Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Bab 38


__ADS_3

Alice melerai pelukan mereka, menatap lamat wajah calon ayah anaknya, di dalam hatinya dia sangat terluka, sungguh sangat sakit rasanya menjadi dirinya. Mendapati suaminya tidur dengan wanita lain di kamar pengantin mereka di ulang tahun pernikahan, dan sekarang sekali lagi prianya – bahkan untuk mengakuinya saja hatinya seakan remuk tidak tersisa.


“Kenapa kau terlihat sangat berlebihan? Aku sudah biasa kembali sendiri. Lagi, kak Samuel yang mengantarku,” ucapnya tenang setenang air yang mengalir.


“Kau mengandung anakku, bagaimana aku tidak cemas dan khawatir?” ujarnya tidak sepenuhnya berbohong.


“Benarkah? Hanya karena aku mengandung anakmu? Bagaimana jika ada wanita lain juga yang mengandung anakmu selain aku?” tanya nya dia ingin melihat sepintar apa calon ayah anaknya menjawab.


Benar saja Calvin tidak bisa mengatakan apa-apa, bibirnya mengatup lidahnya kelu.


“Atau jika aku tidak hamil anakmu apakah kau akan meninggalkanku dan bersama wanita yang bisa memberikanmu anak?” Alice terus saja berbicara membuat Calvin semakin glagapan.


Hatinya nyeri tidak pernah dia bayangkan pertanyaan ini akan dia dengar secepat ini.


“Apa maksudmu? Jangan mengatakan hal yang tidak baik, hem. Aku mencintaimu sangat mencintaimu, jangan lagi berbicara seperti itu,” Calvin kembali memeluk istrinya, hatinya sakit saat Alice yang mengatakannya, apakah dia sudah salah mendepenisikan perasaan nya selama ini.


Alice hanya diam dalam pelukan suaminya, tidak membalas ataupun merasakan apa-apa, hatinya sudah terlanjur hancur, lalu dia akan merasakan cinta seperti apa jika hatinya saja sudah tidak berbentuk?


“Sudah, ayo kita turun makan, aku sudah memasak untukmu, kau juga bisa membawa nanti ke kantor,” ucapnya setelah melerai pelukan mereka dan berdiri membiarkan Calvin duduk diam melihatnya yang terlihat berbeda.


Alice keluar dari kamar membiarkan Calvin sendiri dengan pikirannya, entah dengan perasaan apa yang dia rasakan dia sudah tidak lagi peduli. Hatinya membatu.


Dia menuruni tangga dengan hati-hati dan berjalan ke dapur dimana dia sudah meminta pelayan menyiapkan satu rantang penuh untuk Calvin. Dia sengaja membuatnya penuh karena tahu bahwa Calvin akan memakannya dengan seseorang.


“Nyonya, apakah ini sudah cukup?” tanya Hans menunjukkan bayaknya isi rantang, Alice memperhatikan lalu mengangguk dia meminta lauk dan dagingnya di tambahkan.


“Apa Tuan akan lembur Nyonya?” karena dia baru saja melihat Tuannya datang lalu sekarang sudah diminta membuatkan bekal sebanyak ini.


“Hem. Tuanmu akan lembur untuk beberapa hari ku pikir. Sudah, jangan membahas ini untuknya selesaikan itu dan panggil Tuanmu untuk turun bergabung,” Hans mengangguk, lalu naik ke lantai atas memanggil Tuannya.


Alice hanya menatap rantang penuh makanan itu dengan tatapan datar. Kemudian sudut bibirnya terangkat sedikit, sangat samar sehingga tidak akan ada yang menyadari meski mereka di meja yang sama.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, Alice mendengar suara sepatu Alvin semakin mendekat ke arahnya. Calvin sudah mandi dan berganti pakaian. Kemeja dark dan celana hitam serta tatanan rambut yang selalu membuatnya terlihat tampan serta wangi parfum kesukaan Alice.


Baru saja Calvin akan mengecup kepala istrinya Alice sudah menarik tangannya pelan dan memintanya untuk duduk, semakin membuat Calvin bingun dan salah tingkah.


“Duduklah, ini sudah siang dan aku tidak ingin kau terlambat,” ucapnya menuangkan nasi dan lauk di atas piring Calvin. Tatapannya datar tetapi bibirnya tetap tersenyum. Calvin cukup Khawatir.


“Sayang ada masalah di kantormu atau kau merasa kurang sehat?” tanya Calvin, di balik rasa takutnya dia juga merasa cemas.


“Eum. Tidak ada masalah, aku sehat. Makanlah!” katanya enggan menatap mata Calvin yang sekarang membuatnya semakin terluka.


“Jika tidak enak badan, kita bisa kerumah sakit, aku bisa meminta sekretarisku yang mengurus semuanya,”


Alice menggeleng, dan mengatakan bahwa tidak terjadi apapun, bahkan dia menampilkan senyum tulus untuk membuat Calvin percaya ucapannya.


Mereka makan dengan diam, hanya suara sendok yang tidak segaja berbenturan dengan piring saja yang sesekali terdengar. Rasa bersalah menyelimuti Calvin entah kenapa dia merasa bahwa dia sangat takut sekarang.


Tetapi jika dipikirkan apa yang harus dia takutkan, dia mencintai Mala lebih dari dia mencintai Alice, apakah karena Alice hamil? Benarkah jika karena itu? Bagaimana jika benar Mala juga hamil?


Calvin tidak ingin memikirkan apapun yang tidak mungkin akan terjadi. Dia yakini hatinya bahwa Alice tidak akan tahu keberadaan Mala maka pernikahannya aman serta Mala kekasihnya juga aman.


“Baiklah. Aku lelah, aku akan naik ke atas lebih dulu,” Alice membuka percakapan setelah mereka selesai makan.


“Mau ku antar?”


“Tidak perlu. Ke kantorlah ada yang menunggumu disana,” ucapan ambigu Alice membuat jantung Calvin tidak aman.


“Oh ya, kau pulang atau tidak nanti?” Alice berbalik dengan senyumannya


“Mungkin tidak, tapi aku akan kembali besok paginya untuk menemuimu, kau tidak apa-apa?” tanya Calvin cemas.


“Tidak masalah, tidak ada Laura. Aku tidak hawatir dengan karyawanmu yang lain,” lagi-lagi ucapannya ambigu.

__ADS_1


“Rantang makananmu sudah berada di mobil. Makan dengan baik, hem.” Setelah mengatakan itu Alice berlalu dengan wajah datarnya.


Ingin sekali dia mengakhiri ini tetapi dia tidak bisa melakukannya sebelum umpannya di makan. Oh sungguh sial. Berpura-pura kuat padahal rasanya sangat sakit.


Calvin meninggalkan mansion dengan perasaan aneh. Dia merasa bahwa dia sudah ketahuan tetapi Alice hanya berpura-pura tidak tahu.


Ataukah ada sesuatu yang tidak dia ketahui selama meninggalkan istrinya, atau mungkinkah Edgar pria itu kembali ingin masuk dalam hubungan meraka.


“Shit!!”


Calvin terus bermonolog di dalam hati sampai dia tidak menyadari sudah berada di depan pintu apartemen Mala. Wanita yang sangat dia sayangi selama ini. Mala menyambutnya dengan sayang, mencium bibirnya dan memeluknya dengan erat.


Dia tidak akan pernah puas. Karena mereka berpisah sangat lama.


“Bawa ke dapur,” katanya lembut memberikan rantang yang Alice siapkan.


“Ini apa?” mengangkat dan membawanya masuk.


“Makanan yang Alice buat, itu enak, kita makan itu nanti,” Calvin membuka dasinya dan duduk di sofa,


sementara Mala yang melihat dan mendengar bahwa rantang makanan yang di bawanya adalah buatan istri Calvin membuatnya sakit hati. Dia memaku dan enggan membawanya masuk.


“Aku tidak mau makanan ini,” Mala kembali dan meletakkan itu di atas meja di depan Calvin.


“Kenapa?”


“Aku bilang tidak mau ya tidak mau Calvin!!” Mala berteriak tidak suka membuat Calvin tidak mengerti, dan langsung memeluknya.


“Hei ada apa?” tanyanya lembut.


“Aku tidak mau memakan, masakan istrimu, bisa saja dia meracuniku dan membunuhku karena kau lebih mencintaiku,” kening Calvin mengkerut tentu dia tidak suka dengan apa yang Mala katakan.

__ADS_1


“Tidak mungkin sayang, itu makanan untukku, tidak mungkin dia akan meracuniku, aku tahu dia sangat mencintaiku sekarang,” ucapnya yakin.


“Tapi entah kenapa sekarang aku merasa tersesat di dalam hatinya, dia memenjarakanku dan tidak memberikan sinar apapun untukku,” batinnya dalam hati karena melihat tatapan kosong istrinya untuknya.


__ADS_2