Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Bab 18 | Haruskah aku mengambil mereka


__ADS_3

"Tuan darah..."


Tuan Thomas yang melihat itu langsung menyuruh Edgar membawa Alice kerumah sakit.


Calvin masih mematung, melihat istrinya yang diangakt dan dibawa Edgar keluar Mansion namun setelah dia sadar dia berlari dan mengikuti kemana mereka pergi.


Dirumah sakit, Calvin hanya mondar mandir didepan pintu, sementara yang lain duduk dikursi tunggu memperhatikan bagaimana cemasnya Calvin.


"Duduklah Tuan, saya yakin semua akan baik-baik saja". Kata Tuan Thomas.


Sementara itu Arabella membawa seorang perawat untuk mengobati luka di wajah Tuannya. "Tuan, sebaiknya lukanya di obati dulu".Kata Bella duduk disebelah Edgar.


Edgar hanya mengangguk dan mengikuti perawat yang sedari tadi berdiri menunggu dirinya. Calvin duduk, dia sangat menyesal baru saja dia mendapatkan kabar bahwa istrinya hamil namun secepat itu dia harus mendengar hal mengejutkan bahwa istrinya mencintai pria lain.


"Hah". Dia menghela nafas pelan.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada bayinya". Gumamnya pelan.


Setelah makan malam Calvin memang naik ke kamar dia akan tidur karena kepalanya lagi-lagi pusing, namun setelah menunggu beberapa lama Alice tidak juga naik, akhirnya dia memutuskan untuk turun menyusul. Namun setelah dia menemukan keberadaan istrinya, dia yang awalnya akan memberi kejutan akhirnya gagal karena mengetahui fakta lain.


"Alice, bagaimana perasaanmu pada Tuan?"


"Entah sejak kapan aku merasakan ada sesuatu dihatiku saat melihatnya, aku akan terganggu saat dia tidak ada dimataku, sampai akhirnya aku sadar aku menyukainya, semakin dia jauh dari pandanganku, semakin aku jatuh cinta padanya".


Setelah mendengar itu Calvin mengepalkan tangan dan naik kembali kekamar, dia menunggu Alice sampai wanitanya naik. Dan yang membuatnya sangat kesal saat Alice mengatakan akan ke kamar Tuan Thomas sementara dia tahu ada Edgar didalam.


"Tenangkan dirimu, terkadang apa yang kita dengar tidak sepenuhnya benar, coba jika ada sesuatu yang salah selesaikan baik-baik". Tuan Thomas menepuk pundak kokoh itu dengan pelan seperti memberi kekuatan.


Setelah beberapa saat menunggu dokter keluar mencari keluarga pasien. Calvin sudah berdiri namun saat melihat Edgar datang dia menghentikan langkahnya, Edgar menyadari itu.


"Aku yang kan ikut bersama dokter atau kau sebagai suaminya?" Edgar melihatnya dengan datar. Tidak ada jawaban Calvin terlalu takut dengan kenyataan jika benar bayi itu bayinya maka di akan sangat terluka jika terjadi hak buruk.


Menghela nafas berat. Akhirnya Edgar yang pergi bersama dokter. Alice masih belum bangun jadi mereka belum di izinkan untuk menemuinya.

__ADS_1


Sementara Alice dipindahkan ke ruang inap Calvin masih duduk menyesali kemarahannya. dia duduk dengan tangan menutup wajahnya.


Arabella melihat itu, wanita manis itu sedikit tahu apa yang terjadi, karena memang dia melihat Calvin semalam pergi setelah mendengar obrolan mereka.


Dia melihat Edgar keluar bersama dokter, terlihat wajah dokter yang sangat lelah, dan mengantuk memang ini masih tengah malam dan keadaan ini membuat mereka semua harus berada disini.


"Bella, kau kembalilah bersama Ayahku, istrahat agar besok kita bisa kembali". Kata Edgar yang berhasil mengusik telinga Calvin.


"Tidak masalah Tuan, kita bisa menunda pulang, kesembuhan Alice jauh lebih penting". Katanya yang tidak setuju.


"Tidak, tapi kau bagaima-"


"Tidak masalah, aku masih bisa menunggu" melirik ke arah Calvin. Pria itu terus saja menutup wajahnya.


"Baiklah, sekarang lebih baik kau pulang bersama Ayahku, pagi nanti kalau Alice sudah bangun aku akan mengabari kalian".


Bella mengangguk dan berdiri menghampiri Tuan Thomas yang sejak tadi menunggu. Pria tua itu memang terlihat sangat lelah di usianya yang sudah tidak muda lagi.


"Masuklah diruangannya, dia akan sangat senang saat membuka mata melihatmu". Katanya masih menatap luruh kedepan. Dia menyadari bahwa semakin hari cintanya juga semakin tumbuh, lagi dia yakin Alice pun sama, namun dia tidak akan egois bagaimana pun diantara mereka ada yang lebih berhak atas cinta itu, lagi ada nyawa lain diantara mereka.


"Bagaimana pun dia istrimu, ada anak didalam rahimnya yang membutuhkan dirimu". Kata Edgar lagi karena Calvin tidak juga memberi respon.


"Bukankah dia anakmu". Calvin menelengkan kepala dan menatap dingin Edgar.


"Apa maksudmu?" Berdiri dan menatap Calvin yang juga sudah berdiri.


"Aku tahu, kau dan Alice saling mencintai dari dulu, dan itu sebabnya dia meminta bercerai karena anak dalam kandungannya adalah anakmu" katanya penuh dengan amarah.


"Brengsek, kau bilang anak dalam kandungannya bukan anakmu? Sehina itu dia dimatamu, brengsek?" Edgar tak kalah marah mendengar pria didepannya berbicara omong kosong.


'Bugh..


'Bugh..

__ADS_1


Karena tidak siap dengan gerakan Edgar Calvin tersungkur dan tidak sempat membala diri sampai dua keamanan yang melihat keributan itu melerai perkelahian mereka.


"Dengarkan aku, kalau kau memang tidak menginginkan anak itu, jangan menuduhnya dengan sehina itu". Setelah mengatakan itu Edgar melepaskan pegangan tangan keamanan yang melerainya tadi dan pergi meninggalkan Calvin menuju ruangan Alice.


Dia menarik kursi dan duduk di samping wanita yang dia cintai itu. Tangannya mengepal saat mengingat bagaimana Calvin tidak menganggap bayi dalam kandugan Alice adalah anaknya.


Dia meraih tangan yang masih lemah itu, menggenggamnya. Menghela nafas berat dia terus saja menatap wajah yang pucat Alice kemudian menatap keadah perut yang memang sudah terlihat buncit sedikit.


"Aku tidak tahu bahwa gadis kecil ini akan segera menjadi Mommy". Katanya terkekeh mengingat bagaimana nakalnya Alice kecil yang selalu saja mengganggunya.


"Maafkan aku, seandainya saat itu aku memiliki keberanian, aku akan mengungkapkan perasaanku lebih cepat, dan kita akan bahagia bersama". Dia menggenggam tangan itu da tidak melakukan hal lebih walau dia sangat ingin.


Diluar sana Calvin yang mendengar hanya bisa mengepalkan tangan. Setelah dia akan pergi dia mendengar Alice sadar.


"Kau sudah bangun?" kata Edgar terdengar sangat senang. Terlihat Alice hanya tersenyum tipis.


"Kak kau disini?" Tanyanya lemah. Lalu pandangannya mengarah ke arah pintu seperti menunggu seseorang.


"Dimana Calvin?" tanyanya yang masih didengar oleh Calvin diluar.


"Biar ku panggilkan". Edgar berdiri dan akan memanggil Calvin, namun Alice menghentikannya "Dia pasti sangat marah, dia mengira anak yang kukandung bukan anaknya". Setelah mengatakan itu Alice terlihat panik " A-anakku ....?".


"Dia baik-baik saja, untungnya walau pendarahan tidak membuatnya terluka, dia sangat kuat seperti Mommy nya". Kata Edgar menjelaskan apa yang dikatakan dokter.


"Mm,, karena dia aku bertahan, dan sekarang Ayahnya tidak mengakuinya". Jawab Alice terkekeh lemah. "Aku memang bukan yang terbaik mungkin". Jawabnya sendu.


"Mungkin dia hanya salah faham, karena aku sangat tampan". Kata Edgar bercanda menyembunyikan rasa sakitnya. Dia bisa melihat Alice nya sudah berpaling sekarang.


Calvin hanya diam mendengar bagaimana dua orang didalam, rasa marahnya sedikit mencair mendengar Alice mencarinya.


Saat dia akan pergi Edgar menghentikannya "Kau benar-benar tidak ingin menemuinya? Haruskah aku benar-benar mengambil mereka berdua agar tuduhanmu benar?".


Setelah mengatakan itu Edgar berlalu, meninggalkan Calvin yang masih diam didepan pintu.

__ADS_1


__ADS_2