Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Bab 23| Aku iri


__ADS_3

Matahari bersinar sedikit trik hari ini, masih jam tujuh pagi tetapi sudah bisa terlihat sangat terang dan hangat. Alice yang sudah bangun sejak dini hari tengah berada di balkon kamarnya, bersandar dengan kaki diluruskan kedepan.


Sudut bibirnya terangkat sedikit, sebuah senyuman tercetak disana. Matanya masih dipejamkan, dia ingin menikmati hangatnya cahaya matahari yang menerpa seluruh tubuhnya.


Sebelah tangannya berada diatas perut dan satunya bertengker di atas keningnya.


Usapan demi usapan diatas perut agak buncit itu membuatnya semakin nayaman. "Harus aku apakan wanita itu". Alice masih dengan senyumannya, entah apa yang sedang dia fikirkan sekarang.


Hingga beberapa menit dia masih dengan posisi itu, sampai dia mendengar derap langkah mendekat ke arahnya, dia menajamkan telinga guna untuk mengetahui langkah kaki siapa itu.


"Kakak duduklah". Tampa membuka matapun Alice akan tahu.


Edgar mengeryitkan kening, karena melihat Alice yang memejamkan mata tetapi tahu bahwa itu dirinya, tidak menunggu perintah selanjutnya Edgar duduk di bangku sebelahnya. Dan di tengah-tengah bangku itu terdapat meja bundar, Alice meletakkan ponselnya disana.


"Apakah dia baru saja menelpon Calv". Batinnya.


"Al-" Edgar tidak tahu harus mengatakan apa sekarang, semuanya terasa berat, tetapi tidak mungkin juga dia akan membebani orang lain juga.


"Ya kak Ed?" Alice membuka mata, menoleh sebentar ke arah Pria yang pernah dia cintai itu. Lalu kembali memejamkan mata. "Katakan saja, kenapa kakak tiba-tiba jadi pendiam?". Katanya dengan tawa kecil walau sebenarnya dia merasa canggung.


"Aku akan kembali siang nanti, aku-"


"Katakan saja, kakak akan memberi tahu apa padaku?:


Menghela nafas dan menghembuskannya pelan "Maafkan aku karena pernah menyimpan rasa untukmu, aku mulai menyadari bahwa sampai kapanpum aku berharap jika tidak ditakdirkan bersama maka akan sia-sia saja".


Alice mendengar dengan seksama, dia kembali.membuka mata dan menoleh menatap wajah tampam didepannya, pria yang membuat hatinya terkunci begitu lama, hingga tidak mengizinkan siapapun masuk kedalamnya.


"Sampai kapan kakak akan minta maaf, tidak ada yang salah diantara kita. Takdir memang tidak berpihak". Jawab Alice dengan kekehan.


Edgar tahu arti tawa itu, dia hanya membalasnya dengan senyuman. Mau diapa juga sudah berlalu. Benar kata Alice semua itu sudah berlalu sekuat apapun kita berjuang untuk kembali kesana tidak akan pernah mungkin.

__ADS_1


"Jangan terlalu menutup hati". Edgar menautkan alisnya, tidak mengerti arah pembicaraan Alice


"Bella gadis yang baik, kakak tidak akan mendapatkan wanita lain sebaik dirinya". Alice menjawab, seolah tahu apa yang Edgar fikirkan.


"Kau benar, dia memang sangat baik". Edgar menjawab apa adanya, Arabella memang baik dan cantik. Tapi tidak secantik Alice.


Waktu semakin berputar, cahaya yang tadinya hangat sudah terasa panas, mereka hanya mengobrol biasa tetapi lupa dengan waktu.


Merasa sudah lelah bersandar Alice menegakkan tubuhnya dan memandang ke arah Edgar yang sejak tadi hanya menatao Alice yang sudah tidak melihat ke arahnya lagi.


"Turunlah sarapan, karena ini sarapan terakhir kita". Setelah mengatakan itu Edgar berlalu meninggalkan Alice yang masih duduk memandang punggung kokoh itu menghilang.


Mengehmbuskan nafas panjang Alice kembali mejatap lurus kedepan "Sudah masa lalu kak, harusnya kau juga sudah bisa merelakan perasaanmu". Gumamnya lirih, dia berdiri dan berjalan masuk kamar, dia akan segera bersiap juga.


Diruang makan sudah ada Edgar, Bella, Tuan Thomas dan juga Samuel, ya Samuel datang beberapa menit yang lalu karena Alice memanggilnya, walau fakta bahwa Samuel lebih tua darinya, tetap saja dia akan tetap dibawah Alice karena sepupunya itu adalah pimpinannya.


"Waw, Edgar tidak ku sangka bahwa kau memiliki kekasih secantik dia". Samuel tidak berkedip menatap wanita cantik di depannya membuat Bella risih.


Samuel mendengus, baru menatap saja tidak boleh. Dia ingin bertanya siapa nama wanita ini, tetapi dia tidak yakin akan diberitahu oleh pria kaku disebelah Bella


"Namanya Arabella, kau boleh memanggilnya Bella". Seolah tahu apa diotak Samuel.


"Wow,,wow kau cenayang, Ed?".


"Diamlah, siapapun akan bisa menebak benar jika melihat ekspresimu". Samuel berdecak kesal, memang kenapa dengannya, apakah dia sebodoh itu?


"Kak Sam, kau sudah lama menunggu?" Bella muncul dengan pakaian cukup rapi, warna biru pekat memang sangat cocok untuk karakternya. Edgar tidak berhenti memandang kearahnya sehingga tiga orang di meja makan sibuk dengan fikirannya masing-masing.


Alice melangkah sangat anggun, polesan di wajahnya tipis, bibir tipisnya berwarna nude bercamour merah. Jangan lupakan perut nya yang sudah mulai terlihat jika diperhatikan.


"Ekhem". Samuel berdehem karena Edgar belum juga mengalihkan pandanganya ke arah Alice yang sudah duduk disebelahnya.

__ADS_1


"Sampai kapan kau akan menatap sepupuku, Ed? Kau tidak memikirkan perasaan kekasihmu?" Samuel sudah mulai kesal, karena Edgar seperti akan memakan Alice. Kasihan sekali jika cinta tidak bisa bersama, maka akan bernasib seperti Edgar ini.


Arabella sejak tadi hanya diam, memaksa tersenyum karena sejujurnya hatinya sangat tidak baik-baik saja melihat bagaimama Edgar tampa berkedip menatap Alice.


Tangannya meremas gaun yang dia kenakan untuk mengurangi rasa kesal dihatinya. Dia kesal pada dirinya, bukan pada Edgar apalagi pada Alice.


"Alice kau beruntung, kau mendapatkan segalanya tampa mencari, tidak sepertiku yang harus melakukan banyak hal untuk mendapatkan impian kecilku". Batin Arabella menatap Alice yang tersenyum padanya dan dia juga berusaha membalasnya.


"Kau tersenyum saja, membuatku yang wanita juga suka, lalu bagaimana dengan mereka para pria? Aku iri padamu". Lanjutnya masih membatin.


"Bella,, hei Arabella?" panggil Alice mengibaskan tangannya dari jarak jauh, dia bisa melihat bagaimana rasa kecewa dimata Bella namun sengaja wanita itu tutupi.


"Eh,,Oh maafkan aku karena melamun"..Jawabnya kikuk. Tuan Thomas yang berada ditengah-tengah mereka juga menyadari ada yang salah disini.


Sudah lama dia tahu bahwa putranya menyukai Alice, bahkan dia juga mendengar bahwa Alice juga memiliki perasaan yang sama waktu itu.


Jika Alice bisa melupakan putranya dengan cara menikah, dia yakin Edgar juga bisa. Bukankah itu solusi yang baik untuk mereka.


Tuan Thomas memandang Arabella yang tidak kalah cantik dari Alice dia juga bisa merasakan bahwa gadis ini baik, ya sudah saatnya Edgar memiliki keluarga sendiri. Dia akan membicarakan ini nanti.


Setelah selesai sarapan Alice dan Samuel mengarah kebruang kerja Ayahnya yang sudah menjadi ruang kerjanya sekarang.


"Jadi, kau akan kembali hari ini?" Tanya Samuel pada adik sepupunya yang langsung diangguki Alice


"Kakak bisa mengurusnya kan?".


"Tentu saja, walau sebenarnya aku tidak menyukai pekerjaan ini". Alice tergelak, "masih saja mengeluh". Batinnya


"Kau mau ku antar? Bukankah kau hamil? Bukannya itu berbahaya?" Cerca Samuel


"Tidak perlu, kakak harus bekerja, ingat!, lagi aku sangat sehat, aku bisa istrahat dimanapun jika lelah".

__ADS_1


__ADS_2