
"Kak Edgar". Alice masih mematung didepan pintu kamarnya dia masih linglung ini pertama kalinya pria yang yang dianggapnya kakak ini mencarinya ke depan pintu, apakah ada hal penting?
"Maaf karena mengganggu istrahatmu". Katanya masih dengan senyumannya.
"Oh tidak masalah kak, aku masih ada waktu sedikit". Alice cengir. Jantungnya kembali berdebar. Sudah sangat lama perasaan ini dia sembunyikan, dia mengira dengan berlalunya waktu perasaan anehnya akan hilang, tetapi kenapa sekarang disaat melihatnya jantungnya kembali berdebar.
"Apakah aku boleh masuk? Aku tahu kau sudah menikah tapi"
"Masuklah aku juga merindukanmu".Alice merutuki mulutnya yang berbicara tampa saringan
"Jangan sampai suamimu dengar dan kita berdua mendapat masalah". Mendengar itu wajah Alice yang tadinya cerah menjadi mendung, terlihat jelas bahwa dia tidak menyukai pembahasan ini.
"Oh maafkan aku". Kata Edgar
"Bagaimana kabarmu? dan kapan kau akan menikahi gadis cantik itu?" Alice mengalihkan tetapi hatinya malah sakit.
Dia tahu sekarang dia tidak akan pantas memikirkan pria lain karena sudah menikah, walaupun pernikahan mereka kemungkinan akan berakhir.
Bagaimana pun dia akan membuang perasaan ini. Ini sudah terlambat. Andaikan dulu sebelum wasiat itu tertulis dia berani mengatakan persaannya mungkin dia tidak akan pernah menikah. Walau pada saat itu dia sudah pernah menyimpan perasaan pada suami. Namun lagi, perasaanya yang baru saja tumbuh harus di injak kasar.
Mengingat kejadian beberapa bulan itu membuat hatinya kembali sakit.
"Dia bukan kekasihku".
"Kau bercanda? Tidak mungkin kau membawanya bertemu ayah kalau memang kau tidak menginginkannya".
"Ada wanita lain yang ku inginkan". Dia menatap Alice yang jantungnya seperti akan keluar.
"Siapa? Lalu kenapa kau membawa wanita lain?" Pancingnya, entah kenapa dia merasa bahwa wanita yang di inginkan Edgar adalah dirinya.
"Seseorang yang tidak mungkin kumiliki, dia sudah bahagia". Jawabnya masih memandang Alice.
"Bagaimana jika sebenarnya dia tidak bahagia?
"Tidak mungkin, karena aku melihat senyummu, kau bahagia bersamanya".
Deg
Jawaban Edgar yang terang-terangan membuat wajah Alice memerah. Darahnya berdesir.
"Ma-maksud kak Edgar?"
"Kau cukup pintar untuk memahaminya, aku bisa melihat bagaimana kau menjalankan perusahaan 'Acgroup"dengan baik". Jawabnya dengan senyuman yang masih sama tetapi sudah terdapat kekecewaan didalam.
__ADS_1
Alice berdiri dan memegang kening dengan menutup mata, kepalanya sangat sakit.
"Aku akan istrahat kak" Ucapnya membelakangi Edgar yang terus menatapnya rindu.
"Baiklah, kau istrahatlah maafkan aku sudah mengambil waktu berhargamu". Edgar bangkit dari duduknya dia akan keluar.
"Kenapa baru sekarang?" Edgar menghentikan langkahnya saat mendengar kembali suara Alice
"Kenapa baru sekarang kakak mengatakannya? Dia berbalik menatap laki-laki di depannya. Laki-laki yang di inginkan. Satu kebodohannya adalah menyukainya diam-diam. Andaikan saja waktu itu dia mengatakan cintanya tidak mungkin mereka sangat jauh sekarang.
"Alice.."
"Aku menyukaimu bodoh!. Kau tahu bagaimana menderitanya aku harus diam-diam menyukaimu, aku terpaksa dijodohkan dan menikah dengan orang yang tidak aku inginkan.
"Setiap hari aku terus saja berdoa agar bisa melupakanmu, aku mencoba mencintai pria lain, sampai aku merasakan bahwa aku lebih baik bersamanya tetapi-". Alice semakin kesal saat mengingat kembali Calvin bersama Laura.
Edgar tidak menjawab dia hanya mendengar semua yang Alice katakan, tidak dia sangka bahwa ternyata Alice menyukainya juga.
Mereka berdua tidak terlalu akrab dulu. Juga tidak bisa dikatakan tidak akrab. Mereka biasa berbicara sekali dua kali jika ada kepentingan
Edgar yang tahu diri hanya menahan perasaannya. Bahwa tidak mungkin Nona mudanya menyukai anak bawahan Ayahnya.
Dan sekarang gadisnya mengatakan sesuatu yang membuatnya semakin tersiksa.
"Maafkan aku kak, silahkan kakak keluar aku akan istrahat" ucap Alice lagi.
"Aku tidak tahu kalau kau juga-"
Belum juga selesai tubuh mungil itu sudah menubruk dadanya. Alice menangis di dada bidang itu.
"Ternyata aku lebih buruk dari Calvin, aku mencintai laki-laki lain saat masih menjadi istrinya". gumamnya dalam hati dengan isakan.
Edgar masih mematung. kemudian dengan perlahan menepuk-nepuk punggung Alice pelan.
Tampa mereka sadari sejak tadi ada seseorang dibalik pintu mendengar semua yang mereka bicarakan.
Seseorang itu hanya menghela nafas berat lalu berbalik dan meninggalkan mereka berdua dengan perasaan rindu masing-masing.
Ditempat berbeda Calvin yang baru saja pulang karena harus lembur. Terlihat sangat berantakan. Lagi, rumah begitu sepi. Semua pelayan juga sudah tidur.
Dan Alice, walau selama masalah itu istrinya tidur di lantai bawah. Setidaknya dia masih merasakan kehadirannya. Namun lagi saat dia menginginkan istrinya wanita itu tidak ada.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?
__ADS_1
"Tidak bisakah kau memberiku satu kali kesempatan yang pasti? Tampa harus memberi waktu seperti ini dan akhirnya kau juga akan memutuskan pergi? Calvin terus saja berbicara sendiri seolah disana ada Alice
Kemudian dia mengingat kembali bagaimana jika hubungan mereka berakhir, bagaimana dia akan memiliki keturunan sedang Calvin hanya ingin Alice yang melahirkan anaknya.
"Aaaggrrhhh" dia menyugar kasar rambutnya.
"Apakah kau pernah mencintaiku Alice? Kenaoa selama ini aku merasa ada penghalang dihatimu? Kenapa?
"Aku tahu awalnya aku juga tidak menginginkan pernikahan ini, tapi apa kau tidak bisa merasakan bahwa aku sudah menyerahkan hidupku padamu?
Calvin terus saja meneriaki bayangan Alice. Dia seperti akan gila sekarang.
Dia membanting semua yang dia lihat dia atas nakes.
Perjanjian mereka sisa tiga bulan lagi, yang artinya mereka memiliki dua kemungkinan. Tetap bersama atau berpisaah.
"Kau harus tahu Alice, aku tidak akan melepaskanmu, kita akan hidup bersama selamanya" senyum itu muncul di bibirnya. Dia sedikit lega mengingat mereka akan bersama dengan adanya anak.
Ya Calvin akan mengusahakan memiliki pengikat dipernikahan mereka. Sepulang Alice dari luar kota. Mereka akan ke dokter lebih cepat lebih baik.
Di apartemen Laura. Antonio sudah duduk dengan tenang di sofa. Pria itu baru saja tiba. Dia mendapat kabar bahwa ada yang terus mengikuti adiknya. Dia harus memastikan langsung siapa yang berani macam-macam dengan Laura
"Kak, aku takut, bagaimana kalau dia melukaiku? Laura duduk disamping kakaknya.
"Tidak akan ada yang berani". Jawabnya menenangkan. Dia juga penasaran kenapa ada yang membuntuti adiknya
"Oh bagaimana rencana kita? Tanya Antonio kemudian.
Dengan decakan kesal Laura menjawab "Bahkan dia memaksaku meminum pil pencegah kehamilan"
"APA?"
"Brengsek, aku akan menghabisinya" rahang Antonio mengetat Laura menyadari iru.
"Jangan melukainya, aku menginginkan Calvin"
"Bukankah sebelumnya kau tidak tertarik?
"Sekarang aku menginginkan nya. Dia akan aku dapatkan dengan caraku. Dan kakak akan senang karena Alice akan menjadi milik kakak"
Yah Antonio adalah adik tiri ayah Alice. yang artinya Antonio adalah paman tiri Alice. Dalam hal ini mereka tidak ada hubungan darah. Antonio tertarik saat melihat bagaimana cantiknya keponakan tirinya.
Untuk itu dia mencoba mendekati kakak tirinya, menawarkan banyak hal agar mengizinkan Alice bersamanya, namun pria tua itu menolak. Sampai akhirnya dia harus berakhir di jurang.
__ADS_1