Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Bab 15 | Sudah Puas


__ADS_3

Edgar melangkahkan kaki panjangnya meninggalkan Calvin dengan perasaan yang berkecamuk, dia ingin marah, tapi pada siapa?


Alice melihat Edgar yang baru saja meninggalkan Calvin, entah apa yang mereka berdua bicarakan. Namun dia merasa bahwa ada yang tidak baik-baik saja.


"Kak..". Panggilnya lirih saat Edgar melewatinya begitu saja.


Edgar ingin berlalu mengabaikan Alice namun tubuhnya menolak, dia berhenti dan membalik diri. "Hm, selamat atas kehamilanmu". Katanya tersenyum kikuk.


"Terima kasih, ak-". Belum selesai dia berucap langkah kaki teratur terdengar mendekat ke arah mereka berdua. Edgar tidak melirik sama sekali, dia hanya fokus pada wajah didepannya yang sudah menoleh ke arah sumber suara.


"Tuan Edgar, apakah kau sudah puas melihat bagaimana cantiknya istriku?" Kata Calvin yang sudah merengguh pinggang Alice dengan posesif.


Edgar hanya berdecak pelan "Dan istrimu itu sudah seperti adik buatmu". Katanya sambil menepuk pelan bahu Calvin dan meninggalkan mereka berdua.


"Jangan ulangi lagi". Kata Alice meninggalkan Calvin yang masih bingung kenapa istrinya terlihat kesal.


"Aku hanya tidak ingin ada pria lain selain aku yang boleh melihatmu seperti itu". Dia menyamakan langkah kaki mereka. Alice yang mendengar hanya diam saja.


"Apakah dulunya kalian sangat dekat?" tanya Calvin masih mengekor pada istrinya yang terlihat sangat sibuk


"Tidak, kami tidak sedekat yang kau fikirkan". Jawabnya sambil membenahi pakaiannya, saat ini Alice sudah berganti pakaian, lebih ke formal.


"Kau akan ke kantor?" yang hanya dijawab anggukan oleh Alice. "Kau sedang hamil, sayang".


"Jangan hawatir aku akan selalu berhati-hati".


"Tetap saja aku akan hawatir". Dia sudah memeluk istrinya dari belakang, menghirup aroma lavender yang selalu Alice gunakan. Sangat menangkan.


"Kapan kau kembali?" Tanya Alice membuat Calvin menghentikan gerakan tangannya di permukaan baju Alice. Dia suka mengelus perut yang agak buncit itu.


"Kita akan kembali bersama, lagi aku ada sedikit urusan dengan Ayahmu". Katanya membuat Alice berbalik.


"Ayah? Ayah Thomas maksudmu?"


"Hm, ya ada sedikit urusan pekerjaan, aku sudah meminta waktuya tadi sebentar".


Alice ingin bertanya banyak hal, tetapi panggilan dari sepupunya Samuel sangat mendesak, mereka akan turun kelapangan hari ini memeriksa lahan yang baru saja mereka beli.


"Baiklah, aku akan sedikit terlambat kalau kau lelah kau bisa istrahat". Katanya dengan langkah cepat. Calvin hanya meringis melihat bagaimana wanita hamil itu sangat energik.

__ADS_1


Seperginya Alice Tuan Thomas membawa Calvin ke Mansion pribadinya, ya Pria Tua itu memang lebih banyak menghabiskan waktu di Mansion Alice saat anak amgkatnya itu berada di kota suaminya. Namun saat Alice sudah kembali maka dia akan berkunjung kekediamannya sendiri.


Sedangkan Edgar, ini pertama kalinya dia kembali setelah pernikahan Alice, Dia dan Thomas diberikan kamar khusus oleh orang tua Alice namun setelah orang tua Alice berpulang dan menikah dia lebih sering di mansionnya.


Didalam ruang kerjanya, Tuan Thomas sudah duduk di sofa dengan sebuah berkas diatas meja.


"Jadi Tuan akan menghapus semua perjanjian yang Tuan buat?" katanya memastikan.


"Itu lebih baik, lagi waktu itu aku sangat bodoh sampai membuat perjanjian tidak masuk akal itu".


"Dan Tuan sudah sedia dengan akibatnya?" Tanyanya lagi.


"Istriku lebih penting, setidaknya dengan membatalkan perjanjian itu, aku hanya kehilangan saham dua puluh persen, rumah dan satu unit hotel kan?"


Tuan Thomas mengangguk.


"Maka mari kita batalkan, aku tidak masalah dengan semua itu" katanya dengan yakin.


"Tapi sepertinya Tuan melupakan poin terakhir" ucapan Thomas tentu saja membuat Calvin bingung, kenapa ada poin terakhir bukankah dia sendiri yang membuat perjanjian itu, dan seingatnya dia hanya menuliskan itu.


"Tuan pernah berjanji bahwa Tuan tidak akan membuat putriku hamil dalam jangka waktu dua tahun karena Tuan tidak akan melihatnya sebagai istri, dan jika itu terjadi Tuan akan melepas semua yang Tuan miliki".


Yah Calvin ingat poin ini, Saat itu Calvin memang tidak berniat dijodohkan dia tengah diliputi kemarahan sehingga membuat sebuah perjanjian tidak masuk akal karena sangat membenci tentang pernikahan.


Dia hanya ingin bebas, rasa sakit hatinya karena penghiatan kekasihnya membuatnya tidak ingin mengenal cinta lagi. Namun siapa yang sangka bahwa saat melihat Alice untuk pertama kali dia langsung luruh?


Laku bagaimana dengan perjanjian itu?


Ya di awal sebelum bertemu dia membuat perjanjian bersama Ayahnya, dan tentu saja dengan orang kepercayaan Ayah Alice Tuan Thomas.


Calvin menuliskan bahwa. Dia tidak akan mau tahu semua tentang Alice, tidak dengan kediamannya juga perusahaannya. Calvin tidak akan perduli semua yang menyangkut Alice, bahkan tidak akan melihatnya sebagai wanitanya, Dan poin terakhir adalah point yang memang tidak dia tulis namun dia sendiri yang meminta agar di ingatkan. Yaitu jika dalam jangka sebelum dua tahun, dia mencintai Alice dan membuatnya hamil maka seluruh hartanya jatuh atas nama Alice.


Melihat Calvin hanya diam, membuat Tuan Thomas hanya tersenyum. Dia bahagia karena pada akhirnya Calvin mencintai Alice dan sepertinya mereka saling mencintai.


Point terakhir tidak tertulis, maka tidak ada masalah jika memang Alice hamil hanya saja dia ingin menguji bagaimana keputusan pria didepannya.


"Bagaimana Tuan?"


Calvin tampak berfikir, dia sebenarnya tidak masalah kehilangan semuanya asal bersama dengan istri dan anaknya. Namun bagaimana jika Alice bersikeras untuk berpisah? Dan andai mereka tetap bersama bagaimana dia akan menghidupi kedua orang tersayangnya?

__ADS_1


Dia dilema.


"Tuan". Tuan Thomas semakin mendesak.


"Biarkan aku memikirkannya kembali, jangan salah faham aku bahkan tidak masalah kehilangan semua hartaku, tetapi bagaimana aku bisa menghidupi mereka". Lirihnya.


Memang pernikahan mereka belumlah genap dua tahun enam bulan lagi, ya enam bulan lagi maka pernikahan itu akan genap namun Tuhan sangat baik dia mengirimkannya begitu cepat.


Sebenarnya lagi ini tidaklah masalah. Itu hanya poin tidak tertulis tetapi tetap itu tetaplan sebuah perjanjian


"Baiklah, anda bisa membicarakan ini dengan Alice saya yakin dia akan mengerti, setidaknya dengan adanya keputusan darinya maka semua perjanjian akan batal"


"Tidak, dia tidak boleh mengetahui tentang ini".


"Baiklah Tuan, apapun keputusan Tuan saya yakin itu yang terbaik". Katanya dengan senyum ramah.


Setelah mengobrol lama Calvin akhirnya kembali lagi ke Mansion milik istrinya, masih sangat siang, dan dia yakin wanita hamil itu belum kembali, lalu dia akan apa sekarang?


Dia melangkah naik dalam kamar, mungkin dia akan istrahat sebentar, sebenarnya sudah beberapa hari ini dia merasa sangat pusing. mungkin karena pekerjaan dan perkara rumah tangganya. Dia harus memikirkan banyak hal mulai sekarang.


Setah sampai diatas, dia merebahkan kepala diatas bantal hanya sesaat dan suara dengkuran itu sudah terdengar. Calvin tertidur.


Ditempat yang berbeda Alice baru saja sampai dikantor kembali setelah berkeliling melihat lahan yang baru saja dia beli, dia akan mendirikan pusat perbelajaan disana dia yakin kedepannya akan sangat menguntungkan.


"Aku lelah sekali". Katanya menyandarkan diri di sofa dengan mata tertutup.


"Minumlah, sudah ku katakan biar aku yang kesana kau bisa melihatnya dari monitor". Edgar yang menjawab. Ya pagi tadi Edgar ke kantor milik Alice yang dipimpin oleh Samuel.


Edgar dan Samuel memang sudah seperti saudara, mereka besar bersama di Mansion Alice. Jadi tidak heran kalau tiba-tiba dia berada disana.


"Kau harus tahu aku sangat kuat". Katanya masih memejamkan mata.


"Kau kuat tapi bagaimana dengan bayimu?". Kata Edgar membuat Samuel yang bersama mereka sangat terkejut.


"Ba-bayi? Bayi siapa?" Katanya tergagap.


Edgar maupun Alice tidak ada yang bersuara."Alice kau hamil? Anak siapa? Anakmh Edgar?" pertanyaan Samuel tentu membuat Alice lantas membuka matanya dan menegakkan badan.."Jaga bicaramu kak, jika orang lain mendengar itu akan bahaya". Kata Alice memperingati namun dengan mimik yang menggemaskan.


"Ha haha ..maafkan aku, aku hanya menebak karena baru kali ini aku melihat kalian sangat akrab". Katanya membuat Edgar memutar mata malas.

__ADS_1


"Kalian tidak saling menjalani hubungan kan?".


__ADS_2