
Disinilah Alice dan Calvin sekarang didalam ruangan serba putih, Alice tengah berbaring menghadap layar didepannya, memperhatikan
gambar yang ditampilkan di layar yang dia sendiri sebenarnya tidak tahu jika sang dokter tidak menjelaskan. Calvin memperhatikan layar dengan mata berkaca-kaca.
Setelah menjelaskan semua bagian-bagian dari calon bayinya, dokter wanita yang masih terlihat sangat cantik itu menurunkan baju yang Alice kenakan kemudian membantu Alice untuk duduk dan mengikutinya.
“Jadi seperti yang saya jelaskan tadi bahwa calon
bayi tuan dan nyonya dalam keadaan sehat, berat badan normal, sejauh ini tidak ada yang perlu dihawatirkan”. Jelasnya membuat kedua calon orang tua itu mengangguk semangat.
“Apakah tidak berbahaya melakukan perjalanan jauh sekitar 3 atau 4 jam perjalanan darat?”. Kini Alice yang bertanya.
Dalam hati Calvin berdoa agar dokter didepannya
mengatakan sesuatu agar Alice membatalkan niatnya. “Aku tahu apa yang kau
fikirkan”. Bisik Alice pada Calvin membuat semuaminya hanya mendengus
“Melihat kondisi ibu dan bayinya, tidak masalah,
jika merasa lelah maka istrahtalah”. Penjelasan dokter itu membut Alice tersenyum
lebar tetapi tidak untuk Calvin yang harus merelakan kepergian istrinya.
Alice dan Calvin kembali, dengan mendapatkan banyak nasehat menjaga kandungan dengan baik. Kedua pasangan yang akan menjadi orang
tua itu lantas meninggalkan rumah sakit dengan perasaan bahagia.
“Apakah kamu kecewa, bayi kita lelaki”. Goda Alice
melihat suaminya hanya diam saja, dia tahu kenapa Calvin memasang wajah masam.
“Jangan menggodaku, mana mungkin aku tidak bahagia, laki atau perempuan dia anakku”. Jawabnya pasti. Alice memang sudah tahu,
Calvin masam karena mengetahui kepergian Alice yang tidak bisa ditunda, dia mulai tidak suka pada sepupu istrinya, karena tidak bisa menangani masalahnya sendri.
“Calv, kamu bisa datang menjemputku dua hari lagi, aku tidak bawa mobil”. Karena memang dasarnya istrinya keras kepala mau tidak mau Calvin mengiyakan saja, hanya dua hari setelah itu dia akan datang menjemputnya. Sebenarnya jika bukan karena ingin mengetahui fakta kenapa orang tuanya disingkirkan Alice tidak akan
repot untuk kesana, tetapi dia harus tahu kenapa pamannya melakukan ini padanya.
Setelah beberapa jam diperjalanan Alice dan Samuel akhirnya tiba di kediman orang tua Alice sore hari, tuan Thomas yang kebetulan
__ADS_1
akan pulang ke mansionnya tampak senang karena putrinya datang, namun juga
sedikit hawatir mengingat sekarang Alice tengah hamil.
“Oh cucuku sudah datang..”. kata tuan Thomas melihat Alice mendekat ke arahnya dengan bibir mengerucut.
“Ayah tidak menyambutku?:”
“Aku seorang kakek, maka yang harus lebih disambut adalah cucunya”. Jelas Thomas membuat Alice tersenyum lalu memeluk Ayah
anagkatnya.
“Aku merindukanmu”. Katanya melepas pelukan mereka dan melihat kearah Samuel dan memintanya menginap saja, agar besok bisa
langsung berangkat tampa menunggu lagi.
Samuel menyetujui karena dia juga sudah lelah, dia memasuki kamar yang dulu dia tempati sebelum memiliki apartemen sendiri karena
kerja kerasnya menjabat sebagai CEO pengganti. Tentu saja dia hanya menggunakan dana haknya. Diperusahaan yang Alice pegang sampai sejauh ini memang tidak ada terendus mengambil yang bukan haknya.
Sedangkan tuan Thomas yang awalnya kan kembali ke mansionnya karena merasa sangat kesepian mengurungkan niat.
“Kenapa harus pulang balik terus, disini juga rumah ayah”. Protes Alice karena orang tua didepannya selalu saja bersikap canggung.
biasa tuan Thomas tempati sangat sudah bosan, karena diruangan ini tuan Advinson menyimpan semua buku-bukunya, jadi siapapun akan bebas membaca.
“Terlalu besar jika ditempati sendiri”. Ia memang kenyataannya begitu rumah ini akan ramai jika Alice berkunjung, dan akan kembali sepi jika
Alice sudah kembali kerumah suaminya.
“Kalau begitu menikahlah dan punya anak”. Tuan
Thomas melotot karena mendapat jawaban diluar dugaannya. Alice yang melihatnya hanya tertawa.
Jika diperhatikan memang kedua orang itu seperti
layaknya ayah dan anak, Alice yang memang sudah sedari kecil mengenal tuan Thomas sudah pasti akan merasa aman karena tuan Thomas memang sosok ayah yang baik.
“Jadi ada urusan dikantor lagi”. Alice mengangguk
dia tidak mungkin mengatakn bahwa dia akan kerumah paman Antonio bersama Samuel.
__ADS_1
Malam semakin larut, setelah makan malam dan kembali mengobrol ringan tuan Thomas undur diri Karen merasa sudah lelah dan mengantuk, memang di usia renta seperti itu lebih banyak lelahnya.
Tinggallah Alice dan Samuel sekarang, sepupunya itu terlihat sangat tampan jika tidak dalam balutan jas yang membuatnya semakin kaku. Tapi Alice masih bingung karena belum juga melihat wanita disamping sepupunya.
“Apakah kau serius akan kesana?”. Tanya Samuel
sekali lagi, dia menyesal karena memberi tahu adik sepupunya dan mencoba mencegahnya untuk datang berkunjung ke kediaman Antonio, pasalnya paman dari sepupunya itu sedikit menyeramkan walau senyumnya sangat manis.
“Aku sudah memutuskan untuk datang, aku hanya ingin tahu alasan paman menyingkirkan orang tuanku”. Kemarahan tampak dimatanya, jika
saja dia tidak mengingat kedua orang tuanya yang ditemukan didalam jurang dia tidak mungkin saja akan melupakan dan akan menganggap semua murni kecelakaan.
Tetapi dia tidak bisa menutup telinga bahwa pamannya terlibat didalam. Jika ini karena harta bukankah pamannya sudah mengambil
sebagian besar anak cabang yang ayahnya miliki? Dan Alice hanya memegang perusahaan ini saja. Hanya satu karena yang lain sudah di alih namakan menjadi Antonio.
Tidak bisa dicegah lagi, ini memang salah Samuel
karena tidak merahasiaknnya, tetapi jika terus merahasiakan ini juga Alice akan
marah dan tidak akan memaafkannya.
Seperti yang sudah disepakati disinilah dua sepupu itu berada, didepan gerbang mansion mewah milik Antonio, dilihat dari luar saja
kemewahannya sudah tampak terlihat, paman Alice ini benar-benar memanfaatkan uangnya dengan baik.
Antonio yang berada ditaman belakang bersama Laura terkejut saat mendengar pengwalnya mengatakn seseorang bernawa Alice mencarinya
dan sudah berada diruang tamu menunggu.
Antonio dan Laura saling pandang setelah sama-sama siap Antonio meninggalkan Laura, dia yang akan menemui Alice sendiri melihat Laura
memang belum siap bertemu setelah mengetahui bahwa Alice memang keponakannya walaupun tidak ada ikatan darah.
Diruang tamu Alice yang ditemani oleh Samuel hanya duduk dengan tenang, namun siapa yang bisa melihat didalam hatinya Alice tengah
berperang dengan dirinya sendiri. Dia meremas ujung baju yang dia gunakan. Samuel melihatnya dan menggenggam tangan sepupunya untuk menguatkannya.
Derap langkah mendekat, jantung Alice semakin
berpacu dengan cepat, dia bisa saja langsung menyerang pamannya namun sekali lagi dia tidak akan gegabah. Begitupun dengan Samuel yang masih menunggu, walaupun dia memang melihat tingkah mencurigakan, lagi tidak mungkin anak
__ADS_1
buahnya akan memberi kabar palsu.