
💋HAPPY READING💋
Bara kembali ke kamar dengan membawa segelas air putih dan ia langsung memberikannya pada Serina.
"Minumlah,"
Serina tersenyum, ia pun lalu meminumnya.
"Lanjutkan lah tidurmu...." Ucap Bara kembali mengelus kepala istrinya.
Saat Bara hendak beranjak dari ranjang, Serina tiba-tiba saja meraih lengannya.
"Ada apa lagi?" Tanya Bara.
"Mau kemana?"
"Aku tidak kemana-kemana!"
"Kalau begitu temani aku malam ini," Pinta Serina.
Bara terlihat begitu gugup saat Serina memintanya untuk menemaninya malam ini.
"Jika kalian bisa bermain dengan licik, maka aku pun juga bisa bermain dengan cantik." Batin Serina. "Kamu pikir aku bodoh, mas? aku tahu jika kamu akan pergi ke kamar Arum."
"Kenapa diam saja, mas?" Tanya Serina.
"Ah....tentu saja sayang, aku akan menemanimu malam ini!" Ucap Bara memberikan setengah senyumannya.
Bara pun mau tidak mau harus mengurungkan niatnya untuk bercocok tanam dengan Arum malam ini.
Sementara Arum, dikamar ia masih saja Mondar mandir seperti orang yang serba salah, menunggu kedatangan Bara yang tak kunjung datang.
"Kemana dia, kenapa lama sekali!" Gerutu Arum sambil sesekali melirik ke arah jarum jam yang sudah menunjukan pukul dua belas malam.
"Apakah dia membohongiku?"
Karena kesabarannya sudah habis, Arum pun memutuskan untuk menyusul Bara ke kamarnya.
Tepat di depan pintu kamar Bara dan Serina, arum pun langsung menempelkan telinganya di pintu.
Terdengar dari dalam ada suara Bara dan Serina yang sedang tertawa.
Seketika nafas Arum memburu menahan amarah dan rasa cemburu. Rasanya ingin sekali dia menendang pintu dan memarahi Bara yang tak menepati janji, akan tetapi Arum sadar kalau di tidak punya hak atas apapun.
Arum, wanita itu dengan perasaan kesal langsung saja beranjak pergi kembali ke kamarnya.
-
-
-
Keesokan harinya,
Bara dan Serina datang ke meja makan dengan senyum ceria yang menghiasi wajah mereka.
Kebetulan dimeja makan ada Arum yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Melihat kedatangan majikannya, Arum langsung saja menaruh piring dengan kasar. Ia sengaja melakukan itu untuk menarik perhatian Bara.
Melihat Arum yang menaruh piring dengan kasar dan ditambah lagi raut wajah Arum seperti benang kusut, Serina langsung menanyainya.
"Apa yang terjadi padamu, kenapa kamu terlihat tampak kesal begitu?" Tanya Serina seraya duduk.
__ADS_1
"Ah....ti-tidak nyonya, bukan apa-apa!" Ucap Arum.
"Jujur saja, Arum. Kamu tidak usah menutupinya." Ujar Serina.
"Sayang, sudahlah jangan mengurusi Arum. Mungkin dia punya masalah pribadi jadi kamu tidak usah ikut campur." Sambung Bara.
"Kalau begitu saya pamit ke belakang dulu, Tuan, nyonya." Ucap Arum seraya berlalu, sekilas Arum melirik ke arah Bara dengan sorot mata tajam.
Bara dan Serina lalu menikmati sarapan pagi mereka. Di pertengahan saat sedang makan, Serina membuka suara.
"Sayang...."
"Iya sayang, ada apa?" Tanya Bara.
"Apa kamu tahu?"
"Tahu apa? kamu saja belum memberitahu!"
"Apa kamu benar-benar tidak ingat?" Tanya lagi Serina.
Bara menggeleng. Ia mencoba mengingat-ingat tapi tetap saja dia tidak ingat.
Serina mengerucutkan bibirnya.
"Kamu lupa tiga hari lagi kan anniversary pernikahan kita." Ujar Serina.
Bara mulai ingat, ya memang tiga hari lagi anniversary pernikahannya. Biasanya setiap setahun sekali, mereka akan selalu merayakannya.
"Kamu benar sayang, maaf jika aku lupa. Baiklah, mari kita rayakan seperti biasanya." Ujar Bara tersenyum simpul.
"Tapi aku mau kali ini lebih mewah lagi, mas!" Pinta Serina.
"Jadi kamu setuju?" Tanya Serina.
"Tentu saja sayangku, mari kita adakan pesta besar untuk merayakannya nanti!" Ucap Bara.
"Aku jadi tidak sabar untuk memberikanmu kejutan di hari istimewa kita, mas." Kata Serina dengan senyuman penuh arti.
"Kejutan apa, sayang?" Tanya Bara penasaran.
"Kalau aku memberitahu duluan, itu bukan kejutan namanya." Ujar Serina.
"Hem....baiklah kalau begitu, aku jadi tidak sabar dengan kejutan yang kamu berikan nanti!"
"Lihat saja, kalian berdua akan jatuh ke permainanku!" Batin Serina tersenyum puas.
Percakapan Bara dan Serina pun ternyata tak luput oleh pendengaran Arum yang sejak tadi menguping.
Lagi-lagi hati Arum dibuat panas dan untuk saat ini ia pun hanya bisa meredam emosinya.
Setelah selesai makan, Serina mengatakan pada Bara bahwa dia akan pergi ke kamar dulu untuk mengambil benda yang tertinggal. Bara pun mengiyakannya.
Melihat Serina yang sudah benar-benar pergi dari ruang makan, Bara langsung saja beranjak dari kursinya lalu menghampiri Arum yang sedang berada didapur.
"Arum...." Tegur Bara dengan suara pelan.
Arum membalikkan badannya dan langsung saja melayangkan satu tamparan keras ke wajah Bara.
Plaaak........
"Tega kamu, mas!" Gumam Arum dengan kesal.
__ADS_1
"Arum kenapa kamu malah menamparku!" Tanya Bara sambil memegangi pipinya yang terasa sakit akibat tamparan dari Arum.
"Masih bertanya kenapa? cih.....kenapa kamu tidak menepati janjimu semalam? padahal aku sudah menunggumu, mas!" Gerutu Arum.
"Arum, maafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa ke kamarmu tadi malam." Jelas Bara.
"Apa katamu, maaf?"
"Shut.....Aku minta jangan diperpanjang, Rum. Sebentar lagi Serina akan kembali, ini ambilah sebagai gantinya karena malam tadi aku sudah membuatmu kesal!" Bara merogoh saku celananya, lalu memberi kertas berupa cek tunai pada Arum.
Arum mengambil cek tunai itu dan betapa terkejutnya ia ketika melihat jumlah uang tersebut.
"Hah mas, lima puluh juta? apa ini gak kebanyakan, mas?" Tanya Arum.
"Tidak, sengaja kuberikan segitu untukmu, Arum. Sisanya pakailah untuk kamu bersenang-senang!" Ujar Bara.
"Kamu jangan marah lagi, masalah itu kita bisa melakukannya dilain waktu. Yang penting aku sudah memberimu uang!"
"Terimakasih, Mas. Aku sangat mencintaimu." Ucap Arum girang seraya memeluk Bara.
"Tentu saja, Arum! Apapun yang kamu inginkan akan aku kabulkan." Ucap Bara membalas pelukan Arum.
Tanpa kedua mahluk laknat sadari, ternyata sejak tadi Serina sudah berdiri diambang pintu sambil memotret adegan yang mereka lakukan.
Serina tersenyum sinis lalu berkata "Berbahagialah kalian untuk saat ini, sebantar lagi kebusukan kalian akan ku bongkar!"
-
-
-
Siang ini di ruangannya, terlihat Serina tengah sibuk membaca berkas-berkas.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering, menandakan ada panggilan masuk. Serina lalu meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelpon itu.
"Nomor tak di kenal? Huh, pasti ini nomor laki-laki aneh itu." Gumam Serina, lalu kembali meletakan ponselnya diatas meja.
Tapi lagi-lagi ponsel Serina terus berdering, dengan rasa kesal dan terpaksa akhirnya Serina pun langsung saja mengangkat telepon tersebut.
"Ada apa?" Tanya Serina dengan pembawaan yang dingin.
"Kenapa lama sekali kamu mengangkat teleponku?" Tanya Pram.
"Aku sibuk jadi aku tidak ada waktu mengangkat telepon darimu!" Ucap Serina kesal.
"Bohong," ucap Pram. "Ini sudah jam istirahat, jadi tidak mungkin kamu sibuk." Imbuhnya.
Serina mendengus kesal.
"Terserah kamu percaya atau tidak!"
"Apa kamu punya waktu?" Tanya Pram.
"Tidak ada!" Jawab Serina, singkat padat dan jelas.
"Aku akan menjemput mu."
"Hei, mau apa kamu?" Tanya Serina.
"Mengajak mu makan siang bersama." Ucap Pram.
__ADS_1