Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Bab 13| Terima kasih


__ADS_3

Saat jam kantor sudah habis Alice terpaksa harus pulang, tidak mungkin dia akan ikut bersama Samuel. Dia enggan tetapi dia sangat lelah dan mengantuk. Sesekali dia mengusap lembut perutnya, ada perasaan damai saat tangannya berada disana.


Menghembuskan nafas pelan


Dimansion dia tidak melihat siapapun disana, ada rasa kehilangan dihatinya. Namun dia segera mengabaikannya.


Dia naik ke atas kamar membersihkan diri dan berbaring sebentar. Tengah menutup mata dan samar samar dia mendengar ponselnya berdering dan dia tahu siapa yang menghubunginya.


"Ada apa?" Jawabnya masih dengan mata tertutup.


"A-apa?"


Alice langsung membenarkan duduknya. Kantuknya hilang. Melihat kembali nama yang berhasil membuatnya terkejut.


"Baiklah, masuklah dulu aku akan turun". Tampa membuang waktu, Alice melangkah cepat menuruni tangga namun tetap menjaga keselamatan kandungannya.


Sampai diruang tamu hari memang sudah gelap padahal saat kembali tadi Alice hanya memejamkan mata, dan tiba-tiba saja hari sudah gelap


Dibawah sinar lampu pria berbadan tegap dan tinggi itu berdiri membelakangi Alice.


"Calvin....". Panggilnya lirih.


Pria itu berbalik menampilkan senyum lebarnya. Dia mendekat dan memeluk istrinya sayang. Sejak semalam dia terus memikirkan istrinya, terlalu banyak beban di kepalanya. Tentang pernikahan mereka yang di ujung tanduk sementara dia sangat ingin memiliki penerus. Dia tidak bisa hanya menunggu sampai Alice kembali pulang.


Dia sudah bertekad akan menghapus perjanjian sialan yang perjah dia buat, yang artinya dia rela menghilangkan dua puluh persen sahamnya atas nama perusahaan Alice


Sekarang dia menyadari walaupun saham dua puluh persen itu hilang darinya tetap saja dia tidak akan rugi karena Alice istrinya. Tidak mengapa memberi sebagian pada istri bukan?


"Ada apa? Duduklah dulu".


Alice jelas bingung ini kali pertama kali suaminya datang. Tiba-tiba.

__ADS_1


"Aku terlalu merindukanmu, jadi kuputuskan saja kemari". Jelas Alice sangat bingung ini kunjungan pertama Calvin ke Mansionnya selama mereka menikah. Harusnya Alice bahagia.


Masih dalam memeluk istrinya Calvin berkata "Apakah kau tidak merindukanku?"


Alice mencoba melerai pelukan mereka, menatap mata indah di depannya. Mata itu memerah dan sedikit sembab.


"Apa kau menangis?" tanya Alice maaih menatap mata itu


"Ah tidak, hanya debu yang tidak sengaja masuk". Kilahnya. Alice pun tidak akan percaya bahwa mereka akan menemui debu dijalan. Didalam mobil mewah yang berAc tentu saja itu tidak mungkin.


"Jangan membohongiku, kau tidak pandai dalam hal itu". Jawab Alice membuat senyum lebar di bibir Calvin tercetak jelas.


Melihat jam sudah hampir jam makan malam tetapi Mansion masih terlihat sepi. Biasanya di jam seperti ini Ayahnya Thomas akan duduk diruang keluarga dengan beberapa buku ditangannya. pria tua yang kutu buku.


"Lalu dimana Kak Edgar?" batinnya dengan degupan yang semakin menjadi. Hanya karena menyebut nama itu.


"Ayo masuklah kita makan malam, tapi sebelumnya gantilah pakaianmu dulu. Entah dimana Ayah". Alice membawa suaminya naik ke atas membersihkan diri dia akan meminta supir untuk membelikan pakaian baru untuk suaminya.


Setelah beberapa menit didalam kamar mandi Calvin keluar dan melihat Alice siudah duduk di pinggiran kasur dengan pakaian baru ditangannya.


Alice yang takut Calvin tahu mencoba melepas tangan kekar itu namun Calvin dengan kekuatannya tentu tidak sebanding dengan kekuatan Alice. Dia meletakkan tangannya di perut itu. Seperti ada sesuatu yang membuat hatinya menghangat. Apakah ini karena keinginannya yang sangat besar memiliki anak? Dia bertanya sendiri dalam hati.


Bukan hanya Calvin yang merasa tenang saat tangan itu berada disana tapi Alice juga. Dia merasa damai. Tangan kekar itu membuatnya nyaman.


Merasa aneh dengan bentuk perut istrinya. Dia berbalik dan menahan tubuh Alice. Dia berjongkok tepat didepan perut istrinya.


Alice yang terkejut dan takut lantas mundur dua langkah namun lagi tangannya ditahan. Calvin mendongak seolah memohon agar Alice tidak bergerak.


Seperti terhipnotis melihat tatapan itu Alice memaku. Calvin melangkah lagi dengan cara berjongkok rasa penasarannya sangat tinggi saat ini. Perlahan dia mengangkat baju yang istrinya gunakan. Gerakannya sangat pelan. Alice menutup mata karena tidak siap.


Setelah pakaian itu terangkat, Calvin membola dia jelas tahu ada yang berbeda. Dia mengulurkan tangan mengusap bagian menonjol itu. Alice menegang.

__ADS_1


"Sayang....?"Calvin mendongak menanti Alice berbicara, walau dia tahu pasti yang di lihat dan rasakan adalah fakta.


Calvin berdiri menatap wajah yang sudah pucat. "Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?". Tanyanya lirih


"Kau menyembunyikan hal ini dariku? sebegitu bencinya sampai kau tidak ingin memberi kabar bahagia ini?"


Alice memalingkan wajahnya. Menyembunyikan air matanya yang hampir saja terjatuh.


"KATAKAN? KENAPA KAU SEMBUNYIKAN KEHAMILANMU ALICE, KATAKAN?". Alice terlonjak kaget karena bentakan Calvin. Air mata yang sedari tadi ditahannya sudah mengalir.


"Katakan apakah kau sangat membenciku? Hanya karena aku dijebak seseorang?". Katanya lirih.


"Saat itu aku dalam kendali obat, dibayanganku hanya kau yang bersamaku. Aku terlalu merindukanmu, kau selalu saja pergi disaat aku menginginkanmu". Lanjutnya


"Dan apakah aku salah karena dikendalikan obat dan membayangkan kau yang menghabiskan malam bersamaku hah?" suaranya rendah menandakan keputus asaan.


"Sudah hampir dua tahun pernikahan kita, selama itu aku berjuang membuatmu menyerahkan hatimu padaku. Tetapi selama itu juga kau hanya memberi sedikit". Ujarnya membuat Alice menoleh pada suaminya.


Calvin luruh dilantai dia menangis. Dia sudah kecewa karena Alice menyembunyikan fakta besar ini darinya. dia tidak perduli Alice memberi sedikit ruang dihatinya asalkan masih ada tempat itu cukup.


Melihat suaminya seperti itu runtuhlah pertahanan Alice dia berjongkok dan memeluk suaminya. Mereka saling berpelukan dan menagis haru bersama.


"Jadi dia sudah bergerak?" Tanya nya melerai pelukannya.


"Heh? Tentu saja belum dia masih sangat kecil"


mereka sekarang sudah di atas sofa. Mereka akan makan malam di kamar. Maid sudah mengantar makanan untuk mereka. Lagi ternyata Ayah Thomas dan Edgar berada di kediamannya karena urusan mendadak. Jadi mereka akan makan malam di kamar saja.


"Terima kasih sayang". Mencium gemas pipi istrinya.


Mereka berdua makan dengan tenang dan sesekali bercanda momen yang sangat dirindu oleh Calvin selama ini.

__ADS_1


Selesai dengan makanannya, mereka berdua tidak langsung tidur melainkan duduk dibalkon kamar menikmati pekatnya malam dengan Calvin memekuk sayang istrinya.


Dia bersyukur karena datang mencari istrinya. Andai saja dia mengikuti egonya lagi makan dia tidak akan tahu bahwa didalam rahim istrinya sudah tumbuh benih cintanya. Dan dia akan menyesali itu karena menyadari pernikahan mereka akan berahhir kurang dari tiga bulan lagi.


__ADS_2