Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Jangan Salahkan Aku


__ADS_3

Edgar membawa pandangan Alice agar menghadap padanya, "Sudah aku katakan, jangan suka memalingkan wajahmu dariku."


Edgar kembali melanjutkan dengan mengelus sayang wajah wanita yang selalu menjadi cinta di hatinya, "Aku ... Hanya ingin kau tahu, bahwa aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun, kita sudah sering membahas ini 'kan?" Alice mengangguk.


"Tapi, aku bukan wanita yang pantas kak, aku memiliki anak dari pria lain." maksud dari Alice adalah, dia bukan gadis lajang, yang pantas mendapatkan Edgar.


"Apa aku peduli? Orlando anakku, kau lupa? Aku tidak peduli dia benih dari pria itu, yang harus kau ingat Orlando tetaplah anakku."


"Tapi--,"


Edgar menggeleng, "Aku tidak peduli dengan pendapatmu, yang ingin aku tahu sekarang adalah, bagaimana perasaanmu padaku?"


Alice terdiam, apa yang harus dia ucapkan, haeuskan dia mengatakan kalau dia memang masih mencintai pria di hadapannya? Masih pantaskah dia bahagia setelah luka yang bertubi-tubi dia terima?


"Kak, kau bisa mendapatkan yang lebih baik."


"Dan kau orangnya." Edgar membawa kepala Alice untuk bersandar di dadanya, "Kau dengar? Jantungku berdebar saat bersamamu, dan hanya padamu."


"Benarkah? Tapi aku ragu." Goda Alice dia terkekeh saat mendengar Edgar yang mendengus kesal.

__ADS_1


"Tentu saja benar. Besok kita cari cincin pernikahan." Alice mengangkat wajah karena tidak mengerti. Edgar melanjutkan, "Aku tidak ingin ada pertunangan, kita akan langsung menikah saja."


"Kakak tidak romantis sama sekali." Alice kembali meletakkan kepalanya di dada Edgar, membawa tangannya untuk memeluk Edgar lebih erat.


"Karena yang ku hadapi wanita sepertimu." Edgar senang, karena dari pelukan yang dia rasakan Alice menerima semuanya.


"Kak ... Aku sudah pernah menikah, apa itu tidak masalah?"


"Oh, baiklah, lebih baik besok kita langsung menikah saja. Terlalu lama menunda akan membuat kepala ku sakit karena keluhan tidak mendasar." Alice terkekeh.


"Aku ikut kakak saja."


"Jawaban ini yang aku tunggu." Edgar mengelus sayang kepala wanitanya, dia berjanji akan membahagiakan Alice seperti janjinya dulu.


Lalu, apakah pantas Calvin mendapatkan ampunan sekali lagi, setelah ia pernah mendapatkannya saat itu. Tidak, Calvin tidak pantas mendapatkannya.


"Kau tidur?" bisik Edgar mengusap pelan kepala Alice.


Menghela napas pelan, Edgar mengangkat tubuh ramping milik Alice dan meletakkannya dengan hati-hati di atas kasur. Besok dia akan mengurus semuanya, dia akan jadikan Alice miliknya selamanya.

__ADS_1


Setelah menaikkan selimut sebatas dada, Edgar menunduk sedikit dan mengecup kening wanitanya. Ya, sejak lama, Edgar memang menjadikan Alice sebagai wanitanya.


Lamunanya buyar, saat pnselnya bergetar, Edgar menghela napas saat melihat nama yang tertera disana, dengan langkah pelan dia keluar dari kamar Alice dan kembali ke kamarnya.


Panggilan diterima, dilayar nampak wanita cantik tengah terseyum manis padanya tetapi dengan mata yang sembab.


"Tuan ... Kau ternyata sangat jahat padaku." Arabella tersenyum, tetapi air matanya sudah mengalir kembali.


"Pertuananganku sudah terjadi, dan Tuan tidak datang mencegahnya." Kembali Arabella menangis.


Wanita yang mencintai Edgar itu melanjutkan, "Bulan depan aku sudah menikah dan menjadi milik orang lain, apakah Tuan tidak ingin mengagalkannya."


"Bella ...."


Areballa tetap tersenyum, "Aku bercanda Tuan. Aku bahagia, tapi malu mengatakannya, jadi aku sengaja memprovikasimu."


"Jangan berbohong. Haruskan aku datang dan menggagalkannya?"


Sesaat Arabella terdiam, dia menginginkan pria ini tetapi, jalan mereka tidaklah sama.

__ADS_1


"Tuan ini, kau ingin menjadi pahlawan ya, Ck, aku bahagia, hanya saja memang masih sangat canggung bersamanya."


Arabella masih melanjutkan, "Tuan, bawa Alice ke pernikahanku, kali ini aku memaksa, kalau Tuan tidak datang, jangan salahkan aku, kalau foto seranjang kita aku sebar."


__ADS_2