Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Kepergian Mala


__ADS_3

Calvin mengusap kasar wajahnya, dia kehilangan Alice sekali lagi. Dia berjalan dengan gontai keruangan Mala yang sudah terlelap karena pengaruh obat. Calvin hanya menghela napas, wanita yang pernah membuatnya tergila-gila itu ternyata menyadarkannya bahwa apa yang di milikinya di rumah jauh lebih indah.


Calvin membaringkan tubuhnya dia atas sofa. Menutup mata dengan legangnnya. Dia bahkan tidak terarik melihat anak Mala yang baru saja di lahirkannya.


“Alice ….” Lirihnya


Dalam beberapa menit kedepan Calvin sudah tertidur, ruangan yang mereka tempat sudah sunyi, bahkan di lorong rumah sakit di jam seperti ini juga sudah sangat jarang ada yang berlalu lalang kecuali dokter yang memang harus memeriksa pasiennya.


Beberapa hari kemudian Mala sudah bisa dipulangkan. Calvin mengurus semua administrasinya kemudian membawa Mala kembali bersama si bayi yang masih merah.


“Kau istirahatlah!” Calvin meletakkan semua yang Mala butuhkan di dalam kamar, sementara dia sudah harus kembali ke pabrik melanjutkan pekerjaannya.


Mala tentu saja sangat kesal karena semakin hari perhatian Calvin padanya semakin berkurang.


“Apa begini sikapmu padaku Calvin?” tanya Mala yang sudah sangat jengah karena Calvin lebih banyak menghabiskan waktu di pabrik.


“Apa maksudmu. Aku bekerja,” Calvin acuh sambil meneguk habis air minumnya.


“Bekerja apa? Kau hanya menggosok besi berkarat itu Calvin, tidak ada hasil apapun. Sampai kapan?”


Mala jengah ini sudah berbulan-bulan tetapi pabrik yang katanya akan membawa mereka pada keberhasilan nyata tidak membuahkan apapun. Tetap berkarat dan tidak mugkin beroperasi. Menyebalkan.


“Kalau kau lelah kau bisa kembali ke kota. akuvakan tetap disini.” Calvin meninggalkan Mala begitu saja dan masuk ke dalam kamarnya.


Mereka tidur terpisah semenjak Mala mengandung.


Tidak ada hal romatis seperti yang Mala impikan selama ini. Calvin miskin dan juga tidak lagi mencintaiya, lalu untuk apa dia bertahan?


“Calvin. Apa kau benar-benar tidak mencintaiku lagi?” tanya Mala, dia harus memastikan satu hal untuk memuatnya tetap berada di sisi Calvin.


“Aku mencintaimu.” Jawabnya singkat.


“Cinta tapi kau tidak menatapku. Bahkan kau tidak lagi pernah ingin memelukku, apa itu cinta?”


Calvin memijat kepalanya. “Sebenarnya apa maumu, Mala? Aku mencintaimu apalagi? Bertahanah sebentar sampai aku bisa mewujudkan mimpiku, heum,”

__ADS_1


“Dan setelah itu kau akan kembali pada Alice? Kau jahat sekali.”


Calvin hanya diam. Dia memang ingin mencari Alice kembali, tetapi apa mereka akan bersama setelah penghianatan yang dia lakukan?


“Sayang … mengertilah, dia membawa anakku dan aku tidak akan membiarkan itu,”


“Hanya anak Alice saja yang kau pikirkan bagaimana dengan ana –,”


“Nyatanya dia bukan anakku Mala. Sekarang katakan padaku, anak siapa itu?”


“CALVIN!!”


Kesal sekali karena Calvin terus saja meningkari kehadiran anaknya. Mala keluar dari kamar Calvin dan masuk ke kamarnya bersama bayi kecilnya.


Seketika dia merasa sangat kesal karena kehadiran bayi itu bukannya membuat Calvin semakin cinta padanya tetapi sebaliknya.


Sepanjang malam baby Melisa terus saja menangis tetapi Mala seolah tuli karena rasa kesalya pada Calvin mengalahkan kewarasannya.


Calvin yang berada di kamar sebelah terus terangu karena sejak tadi bayi Mala terus saja menangis.


“Mala, bagunlah, anakmu menangis.” Calvin menggoyangkan tubuh Mala mencba membangunkannya.


Calvin menggeleng, dia melihat bayi yang terus saja menangis. Cantik bahkan sangat menggemaskan. Ini pertama kalinya Calvin melihatnya lama. Hatinya mendadak terenyuh.


Dengan sabar Calvin mengurusnya, mengganti popok dan membuatkan susu sesuai ukuran. Mala yang diam-dia mengintip dari balik pintu tersenyum lega.


“Dia anakmu Calvin ….” Lirihnya.


Mala kembali ke dalam kamarnya karena tadi melihat ponselnya menyala. Dengan diam-diam dia membaca dan menggigit bibir. Dia semakin terkejut saat Calin iba-tiba masuk kedalam kamar mengantar Melisa yang sudah tertidur di gendongannya


“Terima kasih,”


Mala mengatakan itu saat Calvin sudah meletakkan baby Melisa di atas box kecil di sebelah ranjang sang ibu.


“Jika tidak ingin merawatnya bawa pada ayahnya,” Mala mengigir bibir, air matanya mengalir. Dia menyesali perbuatannya tetapi tidak semua adalah kesalahannya. Calvin juga bersalah dalam hal ini.

__ADS_1


Hari-hari mereka lewati dengan sama-sama seperti orang asing. Calvin yang pergi pagi lalu kembali saat malam hari, hingga sampai akhirnya Mala memutuskan untuk kembali ke toka.


Sungguh dia tidak akan mampu hidup bersama pria yang tidak pernah melihatnya lagi.


Calvin membiarkan saja, perasaannyapada Mala memang tiba-tiba lenyap dengan kepergian Alice. Dia menyesal, tetapi apakah masih berguna. Hidupnya hancur dan dia terlihat sangat memperihatinkan.


“Sayang … maafkan aku,” batinnya ambil memejamkan mata. Dia lelah karena seharian harus berjuang sendiri di pabrik yang dia yakini juga tidak akan membuahkan hasil dalam waktu dekat.


Di tempat yang berbeda, pria tampan dengan rahang tegas tengah bermain bersama bayi yang berusia kurang dari 6 bulan. “Anak Daddy yang menggemaskan,”


Dia Edgar, dia kembali ke Indonesia setelah mengetahui semua yang Alice alami dari Samuel. Ingin sekali pria itu menghajar langsung pria yang sudah berani melukai hati wanita yang dia cintai tetapi lagi-lagi Alice mencegahnya.


“Jangan cemburu. Dia hanya menganggap anakku sebagai keponakan, tetapi kakak memang berlebihan,” Alice mengatakan itu dengan tidak enak hati pada Arabella.


“Ck, jangan khawatir. Aku tidak akan cemburu lagi. Tuan memang seperti itu, aku mungkin akan mundur sekaranng,” ucap Arabella membuat Alice semakin tidak enak hati.


“Apa maksudmu? Apa karena aku? Bella …


dengarkan aku!” Alice memegang tangan sahabatnya dengan erat, kemudian melanjutkan, “Kalau kau bicara seperti itu lagi, aku berjanji akan pergi menjauhi kalian semuan,” kata Alice penuh keyakinan. Tidak masalah baginya pergi asal sahabat dan kakakknya bisa hidup bahagia.


“Dan tuan akan membunuhku.” Bella mendegus pelan, “Dia tidak akan tertarik padaku, aku tidak apa jika akhirnya kalian bersama, aku serius.”


Alice berdecak, kemudian menghembuskan napas pelan dia menatap Arabella, “Maafkan aku, harusnya –,”


“Sudahlah kita tutup pembahasan ini, kau tunggu disini aku harus bermain bersama bayiku.” Arabella meninggakan Alice tanpa menunggu persetujuan wanita yang suka sekali menghilang itu.


Alice bisa melihat bagaimana Arabella yang terlihat sangat tulus pada putranya Arkan. Bayi mungil yang lahir tanpa melihat wajah sang ayah.


“Kau lamunkan apa?” tanya Edgar yang sudah mennggakan Baby Arkan bersama Arabella.


“Tidak ada. Kenapa meninggalkan kekasihmu,”


Edgar duduk di sebelah Alice tatapan mereka tertuju pada titik yang sama, pada Arabella yang tengah bermain bersama baby Arkan.


“Aku tidak akan menikah, lalu bagaimana bisa aku memutuskan untuk memiliki kekasih?” Alice menoleh dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Edgar melanjutkan, “Jika aku menjadikan Bella kekasih, bukankah sama saja aku akan membuka luka untuknya. Aku tidak ingin menikah!”


“Kenapa?”


__ADS_2