Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Tamat


__ADS_3

Alice menoleh, dengan kening mengkerut perlahan dia memperhatikan wanita yang baru saja menyapanya.


Tatapan Alice juga tertuju pada gadis kecil di sampingnya menatapnya dengan tatapan lucu, sangat cantik.


"Alice, aku ...." Mala tidak tahu harus mengatakan apa. Pertemuan mereka tidak pernah baik sejak awal. Mala menyadari banyak hal selama ini, menyesal tentu saja.


Siapa yang tidak menyesal mendapatkan balasan yang berlipat dari perbuatan yang dia tidak tahu itu akan menjadi malapetaka baginya.


"Bagaimana kabarmu?" Alice beertanya, mereka saat ini berada di kafe yang tidak jauh dari tempat di mana pria yang di anggapnya paman berada.


Tadi, Edgar membawa istrinya karena tidak ingin Alice terlalu lama berdiri. Sungguh pria yang di idamkan oleh Alice selama ini.


"Aku baik." Mala masih dengan tatapan sendunya, Ia melanjutkan, "Aku senang kita masih bisa bertemu lagi." ujarnya mengusap kepala Melisa dengan sayang, "Selamat atas pernikahamu, aku mendengar itu dari Laura."


Alice mengangguk, artinya hanya Pamannya saja yang tidak tahu, sehingga pria itu begitu marahnya.


"Pamanku orang yang baik, bersabarlah, aku yakin suatu hari nanti dia akan menerima kalian."


Mala tersenyum kaku, "Antonio masih mencintaimu, dia mengatakannya sangat tegas padaku."


"Dia hanya mencintaiku sebagai kerabat, percayalah, dia akan menerima Melisa suatu saat nanti." Alice diam sejenak menatap sayang cinta pertamanya, dia melanjutkan saat tatapannya kembali pada Mala, "Tolong dukung pamanku dalam apapun, aku percaya dia lebih baik dibandingkan dengan Calvin, atau--,"


"Tidak. Hubunganku dengan Calvin benar-benar sudah berakhir. Tolong maafkan kebodohanku, aku menghancurkan pernikahanmu dengannya."


"Sudah jalannya. Kami memang tidak di takdirkan untuk bersama sampai akhir."


Pertemuan Mala dan Alice hanya berlangsung sebentar saja, Alice mengundang Mala untuk datang di resepsi pernikahannya bersama Edgar.

__ADS_1


Setelahnya semua berjalan semakin cepat, Alice tidak menyangka bahwa Edgar menyiapkan semuanya dengan sangat baik. Dekorasi mewah serta gaun penganting yang sangat indah bertabur berlian.


Alice tidak bisa menahan air mata, dia bahkan tidak bisa berkata apapun sekarang karena terlalu bahagia.


"Kau menyukai semuanya?" bisik Edgar sambil memeluk istri tersayangnya. Alice mengangguk dengan buliran air mata yang jatuh di punggung tangan Edgar.


"Aku menyukainya, sangat. Ah, sangat, sangat menyukainya."


"Aku lega, setidaknya usahaku tidak sia-sia."


"Terima kasih. Kakak kembali padaku." gumamnya memejamkan mata, menikmati pelukan suaminya, cinta pertamanya.


"Aku tidak pernah pergi, sayang. Aku selalu ada, dan kau tetap ada di hatiku."


_____


Edgar, mengundang banyak orang, mengundang tv swasta, mengundang semua orang yang terlibat dengannya selama ini, termaksud Calvin--mantan suami istrinya.


"Daddy, Mommy sangat cantik, ya?" celetuk Orlando yang mengandeng tangan ayahnya.


Calvin sejak beberapa hari yang lalu sudah seperti mayat hidup, tidak bergairah melakukan apapun, dia tahu Alice sudah menikah, tetapi kenapa harus ada resepsi? Apakah Alice sangat ingin memamerkan pada dunia bahwa dia sangat bahagia?


Jika memang benar, maka malang sekali nasib Calvin.


Orlando sudah beberapa hari menginap di rumah ayahnya, Alice terpaksa membiarkan karena Orlando sangat memaksa, Edgar juga tidak keberatan karena menurutnya kehadiran Orlando akan mengurangi rasa bersedih rivalnya.


"Hem, Mommy memang selalu cantik."

__ADS_1


Orlando mendongak menatap bingung ayahnya yang terdengar sangat putus asa. Anak kecil itu meminta ayahnya berjongkok, dan Calvin menurutinya.


"Daddy, kita sama-sama menyanyangi Mommy, 'kan?" Calvin mengangguk lemah, Orlando melanjutkan, "Biarkan Mommy bahagia bersama Papa. Adik Orlando ada dalam perut Mommy."


Calvin terkesiap, "Mommy hamil?" Orlando mengangguk.


Semakin remuk hatinya, tetapi karena Orlando memeluknya rasa sakitnya itu berkurang, "Daddy, tenang saja, ada Orlando bersama Daddy."


Hari itu, tidak hanya Calvin yang merasa patah hati, tetapi yang lebih hancur dari mereka adalah Antonio, pihak kepolisian mengizinkannya menonton siaran, dimana di dalam layar nampak wanita pujaannya sedang tertawa bahagia dalam gandengan pria yang berhasil menjadi pemenang.


Dia adalah Edgar--Cinta pertama Alice.


"Aku senang karena masih bisa melihatmu tertawa bahagia sebelum kepergianku, sayang." gumamnya meneteskan air mata dan kembali ke dalam ruang tahanannya yang begitu dingin.


Antonio menyesali semuanya, Laura hanya bisa meneteskan air mata melihat keterpurukan kakaknya, karena begitu mencintai, sekarang kakaknya berada di tempat yang tidak seharusnya, karena obsesinya.


"Aku akan mencoba menghiburnya." ujar Mala juga kasihan pada ayah dari anaknya.


"Hem. Kita akan lakukan bersama, tetapi lebih baik sekarang kita mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Alice berhak mendapatkan kebahagiaannya karena dosa kita."


Mala mengangguk, dia sudah tahu bagaimana Laura terlibat dengan Alice.


Dan hari itu, semua orang mendoakan kebahagiaan Alice dan Edgar, semua orang menampakkan senyum bahagianya. Semua menularkan cinta pada kedua pasangan baru tersebut. Bahkan Arabella sampai menyempatkan hadir untuk bisa berfoto bersama pasangan termanis pada saat itu.


"Selamat berbahagia untuk kalian berdua." Calvin berdiri dihadapan keduanya dengan menggendong Orlando.


Alice tersenyum tulus, begitupun juga dengan Edgar. keduanya juga mendoakan kebahagian Calvin setelah ini, pria itu sudah mendapatkan hukumannya, dan sudah seharusnya dia mendapatkan hadiah yang manis.

__ADS_1


"Bibi, Laura, ayo pulang bersama Daddy." ajak Orlando.


__ADS_2