
Setelah mandi Calvin keluar dengan penampilan yang jauh lebih segar. Rambut setengah keringnya yang masih meneteskan sedikit air membuat ketampanannya semakin bertambah. Di atas kasur sudah terdapat pakaian ganti. Entah sejak kapan istrinya menyiapkannya. Karena setelah melihat sesekliling wanita manis itu sudah tidak ada lagi disana. Terdapat sebuah senyuman manis di bibir Calvin, hatinya kembali menghangat. istrinya kembali.
Setelah berganti pakaian, dia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia sangat lelah, seharian berkeliling melakukan pertemuan ini dan itu. Dan tidak menunggu lama dengkuran halus terdengar. Calvin tertidur.
"Calv-...." Alice masuk kamar dan akan mengajak suaminya makan tetapi saat melihat pria yang masih menjadi suaminya itu, Alice hanya terdiam memaku, kemudian berjalan dan duduk disamping suaminya. Ditatapnya wajah tampan itu. Bulu mata panjang dan bibir tebal.
"Andai saja kau tidak menghianatiku, sudah pasti kita tidak secanggung ini". Alice bimbang saat ini. Sudah satu bulan dari kejadian itu dan sisa lima bulan lagi, maka keputusan itu akan terjadi. Entah nantinya dia akan pergi atau sebaliknya.
Menghela nafas panjang kemudian menatap perut ratanya, mengelusnya perlahan, ada perasaan haru dan juga sedih bersamaan. Dia terharu karena akhirnya yang mereka nantikan sudah berada di perutnya. Ya Alice tengah mengandung muda. Tetapi dibalik itu dia juga sangat sedih, kehadirannya membuat Alice dilema. Bagaimana jika setelah lima bulan dan ternyata mereka harus berpisah? Bagaimana nasib bayinya? Haruskan bayi sekecil tu lahir tampa ayah? Dan Alice tahu bagaimana rasanya tidak memiliki orang tua.
Tetapi, dia juga tidak bisa memaksa untuk tetap tinggal. Suaminya pernah tidur bersama wanita lain, entah dia dijebak atau memang tidak, tetap saja dia tidak bisa menerima.
Tampa terasa air matanya jatuh dipahanya, dia segera menghapusnya dan berniat akan turun kedapur, tetapi tangannya di cekal. Alice menoleh dan bersitatap dengan Calvin. Entah sejak kapan lelaki itu bangun. Apakah tangisannya membuat Calvin bangun? Dia bahkan tidak bersuara. Oh astaha Alice ingat tadi dia berbicara walaupun sangat pelan.
"Maafkan aku, kau terbangun karena aku". Alice kembali duduk. Dan melepas tangan suaminya, Calvin kecewa tapi dia menyembunyikannya.
"Tidak masalah, kenapa kau menangis?" Calvin bangun dan memperbaiki duduknya. Menatap lekat wajah istrinya yang masih tersisa bekas air mata yang belum sepenuhnya terhapus.
"Maafkan aku, karena kebodohanku, aku merusak pernikahan kita. Aku sadar sangat mustahil bagimu memaafkan aku, tapi aku berani bersumpah ada seseorang yang menjebakku". Calvin mulai frustasi, karena belum mendapatkan bukti siapa yang menjebaknya malam itu. dan Laura hanya berniat membawanya pulang tetapi sialnya mereka terjebak dengan malam panas.
"Tidak mengapa, aku percaya kalau kau tidak mungkin melakukannya , apalagi dikamar kita". Kata Alice tersenyum getir.
"Tapi aku tidak yakin bisa bertahan denganmu?" Alice menunduk.
"Apakah kau belum memaafkanku?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkanmu, aku hanya takut, menyadari sebentar lagi akan kehilanganmu"
"Maka jangan pergi, tetaplah disini bersamaku, hm". Calvin menggenggam tangan istrinya kemudian mengecupnya.
Alice masih diam, tidak bisa memutuskan pendapat saat ini, dia jelas tidak bisa tinggal bersama laki-laki yang pernah tidur dengan wanita kain apalagi didepan matanya, tapi bagaimana dengan nasib bayinya?".
"Hei, apakah begitu sulit untukmu menerima ku kembali? Tanyanya dengan suara sangat lembut.
*******
Ditempat yang berbeda disebuah penginapan yang tidak terlalu besar tetapi cukup untuk beristrahat untuk beberapa malam, Edgar dan Bella tengah makan malam berdua. Wanita cantik itu lagi-lagi memilih menginap dikamar atasannya. Edgar bahkan sudah menolaknya beberapa kali agar gadis bermata biru itu tidak terlalu bergantung kepadanya. Namun bukan Bella namanya jika menyetuuinya, masalah pekerjaan kantor Bella akan menuruti semua yang Tuannya katakan, tapi diluar jam kantor, dia akan kembali menjadi Arabella yang mencintai Tuannya.
"Tuan, kau tidak ingin menemuinya?" maksudnya adalah wanita yang Tuannya cintai, entah seperti apa wanita itu, Bella tentu sangat cemburu padanya.
"Aku tidak tahu apakah dia masih mengingatku atau tidak, sudah hampir dua tahun". Edgar tersenyum getir mengingat bagaimana saat itu dia sangat terluka saat mengetahui bahwa Alice bertunangan dengan anak dari sahabat majikan Ayahnya.
Yah selama ini Edgar hanya mencintai nya dalam diam. Sampai akhirnya semua itu terjadi gadis pujaannya pergi sebelum dia berjuang. Sangat miris.
"Bukankah dia sudah menikah? Kau mengenal suaminya?" Edgar mengangkat wajahnya melihat kearah Bella yang tengah menatapnya juga.
"Aku hanya bertanya Tuan, kau boleh menjawab atau tidak tergantung dirimu?"
"Kau ingat wajah klien kita kemarin?" Tanya Edgar kemudian.
Arabella mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Iya, Pria tampan itu, ah senyumnya aku menyukainya". Ujar Bella tampa beban "Tapi kau lebih menggoda Tuan". Arabelle cengir memperlihatkan gigi ginsulnya.
__ADS_1
"Pria tampan itu suaminya". Jawaban Edgar hampir membuat Arabella menyemburkan minuman yang baru saja diteguknya.
"Woah...Kau serius? Aku sudah menduga tidak mungkin pria setampan dan sekaya dirinya masih sendiri, Ah aku makin cemburu pada wanitamu, dia dicintai dua pria tampan dan kaya sekaligus".
"Kau akan mendapatkan yang lebih baik nantinya". Kata Edgar menenangkan.
"Tetapi, aku hanya menginginkanmu, Ed". Gumam Bella dalam hati.
Alasan dia masih bertahan dengan perasaannya pada Edgar adalah karena dia tahu wanita yang atasannya cintai sudah menjadi milik orang lain. Dan tidak mungkin mereka bersatu. Jadi dia hanya perlu bersabar sampai hati Edgar benar-benar menjadi miliknya.
Ditempat yang berbeda disebuah kota yang tidak terlalu ramai, diujung kota berdiri mansion yang sangat besar, terdapat banyak pengawal disetiap sudut ruangan. Seorang wanita cantik bertubuh tinggi dan putih berjalan dengan anggunnya dan mendudukkan diri di sofa ruang tamu.
"Kau kembali?". Lelaki tampan mendekat dan langsung mencium pucuk kepala wanita cantik itu.
"Hum, aku merindukan kakakku yang tampan ini". Ujarnya merentangkan tangan agar kakaknya memeluknya.
"Jadi bagaimana?"
"Sudah ku katakan mereka masih tinggal serumah, dan aku juga sudah mengatkan pada wanita itu-"
"Alice...namanya Alice, ingat dia akan menjadi kakak iparmu". Potong Antonio karena tidak ingin Laura memanggil wanitanya dengan sebutan 'wanita'.
"Yah, Alice, aku sudah mengatakan padanya kalau aku mencintai suaminya, agar mereka berpisah, tetapi sepertinya wa- maksudku Alice masih tidak ingin melepas suaminya". Dengkus Laura kesal karena setelah Alice menamparnya dia semakin ingin merusak kebahagian wanita sialan itu. ingin sekali dia membalas, tetapi sialnya kakaknya menyukainya. Dia akan mati jika kakaknya tahu dia melukai fisik wanitanya.
"Boleh aku tahu rencanamu? Kenapa kau harus merebut wanita yang sudah bersuami?" Kau memiliki Caroline, yang setiap saat memuaskan nafsumu".
__ADS_1
"Jangan mengurusi ****** itu, dia akan tetap menjadi ******, dan tidak akan sepadan dengan Alice".