Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Penyesalan Antonio


__ADS_3

Tiba di apartemen milik Edgar, Orlando langsung di sambut oleh Arabella, wanitq cantik itu langsung mencium habis wajah menggemaskan Orlando.


"Kau membawanya terlalu lama." liriknya pada Alice yang hanya menampilkan wajah tidak bersalah.


"Dia rindu ayahnya, tidak mungkin aku memaksa mereka berpisah begitu saja." Alice duduk di sofa. Dia lelah. Melihat itu Edgar langsung masuk dapur dan membawa minuman untuk Alice


"Terima kasih kak." Alice menerima air yang Edgar berikan dan meneguknya seperempat.


Arabella jelas saja cemburu, pria itu tidak bisa menyembunyikan perasaannya, terlalu terlihat dan itu membuat Bella sadar, bahwa Edgar hanya mencintai satu orang dan itu Alice.


"Bagaimana kondisi mantan suamimu? Ah, aku tidak habis pikir dia akan mengkhianatimu." Bella menghela napas panjang, dia sesalkan Calvin yang bagitu bodoh.


"Dia baik, tidak ada perubahan mencolok selain dia yang seperti tidak terawat."


"Kau menyesal?"


"Tidak. Aku rasa ini jauh lebih baik, dia tidak perlu perlu berpura-pura mencintaiku lagi."


Arabella menggenggam tangan Alice kuat, seperti memberi kekuatan. Saat ini mereka tinggal berdua karena edgar sudah bermain bersama Orlando di dalam kamar.


"Besok aku harus kembali." Alice menoleh, dan Arabella mengangguk.


"Kalau begitu, aku harus bersiap dan meminta kak Samuel menjemputku." Alice sudah akan bersiap, ada banyak sekali barangnya di apartemen Edgar, dan dia harus segera mengumpulkannya.


"Hei. Aku yang akan pergi, kenapa kau yang sibuk sekali?"

__ADS_1


"Bella, ada banyak barang Orlando, jika tidak menyiapkannya, takutnya ada yang terlupa."


"Alice, apa hubungannya?"


Alice jelas bingung, "Kalian akan pergi, jadi aku dan Orlando juga harus kembali ke rumah kan. Aku juga akan pergi dalam beberapa minggu, tapi lebih baik tinggal dirumah dulu, kan?"


"Siapa yang kau maksud dengan kalian? Aku pergi sendiri."


"Apa maksudmu? Bagaimana dengan kak Edgar? Apa dia akan menyusulmu? Baiklah, tetap saja aku harus bersiap?"


Arabella berdecak, "Tuan tidak akan ikut."


"Kenapa?"


Arabella tertawa, tetapi hatinya terluka, "Tentu saja karena aku memintanya." Arabella menghela mapas lalu melanjutkan, "Aku menyerah, mungkin sudah waktunya aku berhenti." Alice terlihat akan menyela tetapi Bella lebih dulu mengambil suara, "Dia mencintaimu, kau mencintainya, tidak akan ada lagi penghalang untuk itu."


"Aku akan senang kalau kalian bersatu."


"Bella, apa kehadiranku di sini membuatmu berpikit seperti ini? Sekarang dengarkan aku ya," Alice mengusap tangan Bella, "Jangan salah paham dengan kedekatan kami, dia sudah seperti saudara bagiku."


"Tapi Tuan, akan selalu menganggapmu wanita." Arabella melanjutkan, "Jangan kecewakan aku, aku ingin kalian bersama."


"Tidak akan!"


"Aku memaksa."

__ADS_1


Alice berdecak, "Aku tidak ingin membahas ini, katakan padaku, kenapa kau memutuskan pulang? Kau tidak suka tinggal bersama kami?"


"Aku merindukan ibuku. Lagi, aku sudah sangat lama meninggalkan rumah." Arabella terkekeh kemudian melanjutkan, "Aku berjanji akan datang di pernikahan kalian!" goda Arabella.


Sementara itu, di kediaman Antoni paman Alice itu tengah memijat kepala karena pusing mendengar tangisan anak perempuan yang Laura bawa.


"Laura ... Kalau kau tidak ingin mengurusnya, kembalikan pada ibunya!"


Antonio tidak habis pikir bagaimana bisa Laura membawa anak dari Mala datang kerumahnya, astaga, haruskan dia mengungsikan adiknya lagi.


"Dia anakmu kak!"


Antonio menoleh, dia memicingkan mata pada Laura yang merasa tidak bersalah sama sekali. Antonio menghempaskan bokongnya dengan keras, dia sangat lelah, dan sekarang harus di sambut dengan tangisan anak kecil.


"Bawa dia kembali Laura!!"


"Tidak, sebelum kakak mengakuinya."


"Omong kosong!"


"Terserah kakak saja. Melisa anakmu, tidak peduli kau mabuk atau sengaja, Mala mengandung anakmu dan ini anakmu!"


Melisa semakin histeris, karena mendengar kedua paman dan bibinya saling berteriak. Laura mendekat dan menggendong keponakannya.


"Aku akan bawa dia kembali pada ibunya. Aku juga akan membiayai kepergian mereka. Setidaknya aku memiliki kesempatan menggendong keponakanku." Laura sudah akan bersiap keluar mansion, kemudian kembali berbalik, "Setelah ini aku harap kakak jangan menyesal karena tidak bisa menemui darah daging sendiri. Kau boleh tidak menyukai ibunya, tapi, jangan libatkan anakmu kak, dia tanggung jawabmu."

__ADS_1


Antonio hanya diam, dia memperhatikan Laura yang pergi bersama supir, pria itu mendesah lelah. Dia mengingat bagaimana buasnya dia yang kehilangan kendali karena mengira Laura adalah Alice nya.


"Alice ... Aku hanya mencintaimu, bagaimana bisa aku menerima wanita lain dalam hidupku ...." lirihnya.


__ADS_2