
Pagi harinya dua pasangan yang tengah merasakan kebahagian itu masih nyaman dengan hangatnya selimut tebal dan saling berpelukan.
Rasa sakit hati Alice kian luntur dengan perlakuan Calvin, setiap sentuhan yang Calvin lakukan diperutnya akan menimbulkan rasa hangat dan bahagia tersendiri. Apakah buah mereka memang menginginkan orang tuanya tetap bersama?
Perlahan mata indah itu terbuka mengerjap pelan. Tatapannya langsung bertemu tatap dengan Calvin. Pria tampan itu sudah lebih dulu terbangun. Dan terlihat sudah sangat segar.
"Sudah bangun?". Kata Calvin lembut masih memeluk istrinya.
Alice hanya mengangguk masih mengambil kesadarannya.
"Kapan kau bagun?"
"Sekitar sejam yang lalu". Jawabnya masih menatap lembut wajah cantik alami dibawahnya.
"Maaf karena terlambat bangun". Jawab Alice merasa tidak enak dan ini lertama kalinya mereka tidur bersama lagi setelah empat bulan perang dingin
Calvin dengan hati-hati membantunya dan mengangkatnya.
"Eh..apa yang kau lakukan?" Alice terkejut saat Calvin tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan dia langsung mengalungkan tangannya dileher suaminya.
"Kau harus mandi, sayang". Jawabnya dengan seringaian.
"Aku bisa sendiri Calv". Jawabnya dengan bibir mengerucut. Sangat menggemaskan.
"No, aku akan memanjakan anak kita dengan memajnjakan Mommy yang suka marah ini". Katanya dengan senyum lebar.
"Jangan lupa kau yang membuatku marah".
Pria berbadan kekar itu menurunkan istrinya hati-hati dan mendudukkannya di atas kloset. Dia menggulung kemejanya sampai siku. Terlihat otot lengannya yang kekar.
"Kau mau apa?" tanya Alice heran dengan perlakuan suaminya.
"Tentu saja membantumu mand-".
"Tidak, tidak kau tidak akan melakukannya". Ancam Alice hawatir
"Tapi kau hamil kau harus hati-hati dan aku akan membantum-".
"Calvin aku bisa, Oke! Sekarang keluarlah tunggu aku melakukannya sendiri". Alice berdiri dan mendorong suaminya keluar pintu.
__ADS_1
"Kau yakin?"
"Hm tentu saja, jangan hawatir, Oke!".
Wakau berat namun mau tidak mau Calvin menurut. Dia mematung saat Alice menutup pintu kamar mandi. Namun didalam hatinya dia sangat bahagia. Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana bahagianya dia saat ini.
Dalam hati dia berterima kasih pada calon anaknya karena dengan kehadirannya, bisa dipastikan mereka tidak akan berpisah.
Setelah beberapa menit akhirnya Alice sudah keluar dengan penampilan yang jauh lebih fress dan cantik. Dia menggunaka kaos over size berwarna coklat panjang sebatas paha. Dia keluar dengan handuk yang masih diatas kepala.
"Kau tidak turun sarapan?" tannya masih melihat Calvin duduk dipinggir kasur dan kini sudah berdiri dan memberi satu kecupan di dahi.
"Aku menunggumu" jawabnya menuntun istrinya kemeja rias. Dan membuka handuk dikapala. Dia akan membantu mengeringkan rambut oanjang itu.
"Kau sangat manis, sekarang". Cibir Alice sebenarnya dari dulu Calvin memang selalu manis padanya. dia hanya sengaja menggoda.
"Tentu saja. Aku harus memanjakanmu".
"Karena aku hamil?
"Syang, jangan salah faham, aku akan selalu bersikap manis padamu, apalagi saat ini buah hati kita ada didalam". Dia lalu berjongkok dan mengecup gemas perut yang sudah sedikit menonjol itu. Ya, kandungan Alice mamang sudah memasuki 4 bulan. Tidak ada yang menyadari karena selama ini wanita itu selalu menggunakan pakaian yang over size namun selalu terlihat styles .
"Jadi kau memaafkanku?"
"Aku sudah memaafkanmu sejak hari itu".
"Maafkan aku, aku menyesal".
"Tidak masalah. Kau sudah jujur dan harusnya kita tidak membahasnya lagi".
Setelah selesai membenahi diri, Alice dan Calvin turun. Dilantai bawah sepasang mata tidak pernah berhenti menatap kehadiran sepasang suami istri ini. Ya entah jam berapa Edgar kembali dan pagi tadi dia tahu dari Maid kalau suami Nona mereka datang menjenguk. saat masuk semalam Edgar memang sudah curiga dengan satu mobil lain yang terparkir di halaman.
Alice dan Edgar bertemu tatap terlihat tatapan Edgar dingin dan penuh kecewa Alice bisa melihatnya.
"Silahkan duduk, Tuan,". Kata Thomas berdiri dan menyambut suami anaknya.
"Calvin tersenyum lebar, yang tidak pernah sebelumnya dia berikan pada Thomas "Panggil aku Calvin, anggap aku anak juga, aku suami dari putri cantikmu". Melirik Alice dan mengecup wajah itu tampa malu. Itu dilihat oleh Edgar dan tentu saja Arabella yang sejak tadi hanya melihat bagaimana tatapan Tuannya hanya diam.
"Maaf kan saya, tapi haya merasa tida-"
__ADS_1
"Aku tidak ingin ada penolakan, kau ayahku juga sekaramg".
Sepertihlnya memang suasana hati Calvin lagi bagus. Dia bahkan tidak memperdulikan tatapan Edgar padanya, walau tadi dia sempat melihat bagaimana Edgar mebatap istrihya. Tatapan itu seperti tatapan pria yang menyukai wanitanya.
"Duduklah kita sarapan" kata Alice dia sudah sangat lapar, dan dia memang sengaja karena dia tidak bisa melihat tatapan Edgar padanya yang sangat intens.
Diruang makan Calvin yang bahagia tidak bisa menyembunyikan perasaanmya. Dia bahkan memilihkan makanan yang menurutnya sehat untuk ibu hamil. Dia melayani Alice dengan telaten. Bahkan sarapannya belum dia sentuh sama sekali.
Itu membuat yang lain hanya diam melihat bagaimana seorang Calvin terlihat sangat manis.
"Sudah, aku bisa sendiri, dan makanlah sarapanmu sebelum dingin". Ucap Alice merasa tidak enak karena mereka pusat perhatian.
"Aku akan mengurusmu, kau dan bayi kita harus makan banyak dan sehat". Katanya membuat semua orang terkejut termaksud Edgar. Yang sejak tadi menahan sesak didadanya.
"Ha-hamil? Alice ?" Tuan Thomas yang mengatakannya, dia tahu Edgar tidak akan berani mengeluarkan suara jadi dia akan mewakili semua orang.
"Hm, putrimu yang manis ini akan segera menjadi Mommy". Calvin yang menjawab dengan antusias matanya terlihat berbinar.
Alice hanya tersenyum simpul dan sesekali melirik ke arah Edgar yang hanya diam ditempatnya.
Setelah sarapan selesai Edgar berdiri lebih dulu, yang kemudian disusul oleh Arabella. Namun belum jauh melangkah ternyata Calvin mengikutinya
"Boleh kita bicara sebentar". Suara Calvin membuat Edgar berbakik dengan senyuman simpul yang tidak ada yang tahu arti dari senyuman itu.
Arabella yang melihat keduanya dalam suasana yang tidak baik berjalan mundur ke kamarnya dia akan bersiap-siap karena pagi tadi Edgar tiba-tiba saja ingin kembali.
"Kita bisa bicara di taman belakang", Edgar memimpin dia yang lebih mengenal setiap sudut mansion ini dan Calvin sangat kesal mengetahui hal itu
"Maafkan saya Tuan Edgar, terlambat menyapa anda saya tidak menyangka kita akan bertemu kembali ditempat ini".. Katanya masih dengan senyuman.
"Dan saya tidak tahu bahwa anda adalah kakak dari istri saya". Calvin sengaja menekan kata kakak, dia tidak suka dengan tatatapan Edgar untuk istrinya.
Edgar masih diam namun tidak ada yabg tahu bagaimana badai itu sekali lagi merombak hatinya.
"Maafkan saya juga karena tidak sempat mengatakan hal itu, saya mengira itu tidaklah penting mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan". ucao Edgar masih tenang.
"Baiklah, selamat atas kehamilan Alice". setelah mengatakan itu Edgarbmelewati Calvin namun sebelum menghilang Calvin menghentikan langkahnya "Berhenti mengharapkan istri orang lain".
Edgar tidak berbalik, dia hanya tersenyum getir kemudian berlalu meninggalkan Calvin dibelakangnya.
__ADS_1