
Edgar menyeringai, dia tahu kalau Arabella hanya mengancam. Sementara itu Arabella yang melihat tatapan Edgar berdecak kesal.
"Baiklah, maafkan aku. Aku tidak sempat mendapatkan foto kita dulu. Aku bodoh sekali." Arabella menatap wajah tampan Edgar. Mantan atasannya, pria yang sangat ingin dia miliki dalam hidupnya.
"Aku akan usahakan datang." Arabella mengangguk mantap, dia seperti mencari seseorang tetapi sejak tadi tidak melihat siapapun.
"Alice sudah tidur." Terlihat Arabella tersenyum kecil.
Dengan terpaksa Arabella mematikan panggilan karena sudah sangat mengantuk. Itu alasan Arabella, yang Edgar tahu itu adalah alasan saja.
Setelah panggilan terputus, Arabella menidurkan diri, dengan mata sembab serta kepala yang pusing karena terlalu lama mengeluarkan air mata.
"Kalau dia bahagia karena melihatku bersama orang lain, aku juga akan berusaha untuk bahagia." gumamnya memejamkan mata dengan meringkuk.
__ADS_1
Semalaman Arabella menangisi takdirnya yang malang, dia berharap besok ada keajaiban untuknya sehingga dia tidak harus menikah dengan pria yang tidak dia kenal sama sekali.
Sementara itu, di tempat lain, Calvin sudah berdiri di depan mansion milik Alice sejak beberapa menit yang lalu. Seorang penjaga datang dengan membawa tongkat kecil miliknya.
"Tuan, Calvin?" Si pengawal jelas masih mengingat suaminya nona mereka. Calvin mendekati pagar dan menyapa dengan sopan.
Mantan suami Alice itu diminta untuk masuk, tetapi Calvin tidak beranjak sebelum tahu keberadaan dimana Alice dan putranya berada.
"Nona dan tuan muda Orlando sudah pindah bersama tuan Edgar." jawab si penjaga dengan nada tidak enak.
"Tapi, mungkin saja tuan Thomas tahu. Beliau berada di rumahnya." Jelas si penjaga, dia benar-benar tidak tega melihat mantan suami majikannya.
Calvin yang ingin segera pergi kembali di pertemukan oleh Laura, mantan sekretarisnya dulu. Laura yang baru saja turun dari mobil melihat Calvin yang akan masuk ke taksi online.
__ADS_1
"Tuan, bagaimana kabar, Anda?" Laura sedikit membungkuk melihat bahaimana perubahan Calvin yang dulu dan sekarang. Sangat berubah banyak, kemudian adik Antonio itu melihat ke arah mansion masih belum tertutup sempurna.
"Seperti yang kau lihat." Calvin memperhatikan Laura, "Alice belum kembali.
Laura kembali luruh, dia ingin bertemu dengan Alice tetapi wanita itu sangat sulit ditemui. Laura ingin memohon agar kakaknya di bebaskan, jika perlu Laura akan menjadi bawahan Alice selamanya.
Calvin mengajak Laura untuk beristirahat di cafe untuk menenangkan pikirannya, dilihat dari wajahnya Laura sangat lelah.
"Kakak, tetap menunggu Alice untuk membebaskannya," Laura meminta maaf karena tidak memanggil Alice dengan embel nona, dia memberitahu Calvin kalau Alice ada keponakannya. Lucu sekali bagi Laura karena mereka seumuran, Laura melanjutkan setelah menghela napas panjang, "Kakak sangat mencintai Alice, bahkan sangat mencintainya, dan karena cinta itu dia terpaksa mengambil jalan yang salah."
"Kakak sangat terpuruk saat mengetahui kalau Alice dinikahkan oleh anda, Tuan, untuk itu saya diperintahkan untuk mendekati." Calvin terlihat marah, namun Laura tidak peduli dia melanjutkan, "Tapi, sungguh aku tidak tahu siapa yang menyimpan obat itu di minuman, Tuan."
"Maaf karena saya awal kehancuran pernikahan kalian."
__ADS_1
"Kau sudah pernah mengatakannya, kita sama-sama salah."
Menghela napas lagi, Laura sangat lelah sebenarnya, "Dimana ya, Alice?"