Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Bab 24 | Jangan terlalu difikirkan


__ADS_3

Didalam ruangan yang didominasi warna putih dan hitam itu dua sepupu itu tengah dalam pembahasan yang semakin serius. Udara didalam seketika menjadi panas setelah Alice melihat sebuah foto yang dia tahu benar siapa.


Dia menghela nafas pelan, sudut bibirnya terangkat, tangan masih besidekap di dada, dia berjalan ke arah sepupunya yang sejak tadi duduk di sofa.


"Hum, jadi dia adalah bibikku?". Katanya dengan kekehan. Samuel yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala.


"Yah, itu yang didapat para pengawal yang aku tugaskan mencari tahu tentangnya". Alice duduk, menumpu kaki satu ke kaki yang lain. Dia mulai mengaitkan kejadian-kejadian yang mungkin saja terhubung.


"Jangan terlalu difikirkan, lebih baik jaga kesehatanmu". Alice mengangguk dia setuju, kesehatannya jauh lebih penting sekarang, ada nyawa lain didalam tubuhnya.


"Apa yang pamanmu katakan kemarin?". Tetiba mendongak, melihat ke arah Samuel yang menatapnya tajam, siapa yang memberitahunya? Alice menelan saliva kasar. "Paman Antoni hanya datang berkunjung". Jawabnya datar masih menatap ke bawah mengelus perutnya. Dia mudah sekali lapar diusia kandungannya yang memasuki bulan ke lima. Samuel seperti mengerti dia berdiri dan mendekat duduk disamping adiknya.


Mengupaskan buah, dan memotong-motongnya kecil. Alice tersenyum karena madih ada keluarganya yang tulus disisinya.


"Makanlah". Samuel menyodorkan buah diujung garfu untuk adiknya yang langsung disambut senang oleh Alice.


"Sekarang katakan, apa yang dia katakan padamu?"


"Apa lagi kalau bukan ucapan rindu paman pada keponakannya". Kata Alice berdecak, sejujurnya dia tidak ingin mengingat kejadian kemarin, pamannya memang terlihat sangat berbeda. Mengingat itu Alice menggelengkan kepala mengeyahkan fikiran aneh yang mulai masuk di otaknya.


"Berhenti, tindakanmu akan membuat kepalamu terlepas". Samuel memegang kepala Alice yang terus saja menggeleng. Samuel merasa adiknya tidak pernah berubah dari dulu. Random.


Alice hanya berdecak, mana bisa hanya menggeleng membuat kepala terlepas.


"Baiklah, karena semua semua sudah jelas, aku akan kembali ke kantor". Yang diangguki langsung Alice "Kabari aku kalau sudah sampai, aku tidak percaya suamimu datang kemari tetapi tidak mengajakmu bsrsamanya". Dengusnya. Samuel memang tidak menyukai Calvin karena selama adiknya menjadi istrinya tidak pernah sekalipun dia berbaur dengan keluarga yang lain.


"Dia juga ada kerjaan, kak". Alice mengantar sepupunya turun kebawa, sekalian akan berpamitan dengan Ayahnya.


Seperginya Samuel Alice kembali memasuki rumah, dia mencari dimana Ayahnya, dia sudah memutuskan untuk kembali hari ini. Jika berangkat sekarang dia hanya akan memakan waktu 4 jam saja dengan kecepatan biasa.

__ADS_1


Alice melangkahkan kaki ke arah kamar Ayah angkatnya, Thomas. Memang selama bekerja bersama Ayahnya, Ayah Thomas memang memiliki kamar lain di mansion ini karena seringnya Alice ditinggal sejak masih kecil.


Tiba didepan pintu, yang terlihat tidak tertutup rapat karena masih ada sedikit celah angin yang bisa masuk. Alice berdiri mendengarkan dua orang pria beda generasi didalam tengah dalam pembahasan serius.


"Jangan keras kepala, Ed". Terdengar suara Tua itu sedikit bergetar. Entah apa saja yang mereka berdua bicarakan sejak tadi sehingga Alice dapat mendengar betul bahwa Ayah angkatnya sudah terdengar sangat lelah.


Terdengar Edgar hanya berdecak, seperti sudah bosan mendengar dan menjelaskan. "Ayah hanya ingin kamu memiliki pasangan sebelum orang tua i-"


"Ayah akan berumur panjang, jangan selalu mendahului takdir". Edgar menggaruk alisnya yang tidak gatal, kenapa tiba-tiba saja Ayahnya mebahas pernikahan.


"Apakah karena Nona, Alice? Apakah karena kamu masih tidak bisa membebaskan dirimu sehingga dengan tidak berfikir menolak menikahi gadis itu?". Sarkasnya pada Anaknya.


Dia memang mengetahui sudah lama perihal perasaan putranya dengan Nonanya, untuk itu sebelum dia mengetahui wasiat perjodohan itu dia berharap mereka bisa bersama. Namun, rupanya takdir memang tidak bisa kita ubah.


"Aku memang tidak ingin menikah". Baru saja Edgar mengucapkan itu Alice masuk dengan tersenyum ke arah mereka berdua yang gugup karena tertangkap tengah membicarakannya.


"Alice, nak..".


Alice hanya menepuk pelan punggung tangan renta itu. "Biar Alice yang membujuk kakak". Katanya tersenyum manis. Dia tahu ada rasa tidak enak di mata Ayah Thomas. Pria paruh baya itu masih saja menganggapnya majikan, dan Alice tidak suka itu.


"Kak-". Belum sempat Alice menyelesaikan kalimatnya, Edgar sudah berlalu meninggalkan mereka berdua dengan mengibaskan tangan pertanda bahwa dia tidak ingin mendengar apapun. Edgar pergi tampa menutup pintu, dan Ayah Thomas hanya mendesah pelan.


"Lihatlah anak nakal itu, dia tidak pernah mau mendengarkan orang tua ini". Menghembuskan nafas lelah.


"Ayah jangan terlalu banyak beban fikiran, itu tidak baik untuk kesehatanmu, lagi aku sudah bilang jangan mengatai kakaku nakal".


Tuan Thomas terbahak renyah. "Dia memang nakal, lihatlah diameninggalkan kita tampa ucapan apapun"


"Itu karena Ayah memaksanya menikah". Tuan Thomas menoleh ke arah Alice yang duduk disebelahnya. ada tatapan tidak puas di raut wajahnya karena jawaban Alice tadi.

__ADS_1


"Biarkan kakak menentukan sendiri kapan dia akan menikah, aku yakin dia akan memilih Arabella, aku menyukainya dia sangat manis".


"Tetapi, anak nakal itu-"


"Ayah, jangan mengatainya nakal, oke!". jawaban Alice membuat Thomas sedikit hawatir sekarang. "Ayah jangan salah faham, dia kakakku, dan selamanya begitu, hanya saja terasa sangat aneh mendengar saudara sendiri di umpat"


Mendengar itu Thomas dan Alice tertawa, walau mereka berdua merasakan bahwa tawa mereka hanya sebagai penutup kenyataan. Lama mengobrol akhirnya Alice sudah mengatakan bahwa dia akan kembali kerumah suaminya hari ini, tentu saja mendapat penolakan dari Thomas karena baru saja Alice keluar dari rumab sakit.


Tapi bukan Alice namanya jika tidak bisa membuat nya percaya, dan dengan berat hati orang tua itu mengangguk pasrah, entah kemana perginya Edgar sehingga tidak melihat kepergian Alice, disana hanya ada Arabella yang terlihat murung karena malah dia yang ditinggal.


"Alice, kenapa malah kau yang meninggalkanku?". Ucapnya dengan bibir cemberut. Alice memeluknya erat dan membisikkan sesuatu padanya "Aku harap kau tidak melupakanku dihari pernikahanmu". Bella berdecak, bagaimana akan menikah kalau prianya saja sudah mengunci hatinya.


Tapi lagi, Arabella tidak akan marah pada Alice, karena dia tahu tidak akan bisa memaksa jika memang cinta itu bukan untuknya. Dia hanya akan menunggu sampai batas waktunya.


Dilain tempat diwaktu yang sama setelah Alice berangkat Calvin sudah duduk di sofa ruang tamu dimana ada Laura juga disana duduk menunduk. Sudah hampir satu jam lamanya Laura hanya diam, mendengar Calvin yang diliputi emosi. Berulang kali pria beristri itu terlihat menghembuskan Nafas panjang.


"Aku tidak tahu kau bisa segila ini, kau bahkan memaksa Tuan Sean untuk menelponku karena pekerjaan yang seharusnya bisa kau kerjakan sendiri".


Calvin benar-benar tidak habis fikir, Sean dan Laura bekerja sama untuk membuatnya kembali lebih cepat.


"Tapi Tuan-"


"Sstttt... ". Calvin mendekatkan telunjuk di bibirnya, dengan memejamkan mata, kepalanya semakin pusing hanya dengan mendengar suara Laura. Dia meringis sangat kesal. Karena terlalu kesal dia meninggalkan Laura sendiri, dia akan kekamar, mungkin melakukan panggilan vidio bisa membuat suasana hatinya lebih baik.


Satu panggilan gagal, dua panggilan sampai panggilan kelima Alice tidak juga menjawabnya. Calvin mendesah karena tidak biasanya istrinya mengabaikan panggilannya, bahkan saat mereka bertengkarpun Alice masih mau menjawab. Kemana dia?


"Sayang, aku akan menghukummu, jika aku tahu kau mengabaikanku karena kakak angkatmu itu". Calvin merebahkan tubuhnya ke kasur dan melempar asal ponselnya. Dia ingin ke kantor tetapi suasana hatinya rusak karena Laura yang keras kepala ingin tetap tinggal.


Dan Calvin tidak akan membiarkan wanita lain didalam rumah selama dia pergi, selain pelayan yang memang dia pekerjakan.

__ADS_1


__ADS_2