Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Pernahkah Paman Merasa Bersalah?


__ADS_3

Besok harinya Orlando sudah di izinkan untuk pulang, Alice menyiapkan anaknya, sementara Edgar pergi untuk mengurus Administrasinya.


"Mommy, dimana Daddy?" tanya Orlando, dia baru saja selesai dengan sarapannya, setelah ini mereka akan pulang.


"Daddy sudah kembali, kan bekerja." jelas Alice.


"Mommy, ayo bertemu Daddy lagi."


Alice hanya tersenyum kecil tidak menjawab apaoun juga tidak mengatakan penolakan, dia masih tidak bisa bertemu dengan Calvin setelah apa yang pria itu katakan padanya.


Edgar yang baru saja menyelesaikan semuanya masuk ke dalam ruangan, dia melihat putranya sudah duduk dengan senyum yang merekah menyambutnya.


"Papa ... Mau bertemu Daddy boleh, ya?"


Edgar menatap Alice yang menggeleng pelan tetapi dengan senyuman karena Orlando juga menatapnya.


"Orlando mau bertemu Daddy?" anak kesayangan Alice itu mengangguk, Edgar menambahkan, "Setelah jagoan Papa sembuh dengan baik, kita pergi menemui Daddy sebelum kembali ke rumah kita di inggris."


Alice yang mendengar itu tidak ada pilihan lain selain menghela napas pelan, mereka memang harus pindah seperti kesepakatan dari awal.


Sesampainya di rumah, Edgar langsung membawa Orlando ke kamarnya, putranya sudah tidur saat diperjalanan. Setelah memastikan Orlando tertidur dengan baik, Edgar menyusul Alice yang berada di dapur menyiapkan kopi untuk mereka berdua.


"Bella tidak menelepon kakak?" tanya Alice yang menyodorkan kopi dihadapan pria yang pernah menjadi cinta pertamanya.


"Masih membahasanya?"

__ADS_1


"Kak, kau harus memikirkan masa depanmu."


"Dan kau masa depanku." tegas Edgar. Dia tidak akan pernah bosan mengatakannya, bahkan sampai kapanpun, dia akan tetap melihat Alice. Untuk Arabella, Edgar sudah sering mengatakan bahwa pria itu hanya mencintai Alice, namun jangan salahkan Edgar jika pada akhirnya Arabella tetap pergi dengan kecewa.


Alice menghela napas lelah. Bagaimana mengatakannya, dia memang pernah mencintai pria dihadapannya, karena Edgar adalah cinta pertamanya. Tapi, setelah penghianatan Calvin, apakah dia mampu membuka hati, terlebih ada wanita lain yang mencintai Edgar?


"Kak, aku--,"


Edgar menggeleng, "Jangan mengatakan apapun. Kalau minta aku untuk menikahi wanita lain, aku tidak akan pernah mau. Kalau pada akhirnya perasaanku padamu sia-sia karena kau tidak ingin bersamaku. Aku tidak akan marah. Sungguh. Karena aku, juga tidak akan menikah dengan siapapun."


"Kenapa harus seperti itu?"


"Dengarkan aku, aku berjuang sejauh ini untuk siapa? Untukmu, agar aku terlihat pantas bersamamu." Edgar menggenggam tangan Alice, ibu satu anak itu membiarkannya, dan Edgar melanjutkan, "Tolong jangan paksa aku untuk bersama wanita lain, kalau kau memang tidak ingin bersamaku. Aku bahagia seperti ini."


Alice hanya diam. Jujur saja, untuk saat ini, dia tidak ingin membahas apapun tentang kebersamaan. Apakah harus memaafkan Calvin atau memberi kesempatan untuk cinta pertamanya. Dia hanya ingin berama Orlando anaknya.


"Telepon. Atau kakak datangi rumahnya." putus Laura.


"Bagaimana jika dia menolak?" Antoni masih ragu. Selama ini dia sudah menahan diri untuk menjauh dari Alice sampai kabar perceraian itu di dengarnya, tetapi semakin lama semakin tersiksa dirinya.


Laura menghela napas, "Kak, apakah kakak tidak memikirkan Melisa--anak kakak barang sedetik? Dia anak kandungmu kak."


Laura jengah, dia kasihan pada keponakannya. Tetapi kakaknya, masih saja mempertahankan egonya.


"Dia bukan anakku."

__ADS_1


"Kita sudah melakukan tes bersama kak. Disana tertulis jelas kalau Melisa anak kandung kakak, lalu bagaimana bisa kakak mengatakan dia bukan anakmu?" kesal juga lama-lama Laura. Memang saat Laura membawa Melisa menginap di rumahnya, dia melakukan tes DNA pada bayi malang itu, dan di sana jelas sekali membuktikan bahwa Melisa adalah keponakannya.


Laura melanjutkan, "Aku tahu, kakak melakukannya dengan Mala karena mabuk dan membayangkan wajah Alice, tetapi, kenyataannya adalah, dia melahirkan anakmu kak."


Anitonio berdiri, dia tidak ingin mendengar apapun tentang wanita yang di kenalnya beberapa hari sehingga insiden itu terjadi. kakak Laura yang pernah melakukan kesalahan itu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


"Alice, kau yang bertanggung jawab. Kau membuatku gila." frustasi Antonio memukul stir mobilnya.


Sampai di tempat yang dituju, Antonio di izinkan masuk karena semua penjaga mengenalnya sebagai kerabat sang nona.


"Saya akan memanggil nona, silahkan duduk tuan." pelayan wanita dengan senyum ramah menunduk dan meninggalkan Antonio menunggu di ruang tamu.


Alice yang tahu bahwa siapa yang datang segera turun, memang tadi dia tidak sengaja melihat ke arah jendela dan melihat Antonio--pamannya datang.


Sementara itu, Edgar, pria itu sudah kembali ke mansion ayahnya, beberapa menit yang lalu.


"Selamat siang paman." Alice duduk dengan anggun. Mengabaikan rasa sakit bahwa pria di hadapannya adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian orang tuanya.


Andai saja, dia tidak membaca catatan kecil ayahnya, mungkin dia sudah menghukum pria dihadapannya sekarang.


"Alice, bagaimana kabarmu dan anakmu baga--,"


"Saya baik paman. Maaf memotong ucapan paman, boleh Alice tahu, tujuan paman datang apa?"


"Alice, kenapa pertanyaanmu seperti itu? Apakah aku tidak boleh datang, terlebih itu menjengukmu?"

__ADS_1


"Paman. Apakah paman pernah sekali saja merasa bersalah bertemu denganku?"


__ADS_2