Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Bab 28| Nama Rosse


__ADS_3

Setelah kepergian Laura, Alice kembali mendudukkan diri di sofa, dimana tadi dia meluruskan kakinya. Hal yang sama dia lakukan kembali.


"Kau mau makan apa?" Tanya nya pada istrinya


"Apa saja, tapi kalau ada nasi goreng, aku juga mau". Alice menjawab dengan cengiran.


Calvin memesan makanan yang diminta Alice, selagi mereka menunggu makanan Calvin menatap Alice lekat. "Tadi, Laura bilang apa?" katanya hati-hati takut Alice salah faham


"Oh itu, bukah hal yang penting". Jawabnya masih bersandar dengan kembali memainkan tabletnya


"Kau sibuk? Aku rasa sepupumu memang tidak ingin membiarkanmu bersantai".


Alice tertawa dan meletakkan tabletnya kembali ke meja. "Benar, kak Samuel memang tidak pernah menginginkan posisinya". Alice kembali tertawa membuat hati Calvin menghangat "Kau tahu, dia bahkan mengomel selama seminggu karena aku menyerahkan jabatan itu padanya".


Alice menghentikan tawanya, dan menghapus air disudut matanya "Kau tahu Calv, perusahaan itu adalah satu-satunya yang Ayahku miliki sekarang, sedangkan perusahaan cabangnya sudah berpindah nama". Alice mendesah terlihat sangat tidak menyukai pembahasan ini.


"Maaf".


"Kenapa?" tanyanya heran.


"Karena tidak bisa melakukan apapun untuk membantu".


"Tidak masalah, kau sudah kembali untukku saja aku sudah bahagia". Alice berkata jujur, andaikan saja suaminya benar-benar berpaling, dia tidak akan tahu bagaimana dia akan menjalani masa kehamilannya tampa Ayah dari bayi nya.


"Mana mungkin aku akan meninggalkan wanita cantik sepertimu". Katanya yang langsung diberi cibiran oleh Alice langsung.


"Kau tidak percaya?"


"Tidak, aku tahu, kau tidak akan kekurangan wanita cantik kalau aku pergi".


"Benar, Tetapi aku tidak akan bisa mendapatkan wanita sepertimu, mereka bisa saja lebih cantik, tapi mereka tidak akan bisa mendapatkan hatiku". Katanya bangga.


Tidak lama mereka berbincang, seseorang mengetuk pintu dan membawa masuk beberapa paper makanan.


Pesanan nasi goreng, minuman dan cemilan sudah tersedia di atas meja. Melihat bagaimana istrinya berbinar Calvin membiarkan nya makan sendiri, karena dia akan melakukan rapat beberapa menit lagi.


Dia harus mencari asisten baru, agar tidak lagi lupa jadwalnya.


Calvin meninggalkan ruangan saat jam rapat sudah akan dimulai, meninggalkan Alice dengan makanannya sendiri.


Setelah satu jam berlalu, Calvin sudah selesai dengan rapatnya, dia kembali dengan terburu-buru ke dalam ruangan. takut Alice akan bosan menunggunya.

__ADS_1


Saat membuka pintu, dia tidak melihat siapapun didalam, bahkan bekas makanan Alice pun tidak terlihat. Ruangan itu terlihat bersih.


Dia melangkah masuk, mencari dimana Alice, mungkin saja dikamar mandi, tetapi wanita hamil itu tidak terlihat dimanapun.


Karena rasa cemas, dia menghubungi nomer istrinya, satu kali dua kali tidak ada jawaban, namun di panggilan ke tiga Alice mengangkat membuat Calvin lega.


"Sayang, kau dimana?". Katanya dibalik telpon. Sedangkan Alice yang saat ini berada si sebuah restauran hanya tersenyum lurus kedepan.


"Mm,, jangan hawatir aku terburu-buru tadi, jadi tida bisa mengatakan akan keluar". Katanya meyakinkan.


"Baiklah, aku akan menunggumu dirumah". Alice memutus panggilan dan kembali memperlihatkan wajah manisnya. Yang ditatap hanya melihatnya dengan malas.


"Jadi, apa tujuanmu memangilku, bibi?". Katanya melihat Laura yang sedari tadi menatap tidak suka padanya.


"Bibi? Kau memanggilku apa?" Laura tidak akan terima dipanggil bibi.


"Woah, aku semakin tidak percaya, bibiku bahkan tidak mengakuiku, bahkan dia dengan beraninya menggoda suamiku".


Laura mengepalkan tangan, apakah dia setua itu sampai wanita ini memanggilnya bibi?


"Sekarang katakan, kau memanggilku untuk apa, bibi?". Alice sengaja menekan kata terakhir agar Laura semakin kesal.


"Tinggalkan Calvin". Mendengar itu Alice hanya tertawa dengan menutup mulutnya, namun tawanya masih bisa didengar Laura.


"Yah, bukankah lebih baik aku mengatakannya langsung, karena aku tidak akan melakukan nya diam-diam". Jawabnya tampa rasa malu.


"Mm, aku akui kau memang berani, bahkan jika ada perlombaan wanita tidak tahu malu, aku yakin bibi akan menang". katanya masih dengan tatapan remehnya pada Laura.


Luara menghembuskan nafas pelan laku membuangnya. ingin sekali dia menampar wanita didepannya, tetapi dia sadar anak buah kakaknya berada disekitar sini.


"Kenapa diam? Apakah paman Antoni yang menyuruhmu melakukan ini?"


Laura terdiam, Alice mengetahui kakaknya dan memanggilnya paman, apakah dia tahu sesuatu?


"Kenapa? Kau heran kenapa aku tahu?".


Alice melihat jam ditangannya, lalu menatap kembali Laura, "Aku tidak tahu apa tujuan kalian merencanakan ini pada keluargaku, tapi sampai aku tahu dan kalian memang berniat untuk itu aku tidak akan memaafkan kalian".


Alice berdiri, dia merasa hanya buang-buang waktu datang mendengarkan hal tidak penting.


"Kau membuang waktuku, oh ya sampaikan salamku pada paman". Setelah mengatakan itu Alice pergi tampa menoleh.

__ADS_1


Didalam mobil Alice memijat pangkalnhidung, kepalanya pening mengingat bagaimana gilanya Laura. "Dia kira aku akan melapaskan Ayah dari anakku?"


Alice kembali kerumah, dia akan istrahat sudah cukup dia berjalan-jalan hari ini. Dia akan memasak sesuatu yang dirumah. Makan malam berdua akan meningkatkan keharmonisan rumah tangga.


Dilain tempat Laura yang sangat marah membawa mobilnya dengan kecepatan penuh, dia harus meminta penjelasan pada kakaknya Antonio.


Dia memang tidak banyak mengetahui tentang keluarga mereka karena sedari dulu Laura tidak diperkenalkan dengan siapapun dan karena dia memang tidak membutuhkan itu membuat nya sekarang seperti orang bodoh.


"Bibi? Dia memabggilku bibi?". Geram Laura, jika dia tahu ini hanya akal-akalan Alice dia tidak akan memaafkan wanita itu.


Setelah melewati perjalanan selama beberapa jam, Laura tiba saat hari hampir saja gelap. Anak buah kakaknya yang berjaga didepan membungkuk, tetapi dia Laura, dia tidak akan perduli dengan siapapun yang menurutnya memang tidak penting.


Kaki jenjang itu melangkah masuk, dia tidak berhenti diruang tamu tetapi langsung menuju kamar Antonio.


Diluar kamar dia mendengar *******-******* naknat mengalun didalam kamar kakaknya.


"Kenapa mereka tidak menutup pintu". Gerutunya berbalik menuju kamarnya. lebih baik mengatakannya besok pagi saat sarapan.


Dikediaman Calvin, Alice sudah menyelesaikan pekerjaannya, membuat makan malam untuk suaminya. Dia baru saja akan naik kelantai atas untuk membersihkan diri, Calvin turun dengan wajah tampannya.


"Tunggu, aku akan mandi dulu, Oke".


Alice berjalan cepat meninggalkan Calvin yang meringis melihat bagaimana istrinya sangat gesit. Sementara menunggu Alice selesai memberaihkan diri Calvin berjalan ke ruang keluarga, mungkin menonton tv bisa membuatnya sedikit terhibur.


Benar saja, setelah menyalakan tv Calvin ditampilkan dengan iklan-iklan pakaian bayi, dia membayangkan bagaimana bahagianya saat menggendong bayi mungilnya.


Dia berfikir akan mencari nama mulai sekarang, semua yang dia ingat nama adalah nama anak perempuan.


Calvin yakin anak perempuan lebih baik, karena lebih mudah diatur, lagi jika anak mereka perempuan dia yakin akan secantik Alice.


"Kau disini ternyata". Kata Alice yang baru saja datang. Walaupun hanya mengenakan pakaian rumahan wanitanya selalu saja terlihat cantik.


Calvin memanggil dengan menggerakkan tangan agar Alice mendekat, dan menepuk pahanya


"Duduk disini". Katanya masih menepuk pahanya.


"Aku berat, Calv".


"Kau meremehkan kekuatanku? Ayo, sini duduk".


Mau tidak mau Alice duduk dipangkuan suaminya dan mengalungkan tangan dilehernya. Dia tidak akan bisa lebih dekat lagi karena perutnya sudah mulai terlihat.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita namakan anak kita dengan nama Rosse".


__ADS_2