
"Alice ...."
Menarik napas lalu menghembuskannya, "Katakan, kau datang untuk apa?" Ini pertanyaan kedua kalinya, Alice melihat Melisa yang sudah akan tertidur, mungkin anak cantik itu lelah mendengar perbincangan mereka.
"Bawa anakmu masuk, dia sudah mengantuk." Alice sudah akan berdiri tetepi Mala mencegah, mantan kekasih Calvin itu menghela napas pelan, dia menatap Alice yang dengan keyankinan.
"Aku harus pergi. Kedatanganku memang untuk minta maaf padamu, ya aku akui ini terlambat tetapi ...." Mala memejamkan mata lalu melanjutkan, "Tolong maafkan aku."
Alice duduk kembali, "Sudah ku lupakan semuanya, setelah aku memutuskan menceraikan kekasihmu, semua yang membuatku sakit sudah ku buang."
Alice melanjutkan, "Jalani hidupmu dengan baik. Beri contoh yang baik juga untuk anak perempuanmu." Secara tidak langsung Mala merasa tersindir.
Alice hanya diam saja saat kepergian Mala, dia tidak melakukan apapun sampai wanita yang pernah berbagi peluh dengan suaminya itu menghilang dari pekarangan rumahnya.
"Orlando bagun?" tanya Alice pada pengasuh Orlando yang terlihat tergesa menuruni tangga. Orlando memang lebih membutuhkan sang ibu, tetapi Alice juga membutuhkan pengasuh ketika dia harus melakukan perjalanan.
Dan ini adalah pengasuh yang Edgar cari untuknya.
"Itu nyonya, tuan muda demam."
Alice yang mendengar itu langsung berlari melihat sang anak, di dalam kamar, dia sudah melihat Orlando dengan wajah lemah.
"Mommy ...."
"Sayang, tenang ya ada Mommy, Orlando mau apa?"
Alice sudah mengambil kunci mobil dan meminta pengasuhnya ikut, mereka harus kerumah sakit.
"Daddy ...." lirih sang anak.
Alice yang sudah akan menuruni tangga terhenti saat mendegar anaknya, pertama kali menyebut nama sang ayah.
"Daddy ...." lirihnya kembali.
"Tenang sayang, kita kerumah sakit ya," Alice berjalan cepat, ini pertama kalinya Orlando sakit, dia sangat khawatir.
Di perjalanan, anaknya masih terus menyebut nama sang ayah. Alice masih bisa menahan, dia merasa itu hanya karena efek demam saja.
__ADS_1
Sampai dirumah sakit, Orlando menjani pemeriksaan, hanya demam biasa, tetapi dokter menyarankan untuk menginap untuk terus memantau perkembangannya.
Saat melihat sang anak anak yang sudah terlelap, hatinya gelisah, apakah harus memberitahu Calvin atau tidak.
Edgar yang mendengar bahwa Alice kerumah sakit karena Orlando sakit segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Kenapa gadis itu tidak memberitahuku." gerutu Edgar, ini sudah kedua kalinya, bahkan saat Alice akan melahirkan Orlando saja, wanita itu pergi mengantarkan dirinya sendiri ke rumah sakit.
Sampai dirumah sakit, Edgar mencari ruangan anaknya, baginya Orlando adalah anaknya, sejak masih merah mereka sudah bersama.
"Alice ...." Edgar mendekat dan memeluk wanita yang duduk di luar ruangan dengan tangan menutup wajah.
Alice mengenali pelukan ini, pelukan yang selalu hangat karena ada ketulusan disana. Alice mendongak dengan mata yang sudah basah, "Oelando demam, aku ibu yang buruk."
Edgar kembali memeluknya erat, "Kau ibu yang hebat, anak demam bukan karena salah ibunya, jangan bicara seperti itu."
"Kak, aku takut. Orlando tidak pernah sakit, tapi tiba-tiba saja ...."
"Dia kelelahan, tenang saja, sama seperti kita yang lelah, kita juga bisa demam, begitu juga dengan anak kita."
"Bagaimana dengan Arabella? Kakak berhasil mencegahnya?" tanya Alice setelah melerai pelukannya dan menegakkan badannya.
"Dia sudah diperjalanan menuju rumahnya."
Alice hanya menghela napas, dia sudah berharap banyak keduanya bisa bersama tetapi, melihat keras kepala Edgar dan pesimis Arabella dia semakin tidak yakin saja bisa membantu.
"Kakak menyiakan wanita baik."
"Karena aku hanya mencintaimu." Alice tidak mengatakan apapun, dia sudah sering mendengar itu, percuma saja di cegah, Edgar akan tetap mengatakan hal yang sama.
"Ah, sudahlah, percuma saja."
Edgar tertawa rendah, dan mengusap kepala Alice, "Jangan bahas wanita lain lagi, Aku dan Arabella hanya terikat karena pekerjaan, ya walaupun dia memang kadang-kadang suka berlebihan."
Edgar mengatakan itu karena Arabella yang selalu minta tidur di ranjangnya dan memeluknya.
"Apakah sekarang kakak merindukannya?"
__ADS_1
"Rindu apa yang kau maksud? Kau pikir walau kami diranjang yang sama perasaanku padamu berubah?" Alice mengedikkan bahu. Edgar mendesah, "Dia tetap saja seperti adik untukku, tidak peduli seperti apa sikapnya."
"Dasar keras kepala!"
Sekali lagi Edgar tertawa rendah dan itu di lihat oleh lria di ujung sana yang entah sejak kapan sudah berdiri dan menyaksikan kedekatan keduanya
Calvin yang akan memutar badan, mendengar bahwa Orlando sudah bangun dan mencarinya, hatinya menghangat, dengan langkah cepat dia berjalan ke arah dua pasang kekasih yang tadi dilihatnya saling peluk.
"Aku sudah datang."
Edgar yang heran karena melihat kehadiran Calvin, tangannya di usap Alice agar tidak dulu bertanya, "Kita masuk bersama."
Calvin masuk, tetapi ekor matanya masih menangkap Edgar yang merangkul mantan isyrinya santai ke dalam.
"Daddy ...." Orlando merentangkan tangan, dia merindukan ayahnya.
Alice hanya tersenyum, karena anaknya sudah membuka mata, dia masih membiarkan Calvin dan Orlando berpelukan layaknya dua orang yang saling merindukan.
"Papa ...."
Orlando yang sempat melihat Edgar juga merentangkan tangannya, diaberalih dari gendongan Calvin ke Edgar dan itu membuat Alice merasa tidak enak.
"Terima kasih sudah datang." mereka sudah di luar, Orlando meminta disuap oleh Edgar.
Calvin hanya diam, hatinya sakit karena sekali lagi melihat kedekatan anaknya dengan orang lain
"Sejak masih bayi, mereka memang sudah dekat, jadi aku harap kau bisa memaklumi." Alice seperti seperti mengerti.
"Karena itu, kau akan bersamananya?"
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu dia masih mencintaimu dan kau juga masi--,"
"Dimana salahnya? Aku wanita sendiri Calvin, aku butuh seseorang untuk bersamaku."
"Untuk itu ayo kembali bersama."
__ADS_1