Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Arabella Lagi?


__ADS_3

"Kau baik-baik saja?" Edgar mengusap lembut rambut halus milik Alice. Saat ini mereka sudah berada di taman tidak jauh dari kediaman milik Calvin. Sengaja Edgar membawanya karena ingin berdua saja, sementara disana masih terlihat karyawan Calvin yang masih lalu lalang ke pabrik yang sementara dibangun.


"Hem, aku baik-baik saja, tenang saja." Alice memandang jauh kedepan, tidak memikirkan apapun selain masa depannya bersama pria di sebelahnya.


"Calvin, dia akan menerimanya cepat atau lambat."


Alice melirik ke arah Edgar, "Kakak pasti mengira aku memikirkannya ya, 'kan?"


"Memang tidak? Ku lihat kau betah saja tadi berbicara dengannya." gurau Edgar.


Alice terkekeh, "Kakak terlalu cepat masuk tadi, harusnya langkahnya di perlambat, aku baru saja ingin melihatnya menangis." Edgar menggeleng dan berdecak karena ucapan Alice.


"Ck, istriku yang paling cantik ini ternyata sudah pandai membalas."


"Kakak tidak tahu saja, aku sudah membalasnya sejak lama, tapi dia tidak juga belajar." Alice terkikik geli.


"Sudah cukup, dia sudah menerima semua hasil dari perbuatannya, sekarang fokos untuk masa depan kita."


Alice berdehem, dia kembali melirik Edgar yang masih menatap lurus kedepan memperhatikan anak-anak bermain seluncuran, Alice bisa melihat sudut bibir pria disebelahnya terangkat naik. Edgar tersenyum.


"Aku ada berita penting untukmu." ujarnya tiba-tiba, mendengar itu Edgar menoleh dan memusatkan semua perhatian pada Alice.


"Apa itu? Arabella lagi?" tebak Edgar, bukan hal biasa, belakangan ini Arabella selalu menelepon Alice. Setelah pernikahannya dua tahun lalu, tidak ada yang berubah sama sekali, Arabella masih teyap sama seperti biasanya.


Menggoda Edgar walaupun wanita cantik itu aidah menikah, Alice tidak mempermasalahkannya karena sampai kapanpun pria yang sudah mengambil sumpah pernikahan setahun lalu dengannya itu tidak akan membalas apapun Arabella.

__ADS_1


Arabella yang tahu keduanya menikah tentu saja senang, percayalah, Arabella menyukai pasangan Alice dan juga Edgar walaupun dia sangat menginginkan pria tampan itu.


"Kakak ingat dia? Ah, haruskah kali ini aku cemburu?"


"Bukan ya? Jangan salahkan aku kalau aku menyebut namanya, kalian berdua yang sengaja menguji kesetiaanku."


Alice tertawa rendah dan itu membuat Edgar sangat senang, melihat tawa Alice adalah misinya selama ini.


"Aku beritahu dirumah saja." Edgar mengangguk, memang lebih baik dirumah, karena disini rawan ada yang mendengar sementara dia tidak ingin ada yang tahu apa yang istri cantiknya beritahu.


Edgar adalah orang yang oaling bahagia karena berhasil mendapatkan cinta pertamanya, bertahun-tahun memendam rasa yang sama. Tidak ada yang keduanya bisa lakukan saat itu selain menerima takdir. Alice bersama Calvin dan kemungkinan Edgar akan sendiri selama hidupnya.


Sementara itu di kediaman Calvin, pria yang sangat senang karena bisa bertemu dengan buah hatinya itu saat ini sedang membuat makan siang di dapur, tentu dengan Orlando bersamanya. Anak tampan itu duduk dengan tenang di atas kursi dengan cemilan di tangannya. Mulut mengunyah dengan mata terus lurus pada ayahnya.


"Daddy, kenapa tidak datang di pernikahan Mommy dan Papa?" tanya Orlando polos.


Calvin yang sementara menata makan siang mereka mwngangkat wajah dan tersenyum kaku, "Daddy saat itu sangat sibuk, maafkan Daddy, ya?"


Orlando mengangguk memaklumi. Dia belum mengerti hubungan antara Daddy dan Mommy nya yang dia pahami adalah Calvin Daddy-nya yang baik.


Hanya itu.


"Orlando senang, Mommy dan Papa menikah?" Pancing Calvin, dia ingin mendengar apa yang anaknya rasakan selama ini.


"Hem. Tentu saja." jawab Orlando singkat dengan senyuman. "Orlando juga senang kalau Daddy dengan Mommy." mendapatkan dukungan, Calvin mendekat dan duduk di hadapan sang anak

__ADS_1


"Benarkah?" Orlando mengangguk.


"Tapi, Mommy dan Papa sudah cocok. Benarkan, Daddy? Kali ini Calvin yang mengangguk lesu. Tidak ada harapan, Alice sudah bahagia bersama pilihannya. Dan Calvin akan mendukung selama anaknya juga bahagia.


Siang itu mereka makan siang bersama, Alice dan Edgar sudah menolak tetapi Calvin tetap memaksa itu juga karena bantun Orlando sehingga makan siang itu tetap terjadi.


Calvin menahan sakit selama makan siang berlangsuhg, perhatian Edgar begitu mencolok sehingga dia kembali di ingatkan bahwa, dirinya memang tidak pantas untuk Alice.


"Aku akan mengantarnya besok, kalian tenang saja." Alice menimbang, dia masih tidak rela Orlando menginap walaupun itu sehari.


"Mommy hanya semalam, boleh ya?" Orlando ikut membujuk, tidak mendapat jawaban dari sang ibu, anak itu beralih pada ayahnya.


"Papa, hanya semalam, setelah ini Orlando janji tidak akan nakal, Orlando akan membuat Mommy bahagia, boleh ya?" mata bulat itu sudah berkaca-kaca, entah apa yang Calvin janjikan sampai dia memaksa menginap.


Menghela napas panjang, "Baiklah! hanya semalam, setelahnya tidak ada lagi, oke?" Orlando mengangguk senang, anak itu memeluk ibu dan ayahnya kemudian masuk lebih awal.


"Bukankah kau sangat keterlaluan? Dia juga anakku, bagaimana bisa kau membatasinya sepert itu?" protes Calvin.


"Bersyukurlah karena aku mau mempertemukan kalian." jawab Alice datar kemudian melanjutkan, " Jam 3 sore, antar Orlando di rumahku besok." setelah mengatakan itu, mantan istri Calvin itu berlalu ke mobil. Tinggallah sekarang Edgar dan Calvin berdua.


"Tolong jangan di ambil hati. Suasana hatinya beberapa hari memang tidak baik." ucap Edgar.


"Hem. Aku mengerti."


Edgar menepuk pundak Calvin pelan, "Bersenang-senanglah, dan antar Orlando tepat waktu sebelum ibunya kembali mengamuk."

__ADS_1


__ADS_2