Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Rencana Awal Calvin


__ADS_3

Calvin seperti orang gila yang tidak tentu arah, kepergian Alice benar-benar membuat hidupnya hancur, bahkan sang Ayah sudah menariknya menjadi pewaris utama. Semua kekayaan yang Calvin miliki sepenuhnya jatuh pada anak Calvin yang Alice kandung. Keputusan sang Ayah bahkan tidak bisa lagi diganggu gugat saat mengetahui bahwa benar anaknya berselingkuh dengan Mala.


“Dadd, ini tidak adil buatku. Aku tidak keberatan Daddy memberikan semua harta Daddy untuk anak Calvin tapi, kenapa harus mengeluarkan Calvin dari perusahaan Daddy?”


Bagaimana tidak frustasi, dia kehilangan semua dalam sekejap. Ini sudah bulan ke empat hilangnya Alice, yang artinya Alice sudah melahirkan anak mereka. Calvin mendesah karena keputusan sang ayah tidak bisa lagi diganggu gugat.


“Kalau kau ingin, kau bisa mengelola pabrik jagung milik keluarga kita yang di luar kota, kau bisa tunjukkan pada Daddy kalau kau memang mampu berdiri sendiri,” Calvin mengangkat wajah, dia menatap lamat wajah sang ayah yang bersungguh-sungguh.


“Baiklah! Calvin akan berangkat besok hari,” setelah mengatakan itu Calvin naik ke lantai atas, di kamar mereka, kamar nya bersama wanita yang menceraikannya begitu saja tanpa ampun.


Keluar dari kamar mandi ponselnya berdering, Calvin sudah tahu siapa yang menelepon, mendesah lelah dia mendengarkan apa saja yang Mala katakana dari balik layar.


Wanita yang dianggap lebih tinggi posisinya dari Alice kini menampakkan sifat aslinya, beruang kali Mala marah karena kebutuhannya tidak terpenuhi, mungkin karena pengaruh kehamilan juga.


Yah akhirnya Mala hamil, tetapi Calvin tidak bisa menikahinya karena hatinya menolak itu, entah karena apa, tetapi Calvin sudah bersumpah tidak akan menikah kembali sebelum kembali menemukan Alice.


“Tunggu aku, aku kesana sekarang,” Calvin mematikan ponselnya dan sekali lagi mendesah. Dia tidak bisa menikmati hidup dengan baik sekarang.


Sampai di apartemen lama Mala, Calvin langsung duduk dengan wajah lesu, Mala datang dan duduk di pangkuan kekasihnya. Usaha Mala yang lalu sudah tidak bisa diharapkan lagi, modalnya sudah habis untuk membangun kembali usahanya yang sudah hangus begitu saja.


“Sayang ada apa?” tanya Mala mengelus lembut rahang Calvin semakin lama semakin bawah, Calvin menangkap jemari lembut itu dan memindahkannya lembut.


“Kau sudah berubah,” Maa jelas saja kesal, setelah Alice menangkap basah mereka waktu itu perhatian Calvin tidak lagi tertuju padanya, bahkan dengan terang-terangan Calvin menolak saat Mala ingin memadu kasih.


“Tidak ada yang berubah Mala, aku masih disini bersamamu,” kata Calvin tersenyum kecil 


“Kau sudah tidak mencintaiku lagi,” Mala memalingkan wajahnya, dia terluka karena merasa Calvin sudah tidak mencintainya seperti dulu.


“Siapa bilang? Aku masih mencintaimu percayalah!”


“Jangan berbohong, aku tahu kau menyesal dan masih menunggu Alice kembali,” ucapan Mala membuat Calvin terdiam.

__ADS_1


Mala jelas bisa melihat itu, dia semakin kecewa saja, lebih baik mereka tetap menjalani kasih secara sembunyi jika tahu Calvin akan bersikap acuh padanya.


Calvin menceritakan semuanya, bagaimana keputusan sang ayah yang mengeluarkannya dari perusahaan, mencoretnya dari harta waris, serta memindahkannya ke luar kota untuk mengelola pabrik jagung yang sebenarnya sudah berhenti beroperasi dua tahun yang lalu.


 “Apa?!” jelas saja Mala terkejut, dia bangun dari pangkuan Calvin mencoba mencari kebenaran di sana.


“Aku tidak berbohong, kau bisa ikut denganku ke luar kota, kita memulai disana,” tawar Calvin, bagaimanapun membawa Mala adalah keputusan terbaik, karena tidak mungkin dia akan pulang pergi.


“Sayang, aku hamil muda bagaimana bisa aku melakukan perjalanan jauh,” tolak Mala.


Calvin mendesah, “Aku tidak bisa terus datang mencarimu Mala, aku harus fokus,”


“Ayahmu memang keterlaluan, aku akan memberikan cucu padanya tetapi tidak bisa melihat ku,” Mala duduk di samping kekasihnya, “Kapan kau nikahi aku?” tanya Mala.


“Sayan –,”


“Jangan katakan kau tidak ingin menikahiku Calvin?”


Mala mendengus kesal, “Aku tidak suka Ayahmu,”


“Mala!!”


“Kenapa marah? Sejak awal kita berpacaran dia memang tidak menyukaiku kan?” kesal sekali Mala, dia melanjutkan, “Apa karena aku tidak sekaya mantan istrimu?”


“Dia bukan mantan istriku, aku tidak pernah mengakui perceraian itu,” tegas Calvin membuat Mala semakin meradang.


“Kau memang gila,” Mala berdiri lebih baik dia meninggalkan Calvin. Di dalam kamar Mala sudah berkemas, dia tidak bisa tinggal dengan Calvin, dia sudah bertekad akan pergi jauh.


“Omong kosong apa yang dia maksud, bekerja dari awal, apa dia mampu, cih,” Mala terus mengumpat dan meremehkan Calvin, pria yang masih berduka atas hilangnya sang istri sekarang begitu marah karena dikiranya Mala adalah wanita baik, tidak tahu di belakangnya dia mendapatkan sumpah serapah.


“Aku pergi,” Mala mengabaikan Calvin, dia tidak peduli Calvin mendengar umpatannya, dia sangat kesal. Namun belum juga dia bisa keluar dari pintu Calvin menarik tangannya keras sampai Mala membentur dada bidangnya.

__ADS_1


“Jadi selama ini kau selalu mengumpat ku Mala?” Calvin mencengkram kedua pipi Mala sedikit kuat, mata pria itu sudah memerah karena emosi.


“Lepaskan aku!” 


“Setelah kau mengumpatiku, kau anggap apa aku hah?” Mala berkaca-kaca, dia tidak tahu jika Calvin akan semarah ini padanya.


“Maafkan aku, tolong pikirkan aku dan anakmu,” kata Mala bernegosiasi.


“Jangan membohongiku Mala, dia jelas bukan anakku,” mata Mala membola.


“Ba-bagaimana bisa kau sekejam itu, dia anak kita,” katanya terbata.


“Kalau kau lupa biar ku ingatkan, setelah Alice mendapati kita, besok nya kau berhalangan bukan?” Mala tergagap, Calvin melanjutkan, “Lalu anak siapa itu, sedangkan setelah itu kita tidak pernah lagi tidur bersama,”


Calvin tersenyum miris dan melepaskan cengkraman tangannya dengan keras sampai Mala terhempas, “Aku menyesal karena kehadiranmu ternyata membawa dampak buruk dalam hidupku,” sesal Calvin.


“Calvin!!” teriak Mala tidak terima.


“Kau memang brengsek, aku membencimu!!”


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat cantik diwajah manis Mala, wajah yang selama ini Calvin kagumi dan cintai, lalu kenapa sekarang dia seolah tidak menyukai wajah palsu di hadapannya.


“Ka-kau menamparku karena tidak terima ucapanku?” Mala tertawa dia melanjutkan, “Aku membencimu,” setelah mengatakan itu Mala mendorong tubuh Calvin yang mematung karena sudah menampar Mala.


Calvin mencoba menenangkan tetapi Mala sudah sangat kesal, dia terus memukul dada Calvin, “Maafkan aku,” hanya itu yang bisa Calvin katakana. Dia tidak menyesal karena tidak menerima anak yang Mala kandung tetapi menyesal karena tangannya sekali lagi tidak bisa di tahannya.


“Siapa ayah dari anak yang kau kandung?” tanya Calvin dengan suara teramat dingin.


“Dia anak kita,”

__ADS_1


“Mala, hentikan omong kosongmu, anak siapa dia?”


__ADS_2