
Sampai dirumah, Alice kembali dikejutkan oleh orang lain yang sudah menunggunya sejak tadi. Alice keluar dari mobil dan menemui wanita yang sampai saat ini masih tidak disukainya.
"Alice ...." Laura menyapa lebih dulu.
"Masuklah, kenapa berdiri di luar?" Alice lebih dulu masuk ke dalam rumah di susul Edgar dan juga Laura.
Edgar mendekati Alice dan mencium pucuk kepalanya di hadapan Laura kemudian naik ke lantai atas, dia ingin beristirahat.
"Duduklah!"
Laura duduk, tetapi tatapannya lurus pada Edgar yang naik ke lantai atas.
"Dia Edgar, suamiku."
Laura menrlan ludah kasar karena tertangkap basah memperhatikam Edgar, dia tahu kalau ada pria yang bersama Alice selama ini, tetapi baru ini dia memperhatikan ketampanannya dengan jelas.
Sempurna.
"Maafkan aku."
"Katakan, ada urusan apa Bibi mencariku?"
"Alice, kita tidak ada hubungan darah, jadi jangan memanggilku sepe--,"
"Baiklah, Nona Laura, ada urusan apa mencariku."
"Kakakku, kak Antoni, bisakah kau bebaskan dia?" mohon Laura.
Alice mengerutkan kening, kemudian tersenyum lembut, tetapi Laura yang melihat itu sedikit gentar, "Kenapa harus aku? Kakakmu yang menyerahkan dirinya sendiri."
"Itu karena dia ingin membuktikan bahwa dia bertanggung jawab atas kesalahannya."
"Nonq, kau sudah mwnjawabnya sendiri, kakakmu dia harus bertanggung jawab, harusnya kau bangga, dia mengambil kedua orang tuaku tanpa belas kasih, bisa kau bayangkan bagaimana hancurnya aku?"
__ADS_1
Alice menjeda karena rasa sesak di hatinya, setelah menghela napas sangat pelan dia kembali melanjutkan, "Seharusnya kau senang karena jika aku yang menuntut bisa dipastikan dia akan mendekam selamanya, atau bahkan bisa aku pastikan dia dihukum mati."
"Alice, dia mencintaimu, dia melakukannya karena ayahmu tidak merestui perasaannya."
"Karena ayahku tahu, dia bukan pria baik."
Laura mengusap wajahnya, dia kasihan pada kakaknya, tapi bagaimana bisa membujuk Alice?
"Aku hanya ingin kau datang menemuinya sekali saja, mungkin setelah dia melihatmu dia mau aku perjuangkan untuk keluar."
Alice tertawa sumbang, "Nona Laura, kenapa begitu khawatir? Kakakmu akan baik-baik saja, tenang saja, dia akan di bebaskan setelah hukumannya selesai."
Laura menggigit bibir bawahnya, tidak ada jalan lain lagi, Alice memang tidak akan bisa membantunya, menghela napas panjang lalu dia berdiri dan berpamitan, tetap sebelum dia melangkah jauh Alice berjanji akan menjenguk Antonio bila suaminya mengizinkan.
laura berterima kasih, setidaknya dia sudah berusaha alice mau melihat kondisi kakaknya.
Setelah kepergian Laura, Alice naik ke lantai atas, dia lelah dan ingin beristirahat. Saat membuka pintu dia audah melihat Edgar yang sudah berbaring di atas ranjang dan tertidur.
Alice mendekatinya dan mengecup kening pria yang tidak disangkanya akan menjadi miliknya.
Karena sudah tidak tahan dengan tubuhnya dia langsung masuk kamar mandi dan memberwihkan diri.
Dilain tempat, Laura yang tidak tahu harus kemana mengarahkan mobilnya ke keduaman Calvin, dia akan memberitahu atasannta bahwa Alice sudah kembali.
Laura tahu Calvin sangat tampan tetapi suami Alice yang sekarang jauh lebih tampan, "Wanita yang beruntung, dia mendapatkan semua keindahan di dunia ini." gumam Laura.
setelah memakan waktu lama, dia sampai juga di kediaman Calvin, dia sempat melihat Rahayu yang pergi dengan raut wajah yang masam, Laura hanya menggeleng lemah karena wanita itu tidak pernah jera walaupun Calvin dengan terang-terangan menolaknya.
"Dia pantang menyerah." ujar Laura audah sampai di hadapan Calvin.
"Hem, dan kali ini kau wanita yang di cemburuinya." Laura melototkan mata kemudian tertawa.
"Aku?" tunjuknya pada diri sendiri, dan Calvin menangguk.
__ADS_1
Laura mengikuti Calvin masuk karena ingin memberitahu tujuannya datang, tetapi saat melihat orang lain di sofa menonton televisi Laura melirik Calvin sepintas lalu kembali menatap lamat bocah kecil disana yang terus mengabaikan kehadirannya.
"Dia ....?"
"Orlando, anakku." Laura mendekat dan memperhatikan anak tampan itu.
"Hai."
Orlando mengankat wajah kemudian menoleh pada ayahnya, Laura semakin bersemangat, anak Calvin ini sangat tampan. Keaedihannya tiba-tiba menguap begitu saja.
"Kenalkan aku adalah nenekmu, nenek muda."
Calvin tertawa karena Laura begitu semangat memperkenalkan dirinya, Laura yang mendengar tawa itu mwndengus, "Tuan, memang benar, 'kan? Aku Bibi mantan istrimu--Alice, berarti anak tampan ini cucu ku?"
Calvin mengangguk dan terus tertawa.
"Daddy, dia siapa? Nenekku? Atau kekasih Daddy?" Calvin hampir tersendak air liurnya sendiri, sementara Laura sudah merasa tidak enak.
"Eh, aku ini benar nenekmu. Panggil, Nenek Laura, hem?"
Orlando memicingkan mata, "Bibi, kau seusia Mommy-ku, kenapa harus berbohong kalau kau nenekku, katakan saja kalau Bibi kekasih Daddy, aku tidak keberatan, Bibi juga cantik."
Laura bersemu, bukan karena dikatakan cocok dengan Calvin tetapi karena di katakan cantik oleh pria tampan kecil.
Laura menyukai Orlando. Cucunya sangat menggemaskan.
Calvin yang melihat wajah merah Laura menengahi, "Dia memang nenekmu, nenek muda, dia Bibi-nya-Mommy."
"Benar?" Calvin mengangguk.
"Tapi dia lebih cocok menjadi pasangan Daddy."
"Eh ... Itu ...."
__ADS_1
"Bibi nikahi Daddy-ku, aku kasihan padanya karena tinggal sendiri."