Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Bab 21 | Oh keponakanku


__ADS_3

Alice masih terdiam, sebenarnya dia bisa saja menjelaskannya namun dia masih merasa tidak perlu. Entah karena apa.


"Kau diam, membuatku semakin yakin bahwa kau memang masih memiliki perasaan untuknya". Calvin menatap manik indah itu.


"Alice, apakah kau tidak bisa mempercayakan aku menjadi satu-satunya pria dalam hidupmu?" Calvin kembali bertanya karena melihat bagaimana kediaman istrinya.


Alice menghambur ke pelukan Calvin, dia mencintai suaminya, walaupun rasanya terlambat tapi dia sudah mencintainya. Sangat.


Dia hanya tidak menyukai pertanyaan-pertanyaan itu seolah dia tidak bisa melupakan kisah yang belum terjadi.


"Kau tahu, kau sekarang terlalu banyak bicara, berapa kali aku katakan aku mencintaimu". Memeluk erat suaminya.


"Lalu kenapa kau diam?"


"Aku tidak suka, kau terus saja membahasnya, itu hanya masa lalu, tolong jangan membahasanya". Calvin mengangguk, dia memang tidak mau membahas ini hanya saja dia ingin memastikan bahwa dugaannya saja.


"Jadi kapan kita kembali kerumah?" Tanyanya


"Aku masih ada pekerjaan sekitar dua atau tiga hari lagi, kau masih bisa menunggu?" tanya Alice kemudian.


Calvin berfikir, sebenarnya dia masih ada pekerjaan mendadak, tetapi meninggalkan Alice disini membuatnya hawatir. Dia belum bisa memegang kendali pekerjaan Alice. Melihat suaminya diam membuat Alice menepuk punggung tangan itu lembut.


"Kembalilah dulu, jangan hawatirkan aku, setelah pekerjaanku selesai aku akan segera kembali". Alice memang sudah merasa baik-baik saja, dokter hanya mengatakan dia harus banyak istrahat dan jangan banyak beban fikiran. Selebihnya tidak ada masalah.


"Tapi, bagaimana-"


"Kami akan baik-baik saja, dikantorpun aku tidak melakukan banyak hal, ada kak Samuel, mereka hanya membutuhkan kehadiranku saja". Alice menjelaskan.


"Samuel?"


"Hm,, dia sepupuku, dia adalah CEO pengganti disana". Jawab Alice terkekeh, dia tahu bagaimana kesalnya sepupunya dengan tanggung jawab itu.


"Nanti, aku akan mengenalkanmu padanya, dia sangat baik".

__ADS_1


Karena Calvin memiliki perkerjaan mendadak, dengan berat hati dia kembali lebih dulu, meninggalkan Alice yang memang sudah terlihat lebih baik, hanya sedikit lemah saja.


"Maafkan aku, tapi aku harus kembali lebih awal, proyek ini sangat penting". Katanya mengecup kening istrinya.


"Hm, hati-hatilah, aku akan mengabarimu nanti saat akan kembali". Alice tidak akan melakukan hal yang sama lagi, terakhir kali dia memberi kejutan pada suaminya, tetapi sialnya dia yang lebih terkejut.


"Harus, aku akan menunggu". Setelah mengatakan itu Calvin masuk mobilnya dan berlalu meninggalkan kediaman istrinya, ada rasa hawatir dihatinya tentu saja, wanitanya hamil dan baru saja keluar dari rumah sakit, lagi dia tidak bisa percaya pada Edgar. Andaikan saja mereka berdua tidak terlibat satu kontrak yang menguntungkan Calvin bisa saja langsung membatalkan kerja sama itu tetapi dia tidak akan mencampur adukkan pekerjaan dengan urusan pribadi.


Setelah kepergian Calvin, Alice masuk rumah melangkah pelan dengan memegang perut bawah yang sedikit nyeri, ini pertama kalinya dia rasakan selama dia masih menyembunyikan kehamilannya tidak pernah sekalipun dia merasa ada yang salah.


Baru menaiki beberapa anak tangga, Edgar datang bersama Arabella, melihat itu Alice hanya tersenyum walau dihatinya masih ada sedikit rasa aneh.


"Alice, biar aku bantu". Bella sedikit berlari untuk segera sampai pada wanita cantik itu, memapahnya naik tangga perlahan. Edgar hanya memperhatikan dari bawah. Jaga-jaga jangan sampai ada yang terjatuh.


"Terima kasih". Alice tersenyum manis setelah sampai di undakan terakhir. Dia akan berjalan sendiri ke kamarnya namun Bella masih setia membantunya sampai kamar.


"Kau sangat baik, aku yakin Kak Ed makin menyukainmu". Alice menggoda Bella yang memutar mata malas.


"Jangan menggodaku, dia mencintai-".


Alice menghentikan ucapan Bella yang terus saja merasa tidak pantas bersma Edgar.


"Semoga saja, dia akan mencair, walaupun memang kau lebih istimewa, kau sangat cantik dan baik"


Alice hanya tertawa hambar. Tidak ada gunanya kecantikan dan kebaikan menurutnya.


"Aku akan kembali besok". Bella memberi tahu karena dia merasa sangat menyukai Alice. Dia berat meninggalkannya tetapi tentu saja tidak bisa Tuannya harus kembali. Dia senang tetapi juga merasa tidak enak.


"Aku tidak bisa mencegahmu, kalian pasti sangat sibuk, lagi aku juga akan kembali beberapa hari lagi".


"Alice, Aku sebenarnya penasaran, kita sama-sama tahu, kau dan Tuan saling mencinta"


"Bukan saling, tetapi pernah". Alice membenarkan, karena dua kata itu sangat berbeda. Saling yang artinya masih sedangkan kata pernah artinya salah satu diantara mereka sudah tidak ada cinta.

__ADS_1


"Ya, sama saja, lalu bagaimana kau bisa menjalani hidupmu bersama pria yang tidak kau cintai".


"Apakah aku harus menjawab ini". Bella meringis kesal membuat Alice terbahak.


"Tidak ada yang bisa aku lakukan selain belajar mencintainya, menyerahkan seluruh hatiku untuknya, dia Ayah dari anakku". Alice melanjutkan


"Tidak mudah, tetapi aku tidak bisa hanya diam saja, dia mencintaiku, lalu apakah aku tega tidak membalasnya, walau aku memang tidak memberikan semuanya".


Menghela nafas pelan "Aku dan kak Ed hanya masa lalu yang tidak akan pernah bisa bersatu, rindu bersama itu hanya rindu palsu.


"Entahlah, aku merasa kalian memang cocok, sama-sama keras kepala, Tuan mengatakan bahwa dia tidak akan lernah mencintai wanita lain aelain dirimu, dan kau mengatakan bahwa tidak akan bisa bersama Tuan sampai kapanpun, aku jadi kasihan pada Tuan". Katanya kemudian


"Itu artinya memang kami tidak akan bisa berama, dan kau akan bersamanya, oke!".


Mereka tidak tahu diluar pintu kamar yang tidak terlalu tertutup ada Edgar yang mendengar semuanya. Wajah itu terlihat sangat tegang, rahangnya mengeras. Tangannya mengepal. Wanita yang dia cintai terang-terang mengatakan tidak bisa bersamanya.


Edgar melangkahkan kakinya menjauh dari kamar itu, menuruni tangga dengan langkah sedikit berlari. Dia tidak bisa menahan gejolak dihatinya, sudah sangat lama dia menyimpan rasa ini. Bagaimana dia bisa membuangnya begitu saja?.


Apakah dia salah karena mencintai Alice? Apakah dia salah karena masih mencintainya?


"Alice, bagaimana aku menghilangkanmu dari hati dan fikiranku? Aaaaaaaaggghhh"..Edgar berteriak didalam mobilnya menghamtam stir mobil dengan kuat.


Sedang Edgar tengah dalam kondisi hati yang tidak baik, Antonio tertawa bahagia karena mendapat kabar bahwa Calvin sudah dalam perjalanan kembali kerumahnya.


"Hahahhaa, Oh sayang...lanjutkan". Katanya melenguh merasa nikmat dengan wanita yang selalu menjadi pemuasnya selama ini.


"Sayang, siapa Alice?" tanya Carolien disela-sela leguhannya.


"Kau tidak perlu tahu, tugasmu hanya membuatku puas saja". Kata Antonio


"Baiklah, sayang asalkan kau bahagia saja".


Mereka terus bersama meneguk kenikmatan bersama berkali-kali, setelah merasa puas seperti biasa Antonio akan menyuruh Carolien pergi dengan membawa uang yang memang sudah disiapkan untuknya. Setelah membersihkan diri dia mengabil ponselnya dan menelpon adiknya Laura

__ADS_1


"Lanjutkan tugasmu, Calvin sudah dalam perjalanan". Antonio memutuskan panggilan sepihak kemudian kembali tertawa.


"Oh keponakanku yang manis, sebenarnya aku menyesali kehamilanmu, tetapi tidak masalah, asalkan pada akhirnya kita bersama kita bisa mengurus bayi itu". dia kembali tertawa masih dengan memandang wajah cantik di layar ponselnya.


__ADS_2