
"Kau tahu jawabannya."
Alice menghela napas lelah, dia menoleh pada pria yang pernah di cintainya, "Kakak jangan hancurkan hidupmu. Bukan hanya hidupmu bahkan Arabella juga akan terluka."
"Bagimu mungkin saja ini mudah. Tapi bagiku, melupakan perasaanku dan menggantinya dengan perasaan baru bukanlah hal mudah."
"Kak ...."
"Alice ... Aku mencintaimu. Bagaimana bisa kau memintaku menjadi kekasih orang lain?"
"Kak ... Kita sudah pernah membahas ini. Sudah terlambat kita tidak bisa mengulang masa lalu."
Edgar hanya menghela napas lalu melanjutkan, "Kalau begitu jangan memakasaku untuk menjadi kekasih temanmu. Aku tidak akan pernah bisa mencintainya sampai kapanpun." kata Edgar mantap.
"Jangan menjadi orang jahat kak. Kalian bahkan pernah tidur bersama apakah kakak tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya dia?"
Alice menatap Edgar yang terdiam karena terkejut. "Kakak pertimbangkan dulu!"
Alice berdiri dan meninggalkan Edgar merenung sendiri. Alice bsrgabung dengan Arabella dan baby nya. "Dia sangat lucu." kata Bella.
"Kalian juga akan memiliki anak selucu itu kalau menikah."
"Kau ini. Jangan suka menghiburku dengan kalimat mustahil seperti itu."
Alice hanya terkekeh kecil, dia suka melihat Bella yang kesal. Mereka mengobrol ringan berdua, karena Edgar sudah keluar ke suatu tempat. Alice tahu alasan Edgar pergi dan dia berharap Edgar memberi keputusan yang baik.
__ADS_1
"Hai ... Apa aku mengganggu kesenangan kalian?" Samuel datang dengan membawa banyak mainan.
Arabella yang melihat kedatangan Samuel hanya mendesah panjang, dia tahu sebentar lagi sepupu Alice ini akan mengeluarkan rayuan mautnya.
"Hai ... Bella sayang." Arabella melotot untung saja tidak ada Edgar, jika ada akan mempersulit jalannya.
"Tuan hentikan omong kosongmu! Kalau tuan Ed dengar aku akan semakin sulit menaklukkanya."
Saat ini mereka berdia, Alice meninggalkan merka berdua. Dan dia harus menyelesaikan tugas nya dengan baik.
"Kalau bsgitu berhentilah!"
"Tidak. Aku sudah berjuang lama, mana mungkin aku melepaskannya."
Samuel terus saja memperhatikan Arabella yang terus saja mengingatkan nya bahwa mencintai Samuel bahwa mereka tidak akan bisa bersama.
Sementara itu di tempat lain, Calvin tengah menatap tajam padanya. Dia takjub karena mesinnya sudah bisa di gunakan.
"Lihatlah Alice, pabrik ini akan membuatmu kaya raya nantinya." Calvin melangkah dan mencih mesin yang akab membawanya pada keberhasilan.
Saking senangnya sampai tidak menyadari bahwa di belakangnya sudah ada seseorang yang memperhatikan dirinya.
"Ini mesin yang kau maksudku."
Calvin tersenyum canggung. "Dari mana tuan tahu tampat ini?" tanya nya.
__ADS_1
"Menurutmu dari siapa?" kata Ed.
"Saya tidak mengerti. Hah! saya bukan rekan kerja anda lagi, sepertinya tidak harus terlalu formal." Calvin duduk di kursi kayu di sana, Edgar juga ikut bergabung. Jangan tanya dari mana Edgar tahu, karena dia menyelidiki semuanya.
"Saya tidak ingin berbasa-basi, saya membutuhkan uang untuk menjalankan kembali pabrik ini, dan --,"
"Berapa yang kau butuhkan?" langsung saja Edgar bertanya sepanjang jalan dia sudah membayangkan, mungkin saja Alice masih ingin kembali dampai dia tidak ingin memberinya kesempatan.
Calvin yang terkejut langsung tersenyum, dia menyebutkan nominal dan jangka untuk mengembalikan berserta dengan bunga nya. Edgar hanya mengangguk, tidak terlalu banyak menurutnya.
"Ini. Kau bisa tuliskan sendiri nominalnya." Edgar menyerahkan sebuah cek di atas meja. Calvin yang tidak bisa lagi berkata apa-apa hanya tersenyum miris karena dia harus melakukan ini.
"Saya akan menggantinya cepat." yakin Calvin.
Mereka mehgonrol bersama, Calvin tidak bisa menutupi apa yang terjadi, karena yakin kalau Edgar sudah tahu kebenarannya. "Anda bisa memukul saya jika anda mau." katanya sudah siap dengan hantaman Edgar.
Edgar tertawa hambar, "Sayang nya mantan istrimu mencegahku." kata Edgar membuat mata Calvin memicing.
"Anda tahu dimana dia?"
"Kami tinggal bersama dengan putra kam --,"
"Dia putra? Alice melahirkan seorang putra?" mata Calvin berkaca-kaca.
"Boleh aku menemui putraku?" mohon Calvin.
__ADS_1
"Sayangnya Alice tidak akan mengizinkan itu. Aku datang karena ingin mengatakan kalau aku bisa menjaga mereka dengan baik. Aku berdoa usahamu bisa sukses." Edgar berdiri dan meninggalkan Calvin. Tetapi belum jauh Edgar suara Calvin membuatnya terdiam.
"Dia akan selama nya menjadi milikku Ibu dan anaknya adalah milikku."