Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Merasa bersalah


__ADS_3

Calvin hanya diam. Dengan senyum kecil dia berdiri dan berpamitan pada Laura. Wanita yang pernah menjadi dalang dari retaknya rumah tangga Alice itu hanya diam dan mengiringi kepergian Calvin dengan senyum simpul.


Terlalu panik, Calvin sampai lupa apa yang Laura lakukan di apartemen yang Mala juga tempati. Untuk menepikan kecurigaannya dia tetap fokus mencari keberadaan istrinya.


Dia menelpon Wardi mungkin saja sekarang Alice sudah kembali ke kantor mencarinya, dan sakit kepala langsung menyapa, entah kenapa dia sangat khawatir setelah mengetahui bahwa Alice kekantor dan sekarang wanita hamil itu entah dimana.


“Alice … jangan membuatku takut,” gumamnya tetap berharap dia bisa melihat mobil snag istri berada dijalan.


Sebenarnya yang Calvin takutkan adalah, karena kemarin dia mengatakan pada istrinya bahwa dia akan lembur, tetapi dengan tidak adanya dia di kantor akan membuat kecurigaan tertuju padanya dengan mudah.


Karena sangat lelah dan tidak bisa menemukan di mana Alice, Calvin kemballi kekantor, dia akan menunggu saja disana mungkin saja Alice akan datang kembali. Bahkan dia sudah menelepon Hans agar segera menghubunginya jika sang Nyonya sudah kembali.


Sepanjang hari Calvin tidak bisa tenang. Dia masih menimbang apakah dia harus menelepon Samuel atau tidak. Dan kini telepon dari Mala sudah kembali menemaninya. Dia merindukan kekasihnya kembali tetapi dengan belum menemukan dimana keberdaan Alice dia tidak akan bisa tenang.


“Tunggu aku. Jika sampai malam Alice tidak kembali maka aku akan datang menemuimu. Aku mencintaimu,” kalimat yang dia ucapkan pada Mala sebelum telepon diputuskan.


Seharian Alice hanya bersantai di apartemennya. Terlalu lelah jika dia harus kembali ke rumah hari ini. Seharian dia sudah berjalan sangat lama di pusat perbelajaan, untuk itu dia memutuskan untuk menginap saja.


Karena di yakin Calvin akan kembali menginap bersama dengan selingkuhannya.


Benar sekali seperti apa yang Alice kira. Malam harinya Calvin memang kembali ke apartemen Mala. Seharian tidak menemukan keberadaan Alice membuat kepalanya sakit. Dan Mala adalah obat yang paling mujarab.


“Ada apa sayang?” tanya Mala, sekarang mereka berada di balkon tengah memandang langit malam bersama.


“Aku tidak menemukan dimana Alice setelah mengantarkan makan siang untukku,” jelas Calvin membuat Mala terdiam. Kekasihnya terlihat sangat mengkhawatirkan istrinya. Dan dia sangat cemburu.


“Ku lihat kau sangat mencintainya?” lirihnya masuk dalam pelukan Calvin.


“Sudah ku katakana. Dia mengandung anakku dan kau lebih kucintai,” jwabnya yakin.


“Kalau begitu ceraikan dia setelah anakmu lahir?” Mala mendongak menunggu jawaban apa yang akan Calvin berikan padanya.

__ADS_1


Lama terdiam membuat Mala merasa sakit hati.


“Diammu sudah membuktikan bahwa kau memang mencintainya,” katanya masuk ke dalam kamar. Lebih baik tidur saja.


“Mala … dengarkan aku!” Calvin menyusul kemana kekasihnya pergi. Baru saja dia akan menyusul Mala diatas kasur karena wanita itu seperti sengaja menggunakan pakaian berbahan tipis hingga menampakkan apa saja yang berada di baliknya dengan sangat nyata.


Ponselnya berdering. Netranya melihat nama yang tertera disana, dengan cepat dia meraihnya dan mendengarkan laporan apa yang akan dia terima.


Dia sudah yakin jika ponselnya bordering artinya berita baik, tetapi dia akan tetap medengarnya.


“Siapkan makan malam untuk kami dan jangan katakan padanya kalau aku mencarinya,” Calvin mematikan ponselnya dan brgegas memakai kembali pakaiannya.


Mala yang melihat itu jelas saja kecewa karena tahu bahwa kekasihnya akan pergi, pasalnya dia mendengar Calvin meminta disiapkan makan malam sementara mereka berdua baru saja melakukan makan malam bersama.


“Apa istrimu sudah kembali?” tanya Mala yang sudah duduk.


Calvin hanya berdehem dan mengancing pakaiannya, membuat Mala semakin kesal karena Calvin mengabaikan tatapannya.


Calvin hanya diam. Memang dia sangat menginginkannya, tubuh indah Mala selalu membuatnya tergoda hingga tidak bisa berpikir waras. Mala bangkit dari duduknya saat melihat Calvin hanya mematung karena ucapannya.


Tangan nakalnya beraksi menjalar kesemua bagian tubuh sang pria yang memang sudah sangat menginginkan sentuhan. Mala tersenyum miring saat melihat Calvin yang sudah tidak berdaya dengan sentuhannya.


Mala melakukan aksinya. Tidak ada bagian tubuh sang pria yang tidak terlewatkan dari cumbuannya. Hingga akhirnya keduanya kembali meneguk keindahan dunia tetapi dengan cara yang tidak dibenarkan karena salah satu diantara mereka adalah suami dari wanita lain.


Calvin tidak bisa mengendalikan dirinya saat erangan dan ******* lembut Mala mengalun indah di telinganya. Rencana akan melakukan permainan sekali rupaya tidak terjadi, keduanya melakukannya lagi dan lagi.


Setiap sudut ruangan sudah mereka coba untuk meneguk kepuasan mereka masing-masing. Keduanya menikmatinya, Calvin yang sangat jarang mendapatkan sentuhan saat sang istri hamil sekarang bisa menumpahkan segala beban yang kadang membuatnya sakit kepala karena tidak bisa tersalurkan dengan baik.


Hingga pagi menyapa. Calvin terbangun dengan kondisi tubuh yang sangat baik. Dia melihat wanita yang tampak sangat kacau penampilannya tetapi tetapi terlihat manis dimatanya masih terlelap karna lelahnya pertempuran mereka semalam.


Calvin bangun dan membersihkan diri, dia akan segera kembali ke rumah, bahkan sudah menyiapkan jawaban apa yang akan dia keluarkan nantinya.

__ADS_1


Sesampainya di halaman rumahnya, dia tersenyum saat melihat mobil sang istri terparkir disana, dengan langkah lebarnya dia menaiki tangga dan mengabaikan sambutan dari Hans.


Hatinya sangat bahagia saat mengetahui bahwa istrinya berada di rumah. Knop pintu diputar perlahan. Disana tengah berabaring seorang wanita dengan wajah cantik dan perut buncintnya.


Calvin mendekat dengan langkah pelan menghampiri sang istri yang tengah tertidur. Tangan besarnya menyentuh wajah mulus sang istri yang sudah terlihat sangat berisi karena hormon kehamilannya.


Namun tangan besar itu tidak lama bisa menyentuh saat Alice terbangun dan menepis pelan tangan sang suami. “Kau sudah kembali?” tanya Alice yang berusaha untuk bangun.


Calvin yang melihat itu ingin membantu tetapi Alice mengatakan bahwa dia bisa melakukannya sendiri, jelas Calvin tidak terima dan tetap membantu sang istri. Alice hanya diam. Menerima bantuan itu.


“Kau dari mana kemarin?” tanya Calvin memulai percakapan


“Bertemu teman lama. Sudah lama tidak berjumpa untuk itu aku memutuskan untuk berlama-lama bersamanya,” jawab Alice dengan senyuman.


Tetapi calvin yang mendengar itu, merasa sangat tidak suka, entah kenapa hatinya menolak.


“Apakah Edgar?” tanya Calvin. Dia tahu kisah antara istrinya dan teman bisnisnya itu. Dia bisa melihat bahwa Edgar adalah teman bisnis yang sangat menguntungkan. Dan calon pemdamping yang sempurna.


“Bukan, bukankah kalian bekerja sama? Jika benar kau pasti tahu kalau dia akan berkunjung ke Indonesia kan?” kata Alice masih dengan senyuman. Senyuman yang sudah Calvin tidak kenali lagi artinya apa.


Tatapan Alice pun sudah tidak bisa dia artikan setelah kehadiran Mala. Ini membuatnya sangat kesulitan memahami keadaan.


“Lalu apakah dia seorang wanita?” tanya Calvin lagi dengan penasaran. Teman seperti apa yang istrinya temui hingga kembali malam hari.


“Jika aku katakan seeorang pria kau marah?” tanya nya pada sang suami.


“Jelas saja aku akan marah. Kau istriku, tidak mungkin akan bisa terima kau bertemu pria lain di luar sana,” Calvin kali ini mengatakan hal yang sebenarnya. Dia bersungguh-sungguh.


“Dia hanya teman wanita. Kau juga mengenalnya.” Hanya itu yang Alice katakan, setelahnya wanita hamil itu turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Tetapi sebelum tubuhnya hilang dibalik pintu langkahnya terhenti dan perkataannya membuat Calvin membeku.


“Bagaimana perasaanmu bertemu teman lama? Kau bahagia sampai lupa untuk kembali?” katanya lirih tetapi jelas Calvin mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2