
Alice dan Edgar menoleh pada sumber suara, Edgar menahan malu karena tertangkap basah, begitupun juga dengan Alice.
Edgar menepuk pelan pucuk kepala sang istri dan berbisik, "Aku akan mengajaknya diluar, agar dia tidak melihat wajah merahmu. Hem." Alice mengangguk dan masih menunduk, malu sekali rasanya bertemu dengan kak samuel nanti.
"Ada apa dengan wajahmu?" ucap Edgar menahan malu sejak tadi, tetapi saat melihat wajah Samuel lebih menyedihkan membuatnya penasaran.
"Bukan masalah serius. Sekarang katakan, siapa yang harus kita undang. Mantan suami istrimu, kita undang juga?"
"Kau boleh undang siapa saja yang menurutmu pantas, aku serahkan padamu." cuek Edgar.
Menghembuskan napas panjang Samuel berkata lagi, "Apakah kita terlalu kejam tidak mengundangnya? Aku merasa kasian lalau dia melihatmu bahagia." Edgar melempar bantal sofa yang langsung di tangkap oleh Samuel dengan tawanya.
"Dia harus melihatnya, mengkhianati istrinya bertahun-tahun adalah kejahatan." ucap Edgar menyandarkan kepala di sandaran sofa.
"Tapi menurutku, kau harus bersyukur karena itu, kau tidak jadi melajang seumur hidup." Edgar mendengus kesal, sementara itu Samuel tertawa terbahak.
Samuel menghentikan tawanya, melihat kiri dan kanan lalu mencondongkan sedikit tubuhnya kedepan, "Tapi kau harus tahu apa saja yang dia lakukan selama ini." ucapnya secara berbisik lalu melanjutkan, "Dia menbangun panti dan itu untuk Alice." Samuel semakin mengecilkan suaranya, kemudian melanjutkan, "Dia mengira tidak ada yang tahu soal ini, tapi dia tidak menyadari kalau anak buah kita mengintainya selama ini."
Samuel kembali menegakkan tubuhnya, "Jadi bagaimana? Apakah kita bereskan dia atau kita biarkan saja?"
Edgar berpikir sejenak, "Mungkin lebih baik kita biarkan saja, anggap kita tidak tahu saja."
"Kau tidak cemburu?"
"Alice sudah ditanganku, bagaimana bisa aku cemburu pada orang yang tidak mendapatkan balasan apapun dari istriku." kali ini Samuel yang mendengus kasar.
__ADS_1
Tidak lama, Alice datang dan membawa kedua pria itu kedapur untuk sarapan. Samuel hanya datang untuk melaporkan secara langsung perkembangan peusahaan setelah itu langsung ke kantor.
Alice sudah bersiap, dia ingin keluar sebentar, tentu saja dengan Edgar, pria itu tidak akan membiarkan wanitanya pergi sendiri apalagi dengan keadaan hamil muda.
Edgar tidak akan melakukan kesalahan yang akan dia sesali dikemudian hari.
"Jangan terlalu cantik, dia akan semakin tergila-gila dan aku tidak suka." protes Edgar.
Alice hanya terkekeh kecil, "Baiklah, ayo kita berangkat, pulangnya kita kerumah sakit, bagaimana?"
Edgar berdiri dan merengguh pinggang istrinya pelan, "Apapun untukmu sayang."
Di tengah perjalanan Alice menelepon Orlando, menanyakan bagaimna tidur anaknya, ini pertama kalinya Orlando tidak tidur bersama Alice dan juga Edgar. Namun kekhawatiran Alice sirna saat mendengar tawa bahagia anaknya, bahkan Orlando menceritakan kesehariannya bersama ayah kandungnya.
Dia mendengar semua obrolan ibu dan anak ini sejak tadi.
"Baiklah Mommy." Orlando mematikan panggilan setelah mendengar kecupan dari balik layar
Beberapa menit kemudian, Alice sudah sampai ditempat tujuan, bahkan sudah saling berhadapan dengan seseorang yang juga sangat berperan dalam kehancurannya.
"Kau terlihat semakin cantik."
"Bagaimana kabar paman? Maaf karena baru bisa menjengukmu."
"Alice, aku bukan pamanmu!"
__ADS_1
"Bagiku, Paman tetaplah pamanku, adik kesayangan ayahku." ucapnya datar, memperhatikan perubahan drastis pria yang seharusnya menjadi pelindungnya, nyatanya dia adalah penyebab semuanya dimulai.
"Hubungan keluarga tidak harus dengan darah yang sama paman. Aku akan tetap menganggapmu paman sampai kapanpun." Antonio masih diam, dia merindukan suara Alice jadi lebih baik dia diam dan menikmati saja.
"Minggu depan, adalah resepsi pernikahanku dengan Kak Edgar, aku--,"
"Apa maksudmu? Kau menikah? Kenapa? Kenapa kau lakukan itu Alice?" teriak Antonio.
"Apa maksud paman?"
Antonio tertawa, dia berdiri menyugar rambut yang sudah mulai memanjang, "Aku menebus dosaku agar pantas bersamamu, dan kau menikah dengan pria lain? Apakah aku tidak pantas untukmu Alice?"
Antonio berjongkok dihadapan Alice yang tidak gentar sama sekali, "Aku mencintaimu, aku berharap banyak padamu, tapi kau--menikah dengan pria lain lagi." Suara Antonio sudah serak.
"Kalau pada akhirnya aku tidak akan bisa bersamamu, lebih baik aku mati."
"Melisa bahaimana? Paman tega meninggalkan anak itu?"
"Jangan memanggilku Paman."
"Aku kembali, paman istirahatkah." Alice akan melangkah pergi tetapi isakan Antonio menghentikannya sesaat. Pria itu menangis, obsesinya mengalahkan akal sehatnya.
Alice melangkah menjauh, Antonio hanya terluka karena cinta tak terbalas, sementara dirinya terluka karena kehilangan orang tuanya.
"Alice ...."
__ADS_1