
Keesokan harinya, Alice akan sibuk seperti biasanya, memeriksa laporan yang dikirim Samuel padanya. Dia duduk disandaran kasur, dengan kaki lurus kedepan dan tangan sibuk memegang tablet.
Alice melirik Calvin yang mengeliat dengan mata tertutup. Setelah itu sebelah tangannya mencari-cari sesuatu disampingnya
Sampai tangan itu akan menyentuh perut, Alice menepisnya dan membuat si pemilik tangan membuka mata.
"Perhatikan tangan anda Tuan". ucap Alice tatapannya masih lurus ke tablet ditangannya.
Calvin menggeser tubuhnya lebih dekat, dan memeluk perut itu dengan gemas "Anak Daddy, jangan galak seperti Mommy ya". Calvin berbicara pada anaknya, mengabaikan tatapan Alice yang menatapnya tajam.
"Bagunlah, aku sudah menyiapkan air mandimu". Menatap ke arah Calvin yang ogah-ogahan mendengar.
"Calv, jangan bilang kau tidak akan kekantor lagi? Sudah tiga hari".
"Sayang....".
Alice hanya menatap tajam ke arah Calvin, entah kenapa pria itu tidak ingin kekantor dan beralasan sakit kepala. Karena mendapatkan tatapan membunuh, Calvin akhirnya turun kasur dan beranjak ke kamar mandi.
Memang benar, sehabis mandi rasanya memang jauh lebih segar. Calvin keluar dengan memakai kaos berwarna putih dan handuk melilit dipinggang.
Tangannya mengacak-acak rambut setengah keringnya. Membuat Alice meneguk ludah. Suaminya sangat tampan jika penampilannya santai seperti ini.
"Aku tahu kau pasti tergoda, kan?" goda Calvin menaik turunkan alisnya.
"Tidak". Kilahnya dan langsung masuk ke kamar mandi
Calvin terkekeh, dia bisa melihat wajah merah istrinya, wanita itu pasti merindukannya, tetapi dia malu meminta.
Beberapa menit kemudian, Calvin sudah berada dimeja makan, masih menikmati teh buatan Hans, ia mendengar suara hell dibelakangnya dan menoleh.
Pria tampan itu menautkan alisnya memperhatikan Alice dari atas sampai bawah "Sayang, jangan bilang kau akan kembali keperusahaanmu lagi? Kau tidak lelah baru saja tiba?" Omelnya berdiri membawa wanita hamil itu duduk.
Alice tidak menjawab, dia meminum susu di meja makan yang sudah hampir dingin. Calvin gemas karena diabaikan lagi.
"Alice Advinson..!".
Memdengar namanya disebutkan sangat jelas membuat Alice menoleh dan menatap suaminya.
"Kau akan kembali, Kau lupa kau hamil?" Calvin sangat marah namun dia berusaha menahan tidak meninggikan suaranya.
"Aku akan ke perusahaan memang".
Calvin berdecak, dia sudah sangat marah. Tidak bisakah wanita ini diam saja dirumah? Hartanya tidak akan habis hanya untuk menafkahi anak istrinya.
"Aku tahu, kau CEO nya, kau dibutuhkan, tetapi sayang-"
__ADS_1
"Aku ke perusahaanmu". Jawab Alice santai dan kembali memakan makanannya.
"Aa-apa?"
"Hm, kita akan kekantor bersama, ke kantormu".
Calvin bingung, ada apa? Ini pertama kalinya Alice kekantornya
"Serius?". Yang diamgguki mantap oleh Alice.
Benar saja setelah sarapan Calvin membawa Alice ke kantornya, Calvin tentu saja sangat bahagia, dia akan bersama istrinya sepanjang hari. Senyumnya terus saja mengembang sedari tadi.
"Hentikan senyumanmu, Calv, kau akan tebar pesona pada siapa?".
"Harusnya kau tahu, aku bahagia".
"Bahagia? Kenapa?"
"Jangan pura-pura, aku pernah melihat nilai-nilaimu sekolah dan kau sangat pintar".
"Oke baiklah, sekarang hentikan senyummu atau kau memang sengaja agar semua wanita berlari padamu".
"Kau cemburu?".
Alice mengeluarkan kepalanya melihat seberapa tinggi gedung didepannya, tidak ada komentar. Dia keluar mobil saat Calvin membukakan pintu.
Sebagian yang melihat mereka diam-diam membicarakan kecantikan Alice, mereka yang tidak pernah menghadiri pesta besar tidak akan mengetahui siapa wanita yang berjalan bersama bosnya.
Tetapi bagi petinggi lain mereka akan sadar bahwa wanita cantik ini adalah istri dari CEO tampan disampingnya.
"Kenapa memakai sepatu setinggi itu?" gerutu Calvin saat mereka berdua akan memasuki lift. Dia baru sadar jika istrinya hamil saat tidak sengaja memperhatikan pakaian istrinya.
Alice menggunakan dress sepanjang atas lutut bercorak asal hijau merah dengan ikat belt yang dipasang diatas perut atas untuk menyangga dada. Yang dipadukan dengan hell berwarna merah.
"Aku harus cantik, jadi aku memut-"
"Jangan memaksa, kau akan selalu cantik dimataku".
Alice malas menjawab, dia hanya ingin segera sampai diruangan suaminya dan melepaskan hellnya.
Benar saja tiba diruangan Alice mendudukkan diri disofa dan melepaskan hellnya.
"Oh, sangat melelahkan"
Alice meluruskan kaki di sofa, berusaha memijat betisnya yang sangat lelah. Calvin melihat itu lantas melangkah mendekati istrinya dan duduk di pinggiran sofa dekat kaki sang istri.
__ADS_1
"Bagaimana, sudah tidak sakit?". Katanya membantu memijat, yang langsung diberi semyuman Alice.
Beberapa saat kemudian, ketika suami istri itu tengah dalam suasana hati yang baik, pintu terbuka, Alice menoleh kebelakang saat melihat siapa yang masuk tampa mengetuk pintu.
Calvin berdiri setelah melihat siapa yang datang. Alice yang melihat suaminya berdiri, memutar diri dan menurunkan kaki ke bawah, dia tidak berdiri hanya diam melihat apa yang akan terjadi setelah ini.
"Kau lupa cara mengetuk pintu, Laura?"
"Tuan, maafkan saya". tatapan Laura beralih kearah Calvin yang sebelumnya menatap tidak suka pasa Alice.
Calvin melangkah ke kursinya dan duduk dengan tatapan datar.
"Katakan?".
"Tuan, Luce bilang-"
"Kau tidak salah dengar, aku memang memindahkanmu ke perusahaan cabang di luar kota".
Alice yang mendengar itu hanya menautkan alis, dia berdiri dan memakai sandal plat yang sudah disediakan Calvin tadi.
"Kau masih memperkerjakannya, Calv"..
"Sayang, mengertilah, aku janji dia tidak akan muncul dihapanmu". Alice berdecak dan menatap Laura dalam.
Laura yang menangkap wajah kesal Alice memanfaatkan situasi. "Baiklah Tuan, saya bersedia, saya percaya Tuan tidak akan memecat saya".
"Tidak ada kepastian untuk itu".
Laura tersenyum kecut, tapi dia tidak akan berhenti. "Saya mengerti Tuan, terima kasih". Laura membungkuk. Kemudian menatap Alice tajam.
"Nyonya, terima kasih, saya berjanji tidak akan melakukann kesalahan lagi". Katanya ambigu.
Laura membungkuk dan berpamitan pada Calvin, dia melangkah akan keluar, namun saat dia dan Alice sudah saling berdekatan, karena posisi Alice berdiri di dekat pintu.
Laura mencondongkan sedikit bahu agar lebih dekat dengan Alice "Jaga suamimu, atau aku akan merebutnya darimu". Bisiknya ditelinga Alice, terlihat Alice hanya mengepalkan tangan, Laura melanjutkan "Lihatlah, bahkan untuk memecatku saja dia tidak bisa, kau tahu artinya?"
Setelah mengatakan itu dan melihat bagaimana wajah Alice yang memerah, Laura berlalu. Meninggalkan pasangan suami istri itu dalam keheningan.
Calvin mendekati istrinya yang terlihat sangat marah, entah apa yang Laura katakan tadi. Calvin hanya melihat bahwa Laura membisikkan sesuatu.
"Sayang, kau baik-baik saja?"
Alice mengangguk, dan tersenyum, dia tidak menyangka kedua saudara itu benar-benar membuatnya pusing.
'Aku akan mengikuti permainan kalian, paman'
__ADS_1