Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
48. Awal Karma Datang


__ADS_3

"Aku mempermainkan mu? Hai, bukankah kamu yang mempermainkan aku selama ini, hah!" Tanya balik Serina.


Kedua tangan Bara mengepal dengan erat, sekarang dia begitu geram kepada mantan istrinya.


"Kenapa kamu begitu jahat padaku, Serina!" Seru Bara.


"Jahat? Siapa yang jahat disini, hah! Kamu pikir aku tidak tahu kamu melakukan korupsi untuk menghidupi selingkuhan kamu itu?" Tanya Serina.


"Kalau kamu mau selingkuh, minimal pakai uang sendirilah jangan pakai uang istri!" Ucap Serina membuat wajah Bara tebal dihadapan semua orang yang sejak tadi menyaksikan mereka.


"Heh! kamu jangan sembarangan kalau menuduh, aku sudah lama memimpin perusahaan ini, jadi untuk apa juga korupsi, hah?!" Bara naik pitam.


"Tanyakan pada dirimu, kenapa kamu malah bertanya padaku. Jika kamu tidak percaya silahkan tapi aku memiliki bukti kalau kamu melakukan korupsi." Ucap Serina.


Bara terdiam, Serina melangkah maju ke arah Bara lalu membisikan sesuatu yang membuat wajah Bara menegang.


"Jika kamu tidak ingin malu, sebaiknya pergilah dari sini! Aku tidak akan mempermalukan mu sebab aku masih menghargai kamu sebagai orang yang pernah bertanggung jawab memimpin perusahaan ini." Bisik Serina dengan suara lirih.


"Aku tidak menyangka jika kamu akan seperti ini, Serina." Geram Bara.


"Kamu mau pergi apa tidak? lihatlah daritadi semua orang sibuk berbisik dan menatap sinis kamu, apa kamu tidak malu?" Tanya Serina.


"Aku masih berbaik hati padamu, mas. Menyuruh kamu untuk segera pergi. Kalau aku mau sekarang bisa saja aku menyeret kamu ke penjara dengan semua bukti yang ada." Ucap Serina dengan begitu serius.


Bara terkejut mendengar ucapan Serina barusan, sementara Serina hanya tersenyum tipis melihat mimik wajah mantan suaminya yang seketika terlihat memucat.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang juga." Ujar Bara.


"Tapi nanti ku pastikan kalau kamu akan menyesal karena telah begini kepadaku." Ucap Bara dengan tatapan tajam.


Serina sama sekali tak menggubris ucapan mantan suaminya itu, yang ada ia malah tetap tersenyum tipis.


Dengan perasaan amarah yang ditahan sejak tadi, Bara pun melangkah pergi begitu saja sambil dalam hati terus mengomel dan mengumpat Serina.


Bara baru saja masuk ke dalam mobil dan tiba-tiba ponselnya bergetar. Istrinya Arum menghubungi dirinya. Arum menangih janji kepada Bara yang katanya siang ini akan pergi membeli mobil. Tapi Bara malah berbohong dengan mengatakan jika siang ini ia tak bisa karena ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan.


"Tapikan kamu sudah janji, mas!" Ucap Arum mulai kesal.


"Sayang, kamu ngertiin mas dulu lah, mas masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. lagian besok kan bisa." Ujar Bara.


"Baiklah kalau begitu, awas aja gak jadi lagi!" Seru Arum langsung memutuskan sambungan telefon.


Bara menghela nafas beberapa kali dan kemudian memukul-mukul setir mobil.


"Ah sial,.....semua ini gara-gara Serina!" Gumam Bara.


_

__ADS_1


Sore hari Bara baru menginjakkan kakinya diapartemen. Ia mendapati apartemen yang begitu sepi, seperti tidak ada orang. Bara mematung sejenak saat ia mendapati apartemen yang begitu berantakan. Bara menghela nafas panjang, ia begitu heran dengan Arum kenapa apartemen bisa berantakan seperti ini.


"Mas......" Tegur Arum yang muncul tiba-tiba.


"Rum....kamu seharian ngapain aja, kenapa rumah sampai berantakan seperti ini?" Tanya Bara.


"Seharian ini aku cuma tiduran aja, Mas. Kan aku udah bilang dari pagi, kalau aku mager." Jawab Arum santai.


Lagi, Bara hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban dari Arum.


"Kenapa mas, kamu gak suka?" Tanya Arum sinis.


"Bukan begitu Rum, hanya saja dipandang mata tidak enak kalau berantakan begini." Ujar Bara.


"Iya mas, aku akan beresin semuanya. Sekarang mending kamu bersihin diri terus kita makan malam." Tutur Arum.


Bara mengangguk, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Arum.


Selang beberapa saat, Bara telah selesai membersihkan diri dan kini ia pun menghampiri Arum yang sudah duduk menunggu dimeja makan.


Bara tertegun tak kala melihat makan malam kali ini, sama sekali tak menggugah selera untuk dia yang sudah menahan lapar sejak tadi.


"Kenapa mas, ayo duduk!" Titah Arum.


"Rum, kenapa kamu hanya masak ini?" Tanya Bara seraya menatap dua mangkuk mie rebus.


"Nggak kurang kok mas, hanya saja akhir-akhir ini aku ingin masak yang simpel dan cepat jadi." Jawab Arum.


Tak ada pilihan lain, Bara mau tidak mau harus mengisi perutnya dengan semangkuk mie rebus saja.


"Mas, pokonya aku gak mau tau, besok beneran jadi loh ya!" Ucap Arum disela makannya.


"Iya Rum, tenang saja." Kata Bara, wajahnya terlihat begitu datar.


"Kamu ada masalah? kenapa wajahmu dari pulang tadi seperti orang lesu?" Tanya Arum.


"Tidak ada apa-apa kok, mas hanya kecapean aja." Jawab Bara berbohong. Dia sama sekali tak bercerita kepada Arum tentang apa yang hari ini terjadi pada dirinya.


"Mas.....aku mau nanya deh,"


"Tinggal ngomong saja, Rum."


"Ngomong-ngomong apa kita akan tetap tinggal diapartemen ini?" Tanya Arum. Bara sejenak terdiam.


Tak menunggu jawaban dari Bara, Arum langsung saja kembali bertanya.


"Apa kamu gak ada niatan untuk beli rumah? Masa sih kita harus tinggal disini terus!"

__ADS_1


"Yah, sebenarnya ada sih Rum. Tapi mas belum memikirkan itu semua." Ucap Bara.


"Aku pengen kamu secepatnya beli rumah, Mas. Dan aku juga pengen rumah itu atas nama aku." Pinta Arum langsung pada intinya.


Tanpa pikir panjang Bara langsung saja mengiyakan permintaan dari Arum. Padahal dia tahu sendiri kalau saat ini dia sudah tak bekerja. Namun semua itu tak masalah baginya, karena Bara pikir walaupun tak bekerja, uangnya masih begitu banyak.


"Kamu serius, mas?" Tanya Arum tak percaya jika permintaannya langsung diiyakan oleh Bara.


"Sudah mas bilang, apa sih yang nggak buat kamu."


"Nggak salah ternyata aku milih kamu!" Ucap Arum tersenyum lebar.


"Tapi Rum, beli rumahnya habis kita beli mobil saja ya!" Ujar Bara.


"Iya mas, aku benar-benar udah gak sabar ini!"


_


Singkat cerita, siang ini Bara dan Arum sudah berada disalah satu showroom mobil. Terlihat Arum sejak tadi tersenyum-senyum sendiri karena ia sudah tak sabar untuk memiliki mobil baru.


Tak tanggung-tanggung yang dipilih Arum, dia memilih salah satu mobil keluaran terbaru yang tentu saja harganya sangat fantastis.


Saat sedang melakukan pembayaran, tiba-tiba Bara dikejutkan dengan penyataan si kasir.


"Maaf, kartu anda tidak bisa." Ucap kasir tersebut.


Bara mengernyitkan dahi, begitu pula Arum yang langsung melirik ke suaminya.


"Tidak mungkin, cobalah lagi!" Seru Bara.


Si kasir pun lalu mencoba lagi dan hasilnya tetap sama seperti tadi. "Tidak bisa, kartu ini sudah dibekukan."


Sontak Bara dan Arum kembali kaget ketika mendengar kartunya telah dibekukan.


Bara menggeleng pelan seolah tak bisa percaya dengan semua ini.


"Mas, kok bisa?" Tanya Arum, wajahnya sudah begitu kesal.


"Mas juga gak tahu, Rum." Bara terlihat begitu bingung.


"Apakah ada kartu lainnya?" Tanya si kasir.


Bara mengangguk, lalu membuka dompetnya kembali untuk mengambil beberapa kartu yang masih ada.


Hasilnya pun tetap sama, semua kartu yang ada sudah dibekukan.


"Mas, apa-apa sih! kok bisa jadi gini, malu-maluin tahu nggak!" Ujar Arum yang benar-benar kesal.

__ADS_1


__ADS_2