
"Tidak!" Alice melepas tangan Calvin dan mundur kebelakang selangkah.
"Alice ...."
"Tidak Calvin. Aku datang untuk mempertemukanmu dengan anakmu, bukan untuk hal lain." jelas Alice akan menolak, dia bukan wanita yang nudah saja memberikan ciuman pada siapapun yang tidak ada hubungan dengannya.
"Hanya kecupan saja, boleh ya?" Calvin masih memaksa, pria dengan wajah sudah tidak lagi segar itu menambahkan, "Kita akan berpisah, dan aku tidak tahu kapan aku bisa melihatmu lagi, mungkin saja, saat kita bertemu kau sudah menjadi milik orang lain."
Calvin berbalik karena tidak ingin Alice melihat kesedihannya. Sementara Alice, dia hanya diam, mau bagaimana lagi, ini sudah terjadi.
Baru saja Alice akan mengeluarkan ucapan, suara tangis Orlando mengalihkan perhatiannya, bukan hanya Alice yang berlari tetap juga Calvin.
"Sttt sayang, ini Mommy, diam ya." Alice menggendong putranya yang sudah duduk dan menangis.
Calvin datang mengambil alih sang putra karena Orlando tidak juga mau diam, dan ajaibnya saat anak itu pindah dalam gendongan ayahnya Orlando langsung terdiam.
"Anak Daddy memang pintar." Calvin membawa Orlando keluar dari kamar di ikuti oleh Alice yang masih mengelus lengan kecil putranya.
Calvin membawa Orlando bermain serta menyuapi nya makan, karena Alice juga membuatman makanan untuk putranya tadi.
Alice melihat jam di pergelangan tangannya, memang hari sudah akan gelap dan Alice masih belum pergi karena Orlando seolah tidak ingin berpisah dari ayahnya--Calvin.
__ADS_1
"Sayang, sudah malam, kita pulang ya?" bujuk Alice. Tetapi lagi-lagi Orlando menggeleng.
Alice masih membujuk anaknya, suara ketukan membuat Alice mengalihkan perhatiannya, dia berdiri dan. Membuka pintu, melihat siapa yang bertamu sesore ini.
"Nona--," Alice mengerutkan kening karena tamunya adalah wanita yang sama yang mengantar makanan tadi siang. Rahayu.
"Oh, Nyonya saya--," Rahayu lebih tidak percaya karena wanita yang mengaku sebagai ibu dari anak dari pria yang di sukanya masih berada di rumah Calvin.
"Silahkan masuk." Alice mempersilahkan, dia mulai mengetahui satu fakta lagi, wanita ini menyukai Calvin dan dia tidak boleh menjadi penghalang.
"Calvin, ada yang mencarimu." Alice mengambil putranya dan duduk dinatas sofa, membiarkan Calvin menemui tamunya di luar.
"Ayu?" Calvin malah bingung karena Rahayu yang datang.
"Tuan, saya, huum." Rahayu berdiri dia tidak tahu harus mengatakan apa. "Saya membawakan tuan makan malam."
"Lain kali jangan merepotkan dirimu." Kini mereka sudah berada di.luar rumah, karena Calvin tidak ingin mengganggu Alice yang menenangkan putranya.
"Tuan saya--,"
"Aku tahu. Tapi aku tidak ingin kau membuang waktumu. Kau lihat aku memiliki anakE
__ADS_1
"Saya tahu dia mantan istri anda tuan." Rahayu mendunduk. Dia sudah mendapatkan informasi ini dari supir yang bersama wanita di dalam.
"Kau sampai mencari tahu tentang ini? Kau tidak tahu bahwa itu hal tidak seharusnya tidak kau ketahui?"
"Kau kira setelah kau tahu kebenaran ini, aku akan melihat ke arahmu begitu?" Calvin menatap tajam ke arah Rahayu yang masih menunduk.
"Saya menyukai tuan, saya bisa menemani tuan menjalani pabrik i--,"
"Tutup mulutmu Rahayu!!" bentak Calvin membuat Rahayu terjingkat kebelakang. Calvin maju membuat wanita berkulit sawo matang itu mundur
"Dengarkan aku baik-baik." Calvin memelankan suara namun penuh dengan penekanan, "Sampai kapanpun, aku akan selalu mencinta Alice dan jangan pernah bermpimpi kau memiliki tempat lain di hatiku. Kau dengar?" Calvin kembali menegakkan tubuhnya.
"Kau pulanglah! Mulai besok jangan pernah lagi kau datang mengantarkan makana untukku." Calvin berbalik dan akan masuk dalam rumah, tetapi suara Rahayu kembali menghentikan langkahnya.
"Aku juga akan selalu mencintai tuan, tanpa atau dengan persetujuan tuan, ini hatiku, aku yang akan bertanggung jawab." kekeh Rahayu.
"Terserah kau saja. Jika sudah selesai pulanglah aku tidak akan bertanggung jawab jika ada yang melihatmu di luar seperti pengemis."
"Tuan--,"
"Pulang atau besok kau jangan lagi datang ke pabrik."
__ADS_1