
Beberapa minggu kemudian, Antonio yang masih menunggu kedatangan Alice yang entah akan datang atau tidak. Tidak ada kabar apapun lagi pada keponakannya itu.
Ah tidak! Antonio tidak akan pernah menganggap Alice keponakannya karena mereka tidak ada hubungan darah apapun.
"Sekarang kakak menyesal? Alice tidak akan datang kak, mereka sudah pergi dua hari yang lalu."
Bahu Antonio luruh, tidak ada harapan lagi, dia kehilangan disaat sudah berjuang menebus dosa. Laura sangat kasihan pada kakaknya tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan, Antonio mengakui semua kesalahannya.
Kalau sudah begini harus bagaimana? Kakaknya tulus hanya saja caranya yang salah.
"Kau kembalilah! Biarkan aku sendiri." Antonio memanggil petugas untuk mengantar adiknya keluar.
Dia hanya ingin membuktikan lada Alice bahwa dia mencintai wanita itu, tetapi mana dia tahu bahwa Alice memang ingin melihatnya ditahan.
"Aku mencintaimu. Tetapi kenapa sedikit saja rasa itu tidak kau kalaskan?"
Laura kembali dengan perasaan campur aduk, ingin memohon pada siapa, kakaknya sudah melakukan hal sejauh ini menyerahkan diri dan mengakui dosa, dan yang membuat Laura sedih adalah kakaknya ingin menjalani semuanya dengan terus mencintai wanita yang sudah membuatnya seperti ini.
"Alice, harusnya kau kasihani kakakku sedikit saja."
Semua berlalu dengan cepat, putus hukuman sudah ditetapkan, Antonio tidak ada harapan lagi, Laura tidak bisa menahan kesedihannya, kakaknya akam dihukum begitu lamanya disana.
__ADS_1
Sudah empat bulan berlalu, Laura semakin jarang menemui kakaknya karena Antonio memang tidak ingin terlalu sering di kunjungi.
Siang itu, Gadis cantik yang pernah terlibat masalah dengan Alice itu duduk sendiri di sebuah kafe, dia baru saja dari rumah Alice yang kosong berharap dapat menemukannya. Atau setidaknya tahu kemana dia pergi.
"Boleh bergabung?" seorang pria tampan dengan wajah yang sudah di tumbuhi bulu halus duduk di hadapan Laura yang tengah melamun.
"Eh ... Tuan, Anda, bagaimana kabar Anda?" Laura terkesiap dengan kejutan ini bahkan dia hampir saja tidak mengenali lawan bicaranya.
"Seperti yang kau lihat. Bagaimana kakakmu?"
Menghembuskan napas lanjang, "Kakak sehat, dia mengatakan akan kuat sampai dia dibebaskan karena kekuatannya adalah cintanya."
"Aku turut berduka." Calvin seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi ragu.
"Dia pantas bahagia, mungkin saja menghindari kita adalah jalan terbaik untuknya."
"Tuan masih mencintai nona?" tanya Laura.
"Hem. Dan aku menyesal karena sudah terlambat. Dia begitu marah sampai langsung mengurus surat cerai. Wajar, dan aku pasrah." Calvin terduduk lemah.
"Kita hanya bisa berdoa semoga nona akan selalu bahagia." Laura juga merasa bersalah, "Saya adalah orang yang pertama kali membuat luka di hatinya."
__ADS_1
"Kita berdua." jawab Calvin.
"Ya, Tuan yang paling banyak melukainya." Calvin tersenyum getir.
Sementara itu, ditempat yang jauh Edgar sementara membuatkan sarapan untuk kedua orang tersayang nya
"Papa ... Orlando ingin telur mata sapi, tapi jangan sampai miring."
Dengan percaya diri Edgar mengangguk, kemarin dia bisa melakukannya, harusnya kali ini juga. Ya walaupun lebih sering gagal.
"Alice kai ingin apa?" tahya Edgar.
"Apapun yang kakak buat."
Orlando melihat keduanya bergantian lalu tertawa, "Mommy, kau sangat baik. Minta papa buatkan telur mata sapi juga."
"Ah, oke Pak koki buatkan aku telur mata sapi juga, harus bundar, miring sedikit rasanya berbeda." Alice tertawa saat melihat Edgar melotot padanya.
"Baiklah sayang buatkan saja aku tekur mata sapi, tidak apa-apa miring asalkan kau yang buat "
Seketika ruangan menjadi hening, Orlando melihat ayah dan ibunya bergantian.
__ADS_1
"Mommy ... Jangan merayu Papa, lihatlah! Telur Orlando menjadi gosong." kesal Orlando.