Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Ban 16 | Pelukan terakhir.


__ADS_3

"Jangan berbicara omong kosong". Kata Edgar.


Samuel hanya mengerdikkan bahu "Mana tahu benar". Katanya yang langsung mendapat lemparan bolpen namun bisa dia tangkap.


"Kalian berhentilah bermain-main, aku lelah". Kata Alice suara mereka berdua sangat mengganggu tidurnya.


"Tidurlah didalam". Maksudnya diruang pribadi dalam ruangan itu.


"Tidak, aku akan segera kembali ke mansion, ada Calvin disana". Alice lantas membuka mata diapun baru sadar juga.


"Siapa? Calvin? Pria bermata sipit itu?" Kata Samuel.


"Kak..." Alice memperingati. Sebenarnya Alice tidak enak mengatakannya, lagi ada Edgar disana, bagaimanapun lelaki itu adalah cinta pertamanya.


"Kalau begitu pulanglah" kata Edgar tersenyum masam.


"Ya, kau harus pulang, bayimu butuh istrahat". Katanya setelah melihat Alice berdiri membenahi pakaiannya.


"Ed, kau tidak akan mengatarnya kembali, sebelum kau kembali ke negara sakura itu, dan sepertinya memang kalian harus mengobrol sedikit". Kata Samuel membuat atensi Alice mengarah pada Edgar.


"Kapan?" Katanya kembali duduk.


"Besok pagi, Arabella dia-".


"Dia gadis yang baik, kalian terlihat sangat cocok". Katanya dengan senyum kecil.


"Dia memang gadis baik, dia sama sepertimu, selalu berbicara sesuka hati".


"Kau sepertinya sudah sangat mengenal dia".


"Karena bagiku apapun yang dia lakukan, aku melihat dirimu dalam dirinya". Kata Edgar menatap manik indah itu, mereka hanya berdua saja disana, karena tadi Samuel sudah keluar saat mengatakan bahwa Edgar akan kembali.


"Jangan, itu akan membuatku merasa tidak enak padanya".


"Dia tahu aku mencintaimu". Katanya masih menatap Alice yang terlihat mengerutkan kening


"Aku tahu, tidaklah pantas mengatakan ini pada istri orang lain, aku hanya mengungkapkan apa yang seharusnya kau dengar beberapa tahun yang lalu". Kata Edgar.


Biarlah kali ini dia menjadi pria brengsek karena mengutarakan cinta pada istri orang lain.

__ADS_1


"Sudah cukup, seharusnya pembahasan ini tidak lagi diteruskan".


"Hm kau benar, aku cukup bahagia mengetahui bahwa kalian saling mencintai". Dia diam lalu melanjutkan " Aku sudah mengira bahwa pernikahan kalian tidak akan baik-baik saja sebelumnya, maafkan aku".


"Boleh aku memelukmu?" Edgar meminta izin, dia sudah tidak memiliki harapan sekarang. Maka biarlah pelukan ini menjadi pelukan terakhir baginya.


Alice hanya mengangguk.


Alice hanya tidak mengetahui bahwa yang memeluknya tengah mengumpulkan serpihan-serpihan hati yang sudah hancur. Namun dia cukup bahagia Alice bahagia maka dia juga akan bahagia.


Lama mereka melepaskan rasa yang mereka pendam selama ini. Edgar terus saja mengelus lembut punggung wanita nya dengan penuh sayang. Tampa dia dan Alice sadari bahwa diluar ruangan Samuel melihat dan mendengar semuanya.


Pria itu hanya diam dan sedikit menarik sudut bibirnya ke atas. Dia cukup tahu bagaimana menderitanya Edgar memendam perasaannya selama ini, tapi sayangnya status sosial membuatnya tidak berani melangkah.


Dan melihat bagaimana mereka berdua tetap tenang Samuel yakin bahwa Alice sudah mengetahui semuanya. Andai saja tidak ada wasiat perjodohan itu maka Edgar sangat pantas untuknya. Dilihat bagaimana dia berdiri sendiri dan menjadi besar di Negara orang membuat Samuel yakin bahwa dia yang terbaik.


Lalu dia mengingat satu nama Antonio, dia semakin yakin bahwa paman dan bibiknya menjodohkan Alice agar Antonio tidak bisa berbuat apa-apa padanya.


Samuel tahu bahwa Antonio menginginkan Alice, dan dia tidak.mebagtakan itu lada Alice, tidak untuk sekarang sebelum dia mendapatkan bukti bahwa memang Antonio dalang dari kematian paman dan bibiknya.


"Masuklah, bawahanmu akan curiga kau mengintip dari luar". Kata Edgar dia tahu sejak tadi Samuel menguping pembicaraan nya dengan Alice.


"Dia wanita hamil, memang wajar tiba-tiba tertidur". Katanya mengangkat tubuh itu dan membawanya ke ruangan yang Samuel maksud. Samuel dengan sigap membuka pintu dan memnbantu sepupunya berbaring dengan nyaman.


Setelah memastikan Alice tidur dengan Nyaman, dua pria itu keluar dan kembali mendudukkan diri di sofa. karena ada yang sesuatu yang penting yang harus mereka bicarakan


Dimansion Calvin terbangun, matanya sangat berat. Dia melihat sekelilingnya dan benar saja dia di kamar istrinya, tapi dimana Alice?


Dia melihat jam di atas nakas, sudah sore dia hawatir karena seharusnya Alice sudah kembali.


Baru saja dia akan membuka pintu wanita cantik itu sudah tiba dengan senyuman dibibirnya.


Calvin langsung memeluk istrinya dan mengecup seluruh wajahnya membuat Alice tersenyum geli.


"Aku hawatir.


Alice hanya memutar matanya jengah. "Kau hawatir pada anakmu atau aku?"


"Ayolah! Aku tidak mungkin hawatir pada salah satunya, kalian sama pentingnya".

__ADS_1


Alice melirik ke arah suaminya yang masih menghunakan pakaian yang sama seperti pagi tadi.


"Kau bekum mandi, Calv?" Tanyanya mendekat


"Aku malas mandi". Jawaban Calvin tentu saja membuat Alice menganga, tidak biasanya. Dia tahu bagaimana Calvin. Mandi bisa dikatakan hal wajib baginya. Tidak boleh telat.


"Kenapa menatapku seperti itu" Dia tentu saja heran Alice tiba-tiba menatapnya dari atas sampai bawah.


"Tadi kau bilang malas mandi? Aku tidak salah dengar? Sejak kapan?"


"Sudah lama, mungkin saat kau marah dan pindah kamar, rasanya percuma mandi". Katanya berjalan acuh melewati Alice yang masih tidak percaya.


"Kalau begitu, sekarang mandilah, kita sudah sekamar". Titah Alice.


"Kau mandi saja dulu, kepalaku pusing lagi". Keluhnya memejamkan mata. Sebenarnya tidak hanya kepalanya yang pusing terkadang dia juga merasa sangat mual.


"Kau sakit? Lalu kenapa tidak memberitahuku dirumah?" katanya mulai panik.


"Bagaimana bisa aku memberitahumu, kau bahkan tidak ingin melihatku". Dia kembali meringis.


"Tunggu biar ku panggilkan dokter kemari". Alice sudah merogoh ponselnya dalam tas namun Calvin mencegahnya "Kemarilah, aku hanya membutuhkan tangamu, aku akan merasa baik saat tanganmu memegangku". Katanya memanggil Alice dengan isyarat tangan. Alice menurut


Jari lentik itu mulai menekan lembut kepala Calvin, tidak ada gerakan berlebihan hanya menekan dan mengusap. Alice mana tahu cara memijat.


Setelah itu dia mendengar suara dengkuran halus. Calvin kembali tidur. Alice hanya menggeleng pelan dengan senyumannya.


Dia sudah memikirkan ini, dia akan kembali membenahi rumah tangganya, dia akan menjadi seorang ibu, dan lagi Calvin dijebak yang artinya itu murni bukan kesalahan suaminya.


Lalu bagaimana dengan cintanya pada Edgar, pria yang selama ini mengambil sebagian besar tempat dihatinya dan membuat nama Calvin di bagian terkecil disana.


Alice akan menyimpan nama itu ditemlat yang seharusnya dan membiarkan Calvin memenuhi seluruh isi hatinya. ada nyawa yang harua mereka rawat bersama dan dia tidak ingin nama siapapun akan merusak bahagianya.


Makan malam tiba, Calvin dan Alice turun, dibawah sudah ada Ayahnya Thomas, Edgar dan Arabella gadis manis itu.


"Selamat malam Nona, maafkan saya karena masih berada di mansion Nona sampai hari ini" Arabella menyapa lebih dulu


"Jangan sungkan aku senang kau disini dan maaf aku terlalu sibuk jadi tidak bisa menemanimu". Alice jujur. Dia menyesal mengabaikan tamunya.


"Saya mengerti ". Balasnya dengan senyuman termanis.

__ADS_1


__ADS_2