
Diruang tamu, dua pasang suami istri itu tengah dalam suasana hening, karena tiba-tiba saja salah satu diantara meraka menyebut nama lain.
"Rosse?" Calvin mengangguk antusias.
"Aku akan memberikan nama Rosse untuk putri kita bagaimana?" Calvin menatap wajah istrinya masih menunggu jawaban atas nama yang dia temukan.
Alice berdecak lalu turun dari pangkuan Calvin dan membawa suaminya ke ruang makan, "Ayo makan, aku lapar". Ucapnya masih menarik tangan suaminya.
Calvin yang ditarik hanya pasrah, dia tidak bisa meahan karena wanita hamil memang cepat lapar.
Diruang makan, Alice manarik kursi untuk Calvin dan membiarkan suaminya duduk dengan nyaman lalu, menuangkan segelas air untuknya, setelah memastikan semua lengkap barulah dia duduk, dan mulai menyendokkan nasi dan lauk didalam piring Calvin.
Calvin hanya diam, memperhatikan wajah yang sudah terlihat berisi itu.
"Ayo makanlah, aku tahu kau suka makan sup iga jadi tadi aku mampir untuk membeli semuanya".
Calvin menyendok kuah didalam mangkuk yang lain dan menatap Alice "Bagaimana enak?". Tanya Alice.
Calvin mengangguk dan melanjutkan makannya, mereka makan dengan hening namun masih terasa hangat.
"Ohya, dua hari lagi aku ada pemeriksaan di dokter, mau ikut?". Calvin meletakkan sendoknya, takut hal buruk terjadi.
"Hanya pemeriksaan rutin tiap bulan, biasanya aku lakukan di kota saat pulang tapi karena sudah jadwalnya jadi lebih baik aku periksa disini".
"Bagaimana mau ikut?" Tanya Alice sekali lagi.
Calvin mengangguk antusias. "Aku Daddy nya aku harus ikut, nanti apakah sudah bisa dilihat apakah dia putra atau putri?" tanya Calvin
"Mm,, ya sepertinya sudah bisa". Calvin terlihat tersenyum lebar membuat Alice hanya menggelang-geleng.
Sampai dikamar, Calvin melanjutkan mencari nama lain untuk calon anaknya. Dia melihat Alice yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sayang, bagaimana kalau Orlando?"
Alice menoleh, dan menatap suaminya bingung, "Orlando?"
"Yah, Kalau dia putri maka aku akan menamakannya Rosse, aku yakin dia secantik dirimu, dan kalau dia ternyata seorang putra maka kita namakan Orlando, bagaimana?".
Alice hanya diam, dia duduk didepan meja rias dan mulai melakukan rutinitasnya. Calvin yang tidak terima diabaikan mendekat dan berdiri disamping meja rias.
"Alice, kau tidak sengaja mengabaikanku kan?" Calvin bersidekap memperhatikan bagaimana istrinya melakukan perawatan pada wajahnya, pantas saja wanita ini semakin cantik, batinnya
__ADS_1
"Tidak sayang".
"Lalu, kenapa sejak tadi kau tidak memberi tanggapan?".
"Yang mana?".
Calvin berdecak dan mulai gemas, dia beranjak dari sana dan menuju kamar mandi, lebih baik dia bersiap-siap dan tidur saja, Orlando atau Rosse sama-sama bagus. Dia akan menggunakan salah satunya nanti.
Alice hanya terkekeh melihat bagaimana Calvin yang kesal karena di abaikan, Alice memang sengaja, sudah lama dia tidak melihat wajah kesal suaminya dan semua itu karena bibi palsunya. Laura.
Calvin keluar dari kamar mandi, dan sudah berganti pakaian, dia menggunakan piyama berwarna biru gelap senada dengan warna yang Alice kenakan.
Alice menoleh ke arah suaminya yang masih terlihat kesal, dan berdiri menghampiri calon Daddy yang sudah masuk dalam selimut.
"Hei, kau marah?". Alice menoel pipuli Calvin.
Calvin yang memang kesal mengabaikan sentuhan itu, dia memejamkan mata dan merasakan Alice yang menjauh, mau tidak mau dia membuka mata lagi dan melihat wanita hamil itu naik kasur dari arah sana.
"Sayang, kau tidak merayuku? kau tidak lupa aku masih kesal?".
"Tidak, lanjutkan saja kesalnya, aku akan tidur".
Jawaban Alice membuat Calvin tergelak, dia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban luar biasa dari istrinya.
"Calv, ayo tidur".
Calvin bedecak lalu menuruti kemauan istrinya, dia mendekatkan diri dan memeluknya dari belakang. Hanya memeluk, dan mereka sudah tertidur pulas sampai pagi menyapa mereka kembali.
Dibagian bumi sebelah sama Laura sudah terbangun dari tidur panjangnya, bahkan gadis itu tidak menyempatkan diri untuk makan malam. Dia turun dari kasur dan langsung menuju kamar mandi membersihkan diri.
Dia ingat apa tujuannya pulang dan dia harus bertemu kakaknya. Antonio.
Laura memakai pakaian yang sedikit lebih longgar, dia suka. Hanya saja karena tugas dari kakaknya dia harus menggunakan pakaian yang sedikit lebih seksi.
Laura menuruni tangga, dan mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari kakaknya tetapi tidak ada juga, dimana dia?
"Hei, Laura, kau pulang kapan?"
Laura mematung, kemarin dia hanya mendengar suaranya, tapi kali ini bukan hanya suara tetapi dia bisa melihat pemilik suaranya.
"Kak Luce...?"
__ADS_1
Laura mendekat ke arah suara, dan termhata disana juga ada kakaknya, Antonio.
"Kak, kau disini? Pantas saja aku mencarimu kekamar dan kau sudah disini". Laura mendekat ke arah kakaknya dan memeluknya.
"Duduklah, dan katakan apa yang membuatmu pulang?". Tanya Antonio.
Laura melirik ke arah Luce, dan Luce faham, maka dia berpamitan untuk kembali, Antonio dan Laura mempersilahkan karena memang mereka harus membahas masalah serius.
Dan disinilah mereka sekarang diruang kerja Antonio.
"Kak, jelaskan apa hubungan kakak dengan Alice?"
Antonio mengerutkan dahi. Laura melanjutkan karena ingin segera mengetahuinya. "Alice bilang kakak adalah pamannya? Dan aku bibiknya?".
Laura menghembuskan nafas berat sangat kesal rasanya dipanggil bibi, apalagi usia mereka yang tidak terlalu jauh. Hanya lebih tua sekitar dua atau tiga tahun.
"Dia memang keponakanmu". Laura membulatkan mata mendengar jawaban kakaknya
"A-apa? Kakak jangan bercanda? Kakak sendiri yang bilang kita hanya berdua, tidak ada keluarga yang lain?".
Antonio berdiri dan mendekat ke arah adiknya, memang salahnya karena tidak menjelaskan apapun pada Laura, itu karena dia tidak ingin membuat adiknya merasa tersakiti.
"Alice adalah anak dari kak Advinson". Laura semakin membelalak. Dia mengingat kakaknya, saat itu usianya memang sangat kecil tapi masih mengingat bahwa dia juga memiliki satu kakak laki-laki lain.
"Lalu..? jika benar dia anak dari kak Advinson kenapa kakak ingin menjadikannya istri? Atau kakak memang bercanda?"
"Kita dan kak Advinson tidak ada hubungan darah, jadi tidak ada salahnya Alice menjadi kakak iparmu". Jelasnya membuat Laura semakin bingung.
"Kak, dia bahkan lebih muda dariku, lagi dia sudah menikah? dan sepertinya dia hamil!". Laura memang menyadari ada yang berbeda dari Alice selain tubuhnya yang sedikit berisi dia juga melihat perutnya sedikit menonjol. Pantas saja wanita itu selalu menggunakan baju over size.
"Tapi, kakak menginginkannya?". Antonio berjalan santai dan duduk kembali ke kursinya.
"Bagaimana dengan Caroline? Aku juga tidak menyukainya tetapi lebih baik dia daripada Alice"
"Laura"
"Kak".
"Ck, tidak ada bantahan, kau lakukan tugasmu pisahkan mereka bagaimanapun caranya, dan aku akan membuat Luce kembali padamu, bagaimana?".
Tawaran Antonio membuat Laura terdiam, dia memang mencintai Luce, Pria itulah yang memintanya bekerja dengan Calvin, ternyata karena ide kakaknya, dan apa katanya dia ingin mengembalikan Luce? Yang benar saja bahkan sekarang dia harus merusak rumah tangga lain.
__ADS_1
"Bagaimana?".