
Setelah makan siang bersama, Calvin kembali membujuk Mala agar tidak lagi khawatir karena mereka akan tetap bersama karena Alice tidak akan tahu dengan apa yang mereka lakukan.
“Bagaimana jika istrimu tahu bahwa kau bersamaku kembali?” tanya mala hati-hati. Ini sudah kesekian kalinya Mala bertanya
“Dia tidak akan tahu. Dia terlalu sibuk, tidak mungkin punya waktu untuk mencari tahu hal yang tidak di sangkanya,” jawab Cavin santai tetapi hatinya terasa ngilu.
“Sayang … berjanjilah bahwa kau tidak akan meninggakanku.” Mala kembali mengatakan hal sama berulang-ulang, jelas saja dia takut, Calvin memiliki istri yang cantik dan berpendidikan, di banding dengan dirinya, dia bukanlah siapa-siapa.
“Aku berjanji. Tenanglah hem,” Calvin mencoba menangkan kekasihnya.
Malam itu mereka berdua kembali memadu kasih. Tidak ada kepuasan bagi keduanya karena mereka telah menahan rasa itu sangat lama dan itu wajar bagi keduanya.
Calvin yang memang selalu bisa membuat pasangannya melayang, terus membawa Mala ke langit ketuju, menumpahkan semua rasa cinta mereka masing-masing, saling mengisi dan mengasihi.
Hingga mereka tidak sadar melakukannya berulang-ulang kali hingga hampir dini hari.
Kedua terlelap karena terlalu kelelahan.
Sementara itu di tempat lain, wanita hamil enam bulan itu tengah tersenyum pahit karena sudah tahu apa yang suaminya lakukan. Dia di khianati berulang kali, apakah dia pantas mendapatkannya?
Calvin kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan, batinnya.
Keesokan harinya. Alice sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuknya dan sebagaian untuk Calvin. Meskipun dia tahu bahwa suaminya tidak di kantor tetapi dia akan membuatkannya dan membawanya.
Wajahnya masih saja terlihat datar dan dingin, bahkan pelayan yang disana merasa canggung dan tidak enak hati hanya sekedar menegur.
Alice keluar sebelum jam makan siang, dia ingin melihat alasan apa yang akan dia dapatkan nanti.
Alice yakin bahwa tidak ada Calvin di kantornya karena dia menempatkan satu orangnya untuk mengawasi disana.
“Apakah Tuan di ruangannya?” tanya Alice sopan, seolah-olah tidak tahu.
“Tuan belu –”
“Nyonya Alice?” sapa seorang yang sejak tadi terlihat sangat pucat saat melihat saipa yang datang ke kantor.
“Oh hai Wardi. Apakah Tuan ada di ruangannya?” tanya Alice dengan senyum mengembang.
__ADS_1
“Tuan. Heum baliau keluar sebentar Nyonya,” kata Wardi mencari alasan, Tuannya belum mengonfirmasi jika kemungkinan Nyonya akan datang.
“Kapan dia kembali?”
“Saya, heum,” Wardy terbata jelas karena dia tidak tahu harus menjawab apa.
“Baiklah, kau bawa ini untuk makan siangmu,” Alice menyerahkan rantang bawaannya. Sudah cukup dia bersandiwara, dia hanya ingin mendengar apa yang ingin Calvin katakan nanti.
Tidak ada salahnya bermain-man sebentar bukan?
Wardi hanya termangu melihat senyuman istri dari Tuannya, jelas dia tahu apa yang diakukan Tuannya saat ini. Dan dia merasa bersalah karena ikut menyembunyikan hal ini.
Dia merogoh ponsel dikantongnya dan menelepon Tuannya, lebih baik seperti itu pikirnya, “Tuan. Nyonya ke kantor mencari anda,” hanya itu yang Wardi katakan sebelum mendengar teriakan terkejut dari arah sana.
Wardi hanya menghela napas pelan. Dia merasa kasihan dengan Alice, bukan lagi Laura yang menjadi perusak rumah tangganya tetapi sekarang masa lalu suaminya.
Dipusat perbelanjaan Alice membeli semua yang memang dia butuhkan, dia memang terlihat sendiri tetapi yang sebenarnya anak buah Samuel dan beberapa orang suruhannya berjaga ditempat yang kemungkinan tidak terlihat.
Memang sejak kehamilannya mau tidak mau dia harus menerima semua penjagaan ini dari ayah angkatnya. Dan sekarang dia merasa memang membutuhkannya.
“Alice ….” Sapa seseorang dari arah belakang membuat langkahnya terhenti.
Dengan sekuat hati dia menyapa, kebencian pada Alice seketika memudar saat melihat perut buncit yang mulai terlihat menggemaskan di matanya.
Hubungan mereka memang terlihat sangat rumit sejak awal.
Sebagai wanita Laura bisa merasakan bahwa jika dia di posisi Alice diapun akan melakukan hal yang sama membuat wanita yang merebut perhatian suaminya menderita.
“Haruskan aku menyapamu sebagai Bibik? Melihat kau menyapaku dengan nama saja?” ucap Alice datar membuat Laura semakin menelan ludah kasar.
“Alice bagaimanapun kita –”
“Yah. Kita adalah kerabat. Bibik baru menyadarinya? Melihat bagaimana kekuasaan Antoni –”
“Dia Pamanmu Alice!” Laura menghela napas. Bagaimanapun seharusnya Alice haruslah menyebut kakaknya sopan, jangan hanya nama saja.
Alice hanya menghela napas. Tidak ada tenaga berdebat dengan Laura. Dia berbalik meninggalkan Laura yang masih mematung dan belum puas untu bicara.
__ADS_1
Dengan langkah terburu-buru Laura berjalan disamping wanita yang terlihat tenang tetapi Laura jelas melihat bahwa dimata wanita itu ada duka yang lain.
Apakah karena dirinya? Apakah Alice tidak tahu bahwa dia sekarang tidak lagi terpokus untuk merusak hubungan mereka? Atau apakah Alice masih marah padanya?
“Alice kau masih marah padaku?” tanya Luara hati-hati.
Alice menghetikan langkahnya dan menelengkan kepala kearah Laura yang sekarang juga berhenti melangkah, “Haruskah aku menjawabnya?” tanya nya membuat Luara terdiam.
“Maafkan aku.” Hanya itu yang bisa Laura katakan, dia melihat punggung Alice yang semakin menjauh.
Sementara itu di di apartemen milik Mala, dia bingung melihat Calvin yang terlihat pucat dan terburu-buru memasang pakaiannya setelah mendapatkan telpon dari kantor.
“Sayang ada apa sebenarnya?” tanya Mala lembut.
“Aku akan kekantor dulu heum,” katanya mengecup kening Mala dan berlalu begitu saja tanpa sarapan terlebih dahulu. Memang sudah siang karena olahraga mereka semalam.
Bahkan Calvin sampai lupa untuk kembali ke rumahnya terlebih dahulu, tentu dia sangat terkejut saat mengetahui bahwa Alice datang ke kantornya.
Di perjalanan Calvin terus merutuki dirinya karena melupakan janjiya. “shit” di trus mengumpat sepanjang jalan.
Di kantor Wardi merasa bersyukur saat melihat Tuannya sudah datang dengan segera walau dia masih melihat wajah sang Tuan sangat khawatir.
“Kau bilang apa padanya?” tanya Calvin tanpa menunggu lama.
“Saya belum menjelaskan Tuan tetapi Nyonya sudah menyela dan menitipkan ini untuk Tuan,” Calvin melihat rantang makanan di atas meja, dia mengusap kasar wajahnya.
Dengan perasaan tidak menentu dia mencari nomor istrinya, ini lebih menegangkan dari pada saat dia ketahuan terangkap basah bersama Laura.
“Dimana dia?” gumamnya karena Alice tidak menjawab panggilannya.
Berulang-ulang kali Calvin menelpon tetapi tetap saja panggilannya diabaikan. Yang tidak Calvin ketahui adalah Alice memang tidak membawa ponsel yang menyimpan nomor suaminya di dalam.
Sejak awal memang dia memisahkan ponsel kerja dan ponsel yang menyimpan nomor suaminya, dua tahun mereka menikah dan Calvin tidak memperhatikan itu. Apakah ini sudah bukti bahwa memang sebenarnya Calvin tidaklah benar-benar mencintai Alice.
Calvin keluar dari kantor dan pulang kerumahnya, mungkin saja Alice sudah sampai, dia akan memastikan anaknya baik-baik saja. Baginya anak dalam kandungan Alice sangatlah penting karena itu akan membuatnya mendapatkan semua harta kewarisan dari Ayahnya.
“Dimana Nyonya?” tanya Calvin saat sudah sampai di rumah dan tidak melihat mobil istrinya.
__ADS_1
“Nyonya belum kembali sejak pergi tadi Tuan,”