Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Edgar dan Calvin


__ADS_3

Alice mundur selangkah dan menggeleng, dia yang akan pergi menemui putranya dicegah oleh Calvin yang memekuknya dari belakang. Bahkan pria itu tidak memperdulikan orang yang lalu lalang melihat mereka.


"Apa yang kau lakukan?" suara Alice dingin dan mencoba melepas diri, tetapi pelukan Calvin sangat kuat.


"Diamlah sebentar saja!"


"Kau tidak malu? Orang-orang melihat ke arah kita."


"Alice, aku masih mencintaimu. Ayo kembali bersama."


Alice sudah tidak tahan melepas diri dengan sekuat tenaga, Calvin sampai terkejut karena Alice benar-benar mencoba menjauh.


"Kau tidak malu Calvin? Siapa yang pertama kali menyakitiku? Kau!" tunjuk Alice.


"Bodohnya aku, yang terlambat tahu, Kau bahkan membuat perjanjian dengab ayah, bahwa kau tidak akan pernah menganggapku ada, tidak ingin tahu tentang diriku dan keluargaku, dan jika aku sampai hamil, kau pertaruhkan hartamu." Alice tertawa kemudian melanjutkan, "Bukankah ini sudah bukti bahwa kau memang sejak awal tidak ingin menganggapku, aku aib begitu?"


"Alice, kau salah, bukan seperti itu."


"Lalu seperti apa? Bahkan saat malam kau dan Laura tertangkap basah, kau masih memperkerjakannya kan? Kenapa? Karena kau ingin membandingkan kami?"


Calvin menggeleng, kejadian bersama Laura memang tidak disengaja, karena di dibawah pengaruh obat.


"Lalu, sejak kapan kau mencintaiku? Sejak semua hartamu dipindah tangankan pada Orlando?"

__ADS_1


"Aku memang mencintaimu sejak lama, saat pertama kali bertemu--,"


"Tetapi masih ada Mala yang lebih kau cintai bukan?"


Calvin terdiam. Apa yang Alice katakan memang benar, tetapi itu masa lalu, saat ini, dia sudah berubah dan ingin memperbaiki semuanya. Bukankah seharusnya Alice memberi kesempatan?


"Calvin, dengarkan aku. Kita sudah tidak bisa bersama. Aku tidak akan menyakiti diriku untuk kesekian kalinya, aku--,"


"Apakah karena Edgar? Apakah kalian akan mewujudkan cinta kalian? Kalau begitu, aku ingin Orlando ikut bersamaku, aku tidak ingin dia di besarkan oleh pria lain."


"Kau memang sudah gila!"


Alice meninggalkan Calvin yang berteriak karena kesal, dia masuk ke dalam ruangan Orlando, dan menabrak Edgar yang kemungkinan menguping.


"Kak, jangan pernah menguping lagi lain kali!"


Dengan langkah tergesa, Edgar masih berhqrap akan menemukan keberadaan Calvin, entahlah! Dia merasa sangat muak pada mantan suami Alice, terlebih saat mengedengar bahwa Calvin akan mengambil Orlando.


"Tuan Calvin."


Calvin yang disebut namanya berhenti dan menoleh, alisnya sedikit menaut karena tidak tahu untuk apa Edgar menemuinya. Apakah pria ini akan menagih uangnya sekarang?


"Tuan Edgar, anda--,"

__ADS_1


"Anda memiliki waktu? Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."


Beberapa saat Calvin berpikir dan kemudian mengangguk. Di sebelah rumah sakit ada sebuah restoran. Edgar membawa Calvin sekalin untuk makan bersama.


"Tidak ingin memesan makanan?" tanya Edgar.


"Langsung saja, Tuan ingin mengatakan apa?"


"Kita makan dulu ba--,"


"Tuan, saya harus kembali bekerja jadi, tolong katakan saja, apa tujuan anda mengajak saya untuk bicara."


Edgar tersenyum, sudah ada kopi di hadapannya, dia memang memesan kopi sebelumnya tadi. Pria yang selalu mencintai Alice itu menyesap kopinya perlahan, lalu meletakkan di atas meja dengan anggun.


"Lupakan Alice."


"Apa? Ah, karena ini menyangkut ibu dari anakku?"


Edgar tidak menjawab, dia masih membiarkan Calvin tertawa karena menurut Calvin apa yang dikatakannya lucu.


"Diantara kami ada Orlando, jadi apa salahnya kami kembali?"


"Tentu saja salah. Orlando putraku, aku yang bersamanya saat dia baru lahir di dunia, lalu ibunya? Kami saling mencintai, bukankah orang yang saling mencintai harus bersama?"

__ADS_1


Calvin terdiam, dia memperhatikan cincin yang Edgar gunakan, dia masih mengingat cincin yang Alice gunakan juga. Dan ini sangat mirip.


"Rupanya bukan hanya aku saja yang jahat, tapi kalian berdua juga. Asistenmu siapa namanya? Bukankah dia mencintaimu. Lalu kau buang saat tahu Alice sudah menjanda?"


__ADS_2