Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Menemui Alice


__ADS_3

Sampai di tempat tujuan, Laura menyerahkan Melisa--keponakannya pada ibunya, dia sudah membawa keponakannya selama beberapa hari, tidak rewel sebenarnya hanya saja, setiap kali bayi malang itu mendengar suara kakaknya pasti langsung menangis. Aneh sekali.


"Aku membawanya kembali." Laura mengelus pipi gembul Melisa. Jujur saja Laura sangat menyukai keponakannya, bayi perempuan yang sudah 5 bulan itu sangat cantik.


Laura melanjutkan, "Didalam tas itu, ada uang, kau bisa gunakan untuk kebutuhan Melisa dimasa depan." Laura duduk di sofa, menunjuk tas yang lain, "Disini ada beberapa pakaian yang ku belikan untuknya, sepatu juga beberapa mainan, kau bisa menambahkannya nanti."


"Kenapa kau sangat baik padaku." Tanya Mala, dia menidurkan Melisa di box nya, anaknya terlihat sangat mengantuk tadi.


"Jangan salah paham. Aku melakukannya untuk Melisa--keponakanku, bukan untukmu." tegas Laura.


Laura menambahkan, "Pergilah lebih jauh, mulai kehidupan barumu. Kau bukan lagi wanita sendiri, ada anak yang harus kau hidupi."


Laura berdiri dan bersiap akan pergi, namun sebelumnya dia berbalik, "Jangan lagi lakukan hal seperti ini, jadikan apa yang terjadi sebagai pelajaran."


"Kenapa harus aku sendiri yang menanggungnya? Bukan salahku jika Calvin lebih mencintaiku." Mala masih mengingat awal kehancurannya adalah karena mengusik rumah tangga Alice dan Calvin.


"Kau salah, tuan Calvin dan Alice juga menanggungnya, mereka bercerai dan anak mereka, juga sama seperti Melisa, keluarganya tidak lengkap."


Mala tertawa miris, "Tapi, tidak harus menghancurkan semua jalan usahaku. Alice begitu mengerikan, dia bahkan membuatku menjadi miskin."


"Itu harus kau tanggung karena salah memilih lawan." setelah mengatakan itu Laura meninggalkan rumah dimana Mala hidup selama ini, rumah milik Laura sebenarnya tetapi sudah tidak dihuni. Dan sudah jelas Laura meminta Mala untuk meninggalkan rumahnya dalam waktu dekat. Sungguh menjadi Mala sangat memprihatinkan.


Mala menarik rambutnya kuat, dia harus menemui Alice, selama Melisa bersama Laura, dia mencari tahu dimana keberadaan mantan istri Calvin, dan setelah berhari-hari mencari dia menemukan. Laura sampai berdecak kagum karena melihat rumah wanita itu.

__ADS_1


Tuhan terlalu mencintai Alice sampai melimpahkan semua kemewahan dan keberuntungan padanya.


"Nona, ada yang mencari anda." pelayan wanita di rumah Alice datang menghadap ke kamar Orlando, Alice masih membiarkan dirinya dipanggil nona meski dia sudah memiliki anak, entahlah, dia malas saja harus merubah mereka.


"Siapa?"


"Seorang wanita dengan anak perempuannya, katanya dia teman anda." Alice mengerutkan kening lalu meminta pelayan menyampaikan pada sang tamu bahwa dia akan turun dalam beberapa menit.


Alice menidurkan Orlando yang sejak tadi memang di timangnya, memberi kecupan di kening dan turun ke lantai bawah, dia penasaran dengan wanita yang mengakui dirinya sebagai teman.


Sampai di ruang tamu, Alice menghela napas pelan saat melihat siapa wanita yang mengakuinya teman. Mala berdiri, dia sangat canggung, berada di rumah Alice membuatnya semakin kecil, dia yang hanya orang biasa saja semakin dibuat rendah berhadapan dengan wanita yang kekasihnya nikahi dulu.


"Duduklah!" suara Alice selalu setenang ini.


"Alice, aku datang untuk ...."


Mala menjeda, dia semakin gugup saja, tetapi semakin lama dia dihadapan Alice, maka semakin tidak baik.


"Ya, kau datang untuk apa? Kita bukan teman, jadi pasti ada sesuatu yang ingin kau sampaikan sampai berbohong bahwa kita adalah teman."


Mala mengigit bibir bawahnya, setelah beberapa saat sama-sama terdiam akhirnya Mala memberanikan diri untuk berbicara, "Aku minta maaf."


"Untuk?"

__ADS_1


"Semuanya. Aku sudah menghancurkan rumah tanggamu."


"Lalu?"


"Alice, aku sadar, apa yang aku lakukan padamu adalah salah." Alice hanya diam saja membuat Mala semakin berkeringat.


"Sudah?"


Mala mengangguk pelan, dia mengeratkan pelukannya pada Melisa yang hanya diam memainkan gelang yang diberikan tantenya--Laura.


"Meskipun ucapan maafmu sangat terlambat, tetapi aku akui kau sangat berani karena mendatangiku." Alice menghela napas pelan lalu melanjutkan, "Aku sebenarnya berterima kasih padamu, karena aku tahu bahwa cinta Calvin padaku tidak sebesar cintanya padamu." Alice tersenyum kecil.


"Alice aku--,"


"Temui dia, jangan sampai kau terlambat mendapatkannya, kau tahu ada seorang wanita juga tengah berjuang mendapatkan perhatiannya."


Mala terkekeh kecil, "Dia tidak akan berhasil."


"Kenapa seyakin itu? Kau kira Calvin akan menunggumu?" Mala mengedikkan bahu.


"Calvin tidak akan melihatku lagi, jadi percuma saja aku menemuinya."


"Kau menyerah setelah membuat kami berpisah?" ejek Alice dia kembali menambahkan, "Atau memang sejak awal kau memang berniat memisahkan kami."

__ADS_1


__ADS_2