianggapnya tidak berguna itu, “Dimana dia sekarang?”
“Tuan, itu, dia sudah menyerahkan diri,” Alis Calvin mengkerut, “Artinya dia suruhan seseorang?” tebak Calvin.
“Tidak Tuan, dia mengaku memang tidak sengaja dank arena merasa takut dia langsung menyerahkan diri.” Jelas si pemimpin tadi.
Kerugian yang dialami Calvin tidak main-main. Dengan sangat frustasi dia kembali melajukan mobilnya dan meminta Wardi mengurus masalah di pabrik yang terbakar.
Sementara itu, dia sudah sampai di tempat tujuannya, “Dimana dia?” tanya Calvin menatap datar orang-orang disana.
Salah satu petugas membawanya ke sebuah ruangan paling ujung, di sana dia melihat pria kurus yang tengah terduduk dengan wajah sendu, ada beberapa luka lebam di wajahnya, Calvin yakin dia baru saja mendapatkan pukulan. Dia tidak peduli.
“Siapa yang memerintahkanmu?” tanya nya langsung tanpa basa-basi.
“Ma-maafkan saya Tuan, saya tidak sengaja, itu murni kesalahan saya,” ucapnya terbata. Bagaimana bisa dia menyalahkan orang lain sementara dia memang melakukan itu tanpa sengaja.
__ADS_1
“Kau pikir aku percaya dengan omong kosongmu? Berapa dia membayarmu dengan menghancurkan pabrikku!?” Calvin sudah sangat geram sekarang.
“Tuan. Tolong maafkan saya,” pria kurus itu menunduk.
Calvin mengepalkan tangan, andai saja ini bukan di tahanan dia akan melampiaskan semua kekesalan pada pria ini.
Ditempat yang berbeda, Laura panic karena tidak menemukan siapapun di apartemen Alice, dia datang berkunjung dan membawa beberapa makanan yang dimasaknya sendiri.
Namun sangat betapa terkejutnya dia saat menyadari bahwa Alice sudah tidak ada ditempat. “Dimana dia?” Laura sudah mengelilingi seluruh ruangan tetapi wanita hamil yang dicarinya tidak ada.
“Kenapa dia pergi dengan pintu yang tidak terkunci?” gumamnya, Laura masih tetap mencari, dia menghubungi nomor Alice yang baru-baru kemarin di dapatnya tetapi lagi-lagi Laura tidak percaya karena Alice juga tidak membawa ponselnya.
Karena terlalu panic akhirnya dia menelpon Calvin mungkin saja saat ini mereka sudah bersama kembali. Namun sekali lagi Laura terkejut karena Calvin tidak bersamanya.
“Kau kemana?” sungguh yang Laura khawatirkan adalah bayi dalam kandungan Alice. Dia tahu Alice sangat bisa menjaga diri, tetapi tetap saja manusia punya batas lelahnya.
Calvin yang mengetahui Alice tidak berada di apartemennya kembali di buat pusing. Belum masalah satu selesai sekarang masalah yang lain sudah di depan mata. “Jika tidak di apartemen artinya dia di mansion sekarang,” batinnya
“Dimana nyonya?” tanya Calvin yang baru saja akan naik tangga.
“Tuan. Maaf tapi nyonya belum kembali ke rumah, setelah kepergiannya mengantar makan siang untuk Tuan,”
“Dia belum kembali?” Hans mengangguk.
“Astaga dimana dia? Jika tidak berada di apartemen berarti –,” Calvin berlari naik ke kamarnya, dia harus menyiapkan semuanya. Tengah sibuk membersihkan diri, Mala kembali menelepon.
“Ya Mala. Maafkan aku tapi aku akan menelponmu kembali setelah urusanku selesai,” tanpa menunggu jawaban dari Mala, Calvin mematikan panggilan Mala dan kembali turun ke lantai bawah, dia sudah siap untuk mencari dimana istrinya.
Kali ini dia bertekad akan kembali bersama Alice dan anaknya.
__ADS_1
“Kalau ada yang mencariku. Katakan saja aku keluar kota dalam beberapa hari,” Hans mengangguk dan melihat tuannya sudah berlalu dengan wajah khawatir.
“Tuan, semoga anda bisa membujuk nyonya kembali,” Hans berbalik dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Hans jelas sangat tahu bagaimana drama rumah tangga sang tuan, sebelum kejadian malam itu, rumah tangga mereka sangat harmonis, namun setelahnya tidak jarang keduanya berselisih paham.
Dan sekarang yang tidak Hans percaya adalah nyonya Alice yang melayangkan surat cerai.
“Nyonya. Semoga Tuhan selalu melindungi anda,” doa Hans.
Malam hari Calvin baru sampai di kota Alice, kediaman itu terlihat sangat mewah meski penghuninya hanya seorang wanita yang sering sekali bepergian. Sekarang Calvin baru sadar bahwa dibandingkan mansion Alice kediaman miliknya tidaklah ada apa-apanya.
Dia baru saja akan menekan bel tetapi pintu sudah terbuka dan dia merasa tubuhnya terlempar jauh ke belakang,
“Berani kau tampakkan dirimu?” Samuel yang sudah sangat kesal tidak sabar menunggu kedatangan Calvin setelah anak buahnya mengatakan bahwa Calvin aan berkunjung mencari Alice.
Adik sepupunya sudah menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya, Samuel sudah akan menyusul tetapi lagi-lagi Alice tidak ingin terjadi perkelahian, dan seperti yang Samuel perkirakan pria tidak tahu diri itu sudah mengantar nyawanya sendiri.
“Dimana Alice?” Calvin berusaha berdiri dan mengusap darah di bibirnya yang robek karena pukulan Samuel yang tidak main-main.
“Berani kau menyebut nama adikku dengan mulut berdosa mu?” kerah leher baju di cengkram, dan dengan sekali lagi Calvin mendapatkan pukulan di wajahnya.
“Kau salah paham. Tolong katakana dimana Alice?”
“Kembalilah! Andai saja Alice tidak memintaku untuk tidak melukai ayah dari anaknya, aku pastikan kau hanya tinggal nama,”
Calvin terdiam, di saat seperti ini Alice masih memikirkan tentang dirinya. Dia baru menyadari kesalahannya. “Tolong katakan dimana dia? Apakah di dalam? Izinkan kau bertemu dengannya sekali saja, setelah itu aku berjanji akan menjauh darinya,” mohon Calvin. Jika memang Alice sudah tidak ingin kembali maka dia akan melepaskannya dengan berat hati.
“Pulanglah! Dia tidak ada di dalam dan mungkin tidak akan kembali dalam waktu yang lama,”
__ADS_1
Calvin mengerutkan kening, “Apa maksudmu? Kau tahu kemana dia pergi? Katakan dimana?”