
Pagi-pagi sekali Calvin sudah sibuk didalan kamarnya, dulu saat Istrinya masih satu kamar dengannya dia tidak akan kesusahan mencari barang-barangnya, tetapi karena malah ini mau tidak mau dia harus melakukannya sendiri.
Calvin bergegas menuruni tangga dengan jas yang disampir ditangannya, sesekali dia melirik jam mahal yahg melekat dipergelangan tangannya.
"****, aku harus buru-buru" Langkahnya semakin lebar memasuki ruang tengah. Suara sepatu itu menggema karena Calvin melangkah cepat.
"Kau berangkat sepagi ini?" Suara dari arah belakang membuat Calvin menghentikan langkahnya. Jantungnya berdetak kencang, apakah dia berhalusinasi? Karena ini sudah beberapa hari semenjak kehadiran Laura waktu itu mereka jarang sekali bertemu, apalagi bersapa. Karena kesibukan mereka masing-masing.
"Alice..kapan kau kembali?" Tanya Calvin yang sudah berbalik dan melangkah mendekati wanita yang sangat dia cintai.
"Semalam, aku tidak mungkin membagunkanmu, kau pasti sangat lelah" Alice memasang senyum tipis. Senyum yang jarang sekali terlihat belakangan ini.
"Aku suka melihat senyum ini". Calvin berkata jujur, dan dia merasakan hatinya menghangat saat Alice memberinya senyuman lebih lebar.
"Kau belum menjawab, pertanyaanku".
Calvin tersadar "Ah iya, aku ada pertemuan setengah jam lagi, dan rekan bisnisku kali ini dari luar kota, aku hanya tidak ingin membuatnya menunggu". Jawab Calvin masih menatap teduh istrinya.
"Tampa dasi?" Tanya Alice membuat Calvin refleks memegang bagian leher kemejanya.
"Oh sial, kenapa bisa melupakan ini". Calvin baru saja hendak melangkah lebar naik kembali kekamarnya sebelum tangan Alice menghentikannya.
Calvin melihat tangannya yang digenggam Alice dengan dahi mengkerut kemudian menatap istrinya lekat. Dia tidak mengerti kenapa dia di hentikan.
"Diamlah, biar kupasangkan". Entah sejak kapan Alice memegang dasi ditangannya, dia memasangkan Calvin dengan telaten, tinggi mereka hampir sama jadi Alice dengan mudah memasang tampa berjinjit.
"Sudah selesai". Ucap Alice melihat hasil karyanya.
Sejak tadi Calvin hanya diam melihat bagaimana Alice memasangkan dasi untuknya. Dia sangat merindukan moment seperti ini. Sungguh.
Setelah semua dirasa sudah sempurna Calvin melangkah kemobilnya karena dia hanya memliki sedikit waktu sekarang. Tapi sebelum itu dia mencium pucuk kepala istrinya berulang kali untuk mengisi energinya. Yang tidak sempat untuk sarapan.
****
Di sebuah Cafe disebelah perusahaan 'Cagfoup' yang dipimpin oleh Calvin sendiri, sudah ada Calvin bersama Laura menunggu di meja paling ujung. Ini adalah pertemuan pertama mereka selama bekerja sama. Dan tentu saja Calvin sebagai tuan rumah harus menunggu tamunya.
__ADS_1
Tidak lama menunggu akhirnya sebuah siluet muncul dari arah pintu masuk, Calvin langsung mengenali rekannya karena mereka biasa melakukan meeting via vidio.
"Selamat datang, Tuan Edgar". Calvin menguurkan tangan menjabat yang disambut hangat oleh Edgar tentunya.
"Senang bertemu dengan anda secara langsung, dan kenalkan dia Asisten pribadiku Arabella". Bella mengulurkan tangan dan sedikit membungkuk tanda hormat.
Mereka membicarakan banyak hal, tentang bagaimana kelanjutan kontrak kerja mereka selanjutnya, dan seperti yang diharapkan oleh Calvin, Tuan Edgar cukup bisa mereka andalkan.
"Baiklah sepertinya setelah ini kita akan sering bertemu". Ucap Calvin karena mereka sudah selesai dengan urusan mereka.
"Hum, anda benar Tuan, Baiklah sepertinya kami harus pergi sekarang". Edgar berdiri dan melangkah pergi di ikuti oleh Arabella disampingnya.
****
"Tuan, apakah kita akan langsung kembali, ke Swiss?" Tanya Arabella yang sudah didalam mobil bersama Edgar, mereka akan mencari penginapan sebelum kembali besok pagi.
"Apakah kau langsung ingin kembali?" Tahya Edgar, yang langsung di angguki Bella.
"Kau tidak ingin berlibur?" Tawar Edgar kembali, membuat Bella memicingkan mata.
"Tuan, apakah kota ini tempat wanita yang kau cintai itu tinggal?" Edgar hanya memasang wajah datar, lalu kemudian dia tersenyum "Hm, benar, dia tinggal di kota ini" Jawabnya membuat Bella tercekat.
Jangan tanya kenapa Edgar membiarkannya, karena menurutnya selama Bella tidak meminta hatinya maka tidak akan masalah.
"Alice..Aku sudah berada lebih dekat denganmu sekarang". Gumamnya dalam hati dengan senyum yang sulit di artikan.
"Bagaimana jika Edgar bertemu wanita itu, apakah aku mampu melihat mereka bersama?" Gumam Arabella dalam hati sambil memejamkan mata.
*****
Setelah pertemuan dengan Tuan edgar, Calvin dan Laura tidak langsung kembali ke kantor, mereka masih ada pertemuan selanjutnya ditempat yang berbeda, didalam perjalanan baik Calvin atau Laura sama-sama terdiam. Mereka sibuk dengan fikirannya sendiri.
Calvin memikirkan Alice, yang dia rasa ada sesuatu yang aneh pada istrinya itu, karena tiba-tiba saja sikapnya berubah. Lebih manis tadi pagi.
Sedangkan Laura, entah apa yang difikirkannya, sesekali dia melirik atasannya dengan senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
"Setelah ini ada jadwal apa lagi? Tanya calvin akhirnya, dia sangat ingin pulang sekarang, tetapi tentu tidak bisa mengabaikan pekerjaannya
"Setelah ini, Tuan tidak punya jadwal lagi". Kemudian dia melanjutkan "Tetapi jam sembilan malam nanti anda harus menghadiri pertunangan Tuan Dion".
Mendengar itu Calvin hanya menghela nafas panjang, kenapa disaat istrinya sudah terlihat manis, jadwalnya sangat padat.
Waktu berputar sangat cepat, saat ini Calvin sudah kembali ke mansion, dengan wajah lelah, dia tidak langsung naik ke kamarnya tetapi langsung mendudukkan diri di sofa ruang tengah, disana sudah ada Alice dengan laptop di meja dan beberapa berkas laporan. Calvin dan Alice memang masing-masing kerja ditempat yang berbeda.
"Kau sudah pulang? Tanya Alice kemudian melanjutkan, dia berdiri "Tunggulah akan ku ambilkan air putih dulu, setelah itu naiklah kekamarmu, dan turun untuk makan malam".
"Duduklah". Pinta Calvin melihat istrinya akan melangkah pergi.
Alice patuh, dia duduk kembali, bahkan lebih dekat dari Calvin
"Kau lelah, lebih baik kau bersihkan diri lalu makan malam". Alice menatap mata suaminya mekat.
"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Calvin yang semakin heran. Bukankah beberapa hari yang lalu ada ketegangan di antara mereka? Lalu hari ini, sikap Alice seperti tidak pernah terjadi apapun.
"Hm aku baik, kenapa?"
Tampa menjawab Calvin langsung menarik Alice dalam pelukannya, menghirup aroma lavender yang sangat menenangkan.
"Maafkan aku..." lirih Calvin semakin erat memeluk istrinya
"Sudahlah lupakan". Ucap Alice mengelus pundak suaminya.
"Boleh aku bertanya?
"Tanyalah". Jawab Alice melepas pelukannya menatap wajah lesu suaminya
"Apa yang membuatmu semanis ini? Aku suka kau yang selalu seperti ini, tetapi mendadak setelah kejadian ini-" Calvin berfikir apa.yang harus dia katakan.
"Apakah salah? Aku hanya menyapa suamiku". Lagi Alice menampakkan senyumnya. Membuat Calvin semakin bingung.
Calvin kembali memeluk istrinya, mencium pucuk kepalanya berkali-kali lalu menciumnya kembali.
__ADS_1
"Naiklah, lalu turun saat makan malam". Perintah Alice lembut.
"Aku akan keluar saat jam makan malam, kemungkinan akan pulang saat larut" Jawaban Calvin, membuat Alice terdiam, kemudian, dia mengangguk dan tersenyum "Baiklah".