Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Bab 26 | Hanya mencintaiku


__ADS_3

Malam itu keduanya bercerita banyak hal tentang kehamilan Alice, Calvin merasa sangat bersalah karena terlambat menyadarinnya. Alice masih bersandar di dada bidang suaminya, dengan mata yang tertuju pada tv besar didepan mereka.


Dengan tangabterus mengelus rambut panjang itu Calvin bertanya "Apakah selama hamil, kamu tidak pernah merasakan ngidam? Maksudku biasanya wanita hamil ingin makan sesuatu yang aneh-aneh".


"Ada, tentu saja, di awal aku juga tidak tahu ada apa dengan kondisiku karena selalu merasa mual dan sakit kepala, saat itu aku ingin sekali memakan masakanmu, tetapi aku sangat membencimu". Alice terdiam mengingat masa itu " Akhirnya aku mencoba mengabaikannya dan memutuskan ke dokter memeriksa, sebenarnya aku waktu juga kebetulan kerumah sakit temani Ayah Thomas berobat".


"Aku menyembunyikannya, aku tidak ingin ada yang menyadari kehamilanku".


"Kenapa?"


"Terlalu menyakitkan, kita akan berpisah, dan berita kehamilan tidak akan cocok untuk suasana hatiku". Alice terkekeh.


"Maafkan aku, ini salahku".


"Jangan membahasnya, kita mulai dari awal, oke!". Ucapan Alice tentu membuat Calvin senang. Ini yang dia inginkan.


Calvin melerai pelukannya dan berjongkok di bawah, membuat Alice mengerutkan alis, dia melihat apa yang dilakukan suaminya.


Calvin mendongak melihat cantiknya wanita hamil yang duduk diatas sofa ini. Dia tersenyum kemudian mengecup kembali perut bulat itu. Memang jika tidak diperhatikan dengan baik maka tidak ada yang menyangka bahwa Alice hamil. Mungkin karena tubuhnya yang tinggi.


"Anak ini seperti anugrah buatku". Alice menunduk melihat sauaminya "Karena kehadirannya aku yakin kita tidak akan berpisah" Calvin tersenyum lebar saat mengatakannya.


Dia berdiri dan duduk di samping Alice, merentangkan tangan dan menoleh ke istrinya "Kenapa wajahmu kembali datar?". Calvin merasa tidak enak sekarang "Jangan bilang kau tetap ingin bercerai dariku?" Calvin berdiri dan menatap tidak percaya.


Menghela nafas pelan lalu membuangnya, Alice berdiri dan melangkah meninggalkan Calvin yang melotot tidak percaya ditinggalkan sendiri.


Calvin mengekor, dengan langkahnya yang lebar dia menyamakan diri, dingandengnya wanita hamil itu, tidak perduli Alice minta dilepaskan, sampai di pembelokan Alice akan kekamarnya "Mau kemana?" tanyanya


"Tentu saja kekamar, aku mengantuk"


Tampa aba-aba Calvin mengangkat tubuh yang sudah terlihat berisi itu di gendongannya, Alice terpekik karena terkejut dan langsung mengalungkan tangan di leher suaminya.


Calvin menaiki anak tangga dengan hati-hati. Tatapan mata mereka saling mengunci. Wajah Alice seketika bersemu membuat Calvin tertawa renyah.


"Lihatlah wajahmu memerah".


"Ish, kau akan bawa aku kemana, aku ingin tidur Calv".


"Tentu saja ke kamar kita, dan jangan pernah menempati kamar bawah lagi". Tegasnya. Setelah sampai didepan pintu jantung Alice berpacu kencang, dia masih merasakan bagaimana sakitnya melihat suaminya pada pagi itu.

__ADS_1


Dia menunduk tidak ingin melihat isi kamar, bibirnya tertutup rapat, dan Calvin menyadari semuanya, dia merasa bersalah namun dia tidak akan membiarkan mereka tidur terpisah lagi.


Dia meletakkan istrinya dengan hati-hati dan berjongkok dibawah, Calvin mendongak melihat bagaimana perubahan wajah yang tadinya bersemu menjadi sendu.


"Disini seharusnya kau tidur, bukan dibawah". Mengelus perut istrinya seolah dia berbicara dengan anaknya.


Calvin bangkit dan duduk disamping istrinya, dia menatap wajah itu dan "Sudah, jangan memasang wajah sendu, aku tahu sebenarnya itu hanya senjata".


Alice mendengar itu hanya cengir kuda. Ya dia hanya sengaja, eh tidak sepenuhnya sengaja, dia memang enggan kembali ke kamar ini, tetapi bagaimanapun yang lalu biarlah menjadi kenangan.


Alice bangkit, dan menuju kamar mandi, dia harus membersihkan diri. Lalu tidur. Setelah selesai dengan rutinitas malamnya, Alice kembali ke kasur mengabaikan Calvin yang seperti sengaja menggoda dengan hanya menggunakan boxer saja.


Benar-benar menggoda.


"Sayang, kau tidak merindukanku?" Calvin mendekat dan berbisik di telinga Alice dengan sensual.


"Calv, aku lelah, kau lupa perjalan dari kotaku ke sini memakan banyak waktu, kasihanlah dengan anakmu". Jawab Alice membuat Calvin mendengus. Gagal lagi.


Mendengar dengusan suaminya membuat Alice membalikkan diri dan menatap mata indah suaminya. "Ayo berbaringlah, dan peluk aku". Katanya menepuk kasur di sebelahnya.


Akhirnya, Calvin mengalah dia tidur disamping istrinya, saling berpelukan sampai pagi menyapa kembali.


Edgar akhirnya berdehem sudah membuat Bella tersenyum, setidaknya ada tanggapan. Mereka sekarang sudah berada di pesawat, dua jam lalu mereka sudah berpamitan pada Ayah Thomas yangnl juga berat membiarkan putranya kembali. Namun apa yang harus pria tua itu lakukan selain mengiklaskan.


Edgar adalah Ceo di perusahaan yablng dia bangun selama bertahun, bisa dikatakan dia beruntung karena masih muda sudah bisa mendapatkan impiannya.


Dan salah satu motivasi Edgar kala itu adalah agar dia pantas bersama Alice. Hanya itu. Nyatanya wanita yang dia impikan semakin bahagia dengan kehadiran malaikat didalam perutnya.


Haruskan Edgar marah?


Entahlah, dia marah, tetapi juga tidak ada gunanya.


Dia akan mencoba menjalani kehidupannya kembali, dia akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Lalu bagaimana dengan perasaan Arabella dan permintaan Ayahnya untuk segera menikah?


Edgar tidak akan bertindak gegabah, menikah adalah keputusan besar baginya. Harus sudah sama-sama yakin. dia tidak percaya bahwa dengan pernikhan akan membuat perasaan kita muncul dengan sendirinya.


"Apakah Tuan belum ingin kembali?"


Pertanyaan Bella membuat Edgar melihat kearahnya, membuat wanita itu was-was takut pertanyaannya salah.

__ADS_1


"Panggil aku Edgar, jangan terlalu formal, kita tidak sedang dalam pekerjaan".


"Itu..".


"Jangan membantah, aku bosmu!".


Bella memutar mata malas, apa apaan dia, katanya jangan formal karena tidak dalam suasana kerja tapi dia mengatakan dirinya bos.


"Kau keberatan". Tanya Edgar tampa menoleh.


"Boleh aku, memanggil Tuan dengan sebutan sayang saja?". Tawar Arabella.


"Boleh".


"Yes!". Bella terlihat sangat senang namun hanya sesaat karena Edgar sudah menyadari.


"Bella, jangan seenaknya". Bella memanyunkan bibirnya, gagal lagi. Tapi dia senang karena ini pertama kalinya Tuannya meminta di panggil nama saja, bukankah ini kemajuan. Matanya berbinar.


"Kau mendengarku, Bella".


"Ita, sayang, Eh maksudku ya Ed- Edgar".


Edgar mengembuskan nafas pelan, bagaimana dia bisa marah pada Bella, wanita ini selalu mengingatkannya dengan Alice nya.


"Tuan..."


"Katakan, kau selalu bertanya kau tidak lelah?"


"Itu, apakah setelah kita sampai aku bisa kembali pulang ke apartemenmu, atau-". Bella menghentikan ucapannya dia tidak berani meneruskan tetapi dia berharap mereka bisa tinggal bersama lagi.


"Kau tidak merindukan orang tuamu?" Edgar tidak percaya bukankah seharuanya dia pulang kerumahnya dulu.


"Aku bisa mengunjugi mereka besok-besok, aku lebih merin-"


"Baiklah, kau bisa ikut ke apartemen". Jawaban Edgar membuatnya menjadi sangat bahagia, tampa sadar dia menubruk dada bidang itu, memeluknya dan mencoba terlelap, dia akan tidur dalam pelukan Edgar sampai pesawat mereka landas.


Edgar hanya geleng-geleng saja, sudut bibirnya terangkat, dan tampa sengaja tangan kekarnya mengelus surai indah itu.


'Aku pastikan kau hanya akan mencintaiku nanti, Ed'.

__ADS_1


__ADS_2