Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
41. Hinaan Calon Mertua


__ADS_3

"Eh, Bara tadi pas di mall mamah ketemu sama Serina. Kamu tahu nggak, mamah liat Serina udah gandengan aja sama laki-laki lain." Adu Mayang.


"Mamah gak salah liatkan?" Tanya Bara penasaran.


"Enggaklah orang jelas-jelas mamah nyamperin dia tadi. Sumpah, mantan istri kamu itu sangat kurang ajar sama mamah. Bisa-bisanya dia tidak sopan sama mamah!" Geram Mayang.


Tak memperdulikan apa yang diucapkan mamahnya, Bara justru malah penasaran dengan siapa laki-laki yang bersama Serina.


"Bara penasaran mah, siapakah laki-laki yang sedang bersama Serina itu,"


"Yang jelas mamah lihat laki-laki itu sangat tampan dan berwibawa." Ujar Mayang. "Hebat sekali dia, baru saja cerai dari kamu eh sudah dapat yang lain!" Cibir Mayang.


Bara mengepalkan kedua tangannya, pria ini pun bertekad untuk menemui Serina dan mencaritahu siapa laki-laki yang di sebutkan mamahnya tadi.


"Kamu kenapa, mas kok kaya gak seneng gitu?" Tanya Arum.


"Ya, mungkin Bara belum bisa move on dari mantannya, secara Serina kan wanita cantik dan juga kaya, gak kaya kamu." Celoteh Mayang yang lagi-lagi membuat Arum geram.


"Mah, sudah jangan berkata seperti itu sama Arum." Ujar Bara.


"Huh, kamu lebih membela wanita ini daripada mamah." Ucap Mayang tak terima.


"Bukan begitu mah, tapi..."


"Ah sudahlah, cepat berikan mamah uang."


Bara menghembuskan nafasnya kasar lalu tanpa banyak cingcong Bara mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya.


"Nah gini kan bagus." Ucap Mayang sambil tersenyum lebar.


"Apa lihat-lihat, gak suka kalau anak ku ngasih aku uang." Ucap Mayang pada Arum.


"Mah, Arum tidak seperti itu." Sahut Arum.


"Saya gak bicara sama kamu ya." Ketus Mayang kemudian beranjak pergi tanpa pamit.


Sepergiannya Mayang, Arum langsung saja bangkit dari duduknya.


"Mas, mamah kamu itu apa-apaan sih? kok omongannya pedas sekali seperti cabe rawit." Protes Arum yang memang sudah kesal sejak tadi.


"Sudahlah Rum, biarkan saja. Namanya juga orangtua." Ujar Bara.


"Tapi mas, omongannya itu udah benar-benar keterlaluan!" Keluh Arum.

__ADS_1


Tak ingin meladeni Arum yang ujung-ujungnya hanya akan terjadi perdebatan, Bara pun langsung saja melangkah pergi.


"Mas, kamu mau kemana?" Tanya Arum seraya meraih lengan Bara.


"Aku mau pergi dulu, Rum!" Jawab Bara.


"Kamu baru pulang loh, masa mau pergi lagi?"


"Aku ada urusan sebentar." Ucap Bara sambil melepaskan tangan Arum dari tangannya. Ia pun kemudian melanjutkan langkahnya.


Arum berdecak kesal tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


-


-


-


"Untuk apa lagi kamu datang menemui ku?" Tanya Serina menatap tak suka pria di hadapannya.


"Kamu hebat sekali, baru jadi janda sudah dapat pria lain." Ujar Bara langsung pada intinya.


Serina sejenak terdiam, mencerna apa yang dimaksud oleh mantan suaminya itu. Barulah dia sadar bahwa yang dimaksud ternyata adalah kedekatan dia dan Pram.


"Kenapa malah diam saja, benarkan apa yang aku katakan?" Tanya Bara.


"Kalau iya kenapa? Lagipula apa urusannya dengan mu, suka-suka aku dong mau dekat dengan siapapun." Kata Serina.


Bara menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ternyata apa yang dikatakan mamahnya adalah benar.


"Memangnya ada, laki-laki yang mau sama wanita mandul dan sombong seperti kamu?" Tanya Bara, ia sengaja berkata seperti itu agar membuat Serina sedih.


"Hai, kamu datang kesini hanya untuk mengatakan itu?" Tanya Serina.


"Pergilah, aku tidak punya waktu untuk berbicara dengan orang aneh seperti kamu." Usir Serina yang merasa risih dengan kedatangan Bara.


"Selain wanita sombong dan mandul ternyata kamu juga wanita murahan." Cibir Bara.


"Lebih murahan kamu, masih memiliki pasangan tapi malah berzina dengan perempuan lain." Balas Serina tak mau kalah.


"Sekarang pergi dari rumah ku, huss..." Usir Serina lagi.


Merasa kesal, Bara memutuskan pulang ke apartemennya tapi setelah sampai ia tidak mendapati keberadaan Arum.

__ADS_1


"Dimana dia?" Tanya Bara yang sudah mencari kesemua ruangan tapi Arum sama sekali tak ada.


Sementara Arum ditempat lain, namun masih di sekitar apartemen, ia sedang berdiri berhadapan dengan sosok pria asing.


"Kenapa kamu bisa ada disini? darimana kamu tahu jika aku tinggal disini?" Tanya Arum.


"Tega kamu, Rum!" Ucap pria itu tak menghiraukan pertanyaan dari Arum.


Arum menghela nafas panjang. "Maafkan aku, tapi aku sudah tidak bisa lagi melanjutkan hubungan dengan kamu. Sebentar lagi aku--" Belum selesai Arum berbicara, pria itu langsung memotongnya.


"Karena sebentar lagi kamu akan menikah dengan seorang bos kaya raya yang jauh dibanding aku gitu?" Tanya pria itu yang kesal.


Arum menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu, alasannya. Tapi aku minta padamu mengertilah untuk saat ini!" Pinta Arum.


"Mengerti apalagi Rum? selama kamu kerja di kota kamu tidak pernah lagi menghubungiku!"


"Sampai-sampai kemarin aku mendengar kabar jika kamu di kota akan menikah dengan pria lain!"


Arum tak bergeming, dia sama sekali tak bisa menjawab.


"Asal kamu tahu, Rum. Aku menunggu kabar mu selama dua tahun, aku begitu senang ketika mengetahui kabar mu tapi bukan kabar baik yang kudapat." Timpalnya lagi.


"Lalu kamu mau aku bagaimana? kita sudah putus sekarang. Lagipula sebentar lagi aku akan menikah. Apalagi yang mau kamu harapkan dariku?" Tanya Arum.


"Apa salahku sehingga kamu jadi begini, Rum?" Tanya balik Pria itu dengan tatapan nanar.


"Kamu tidak salah, hanya saja aku sudah tidak bisa lagi denganmu." Ucap Arum dengan tegas.


"Sudahlah, kamu pergi saja sekarang. Tidak usah menemui ataupun menggangguku lagi!" Pinta Arum.


Pria itu sama sekali tak bergerak dan masih menatap Arum dengan sendu.


"Ku minta pergilah dari sini, aku tidak ingin calon suamiku tahu!" Ujar Arum.


Dengan berat hati, pria itu pun berbalik badan lalu melangkah pergi.


Hatinya begitu hancur berkeping-keping saat mengetahui kekasihnya, Arum akan menikah dengan pria lain.


Yah, Bayu namanya dia adalah kekasih dari Arum. Bayu dan Arum sudah menjalin hubungan selama kurang lebih empat tahun. Dua tahun yang lalu Arum memang sempat berpamitan kepada Bayu untuk mengadu nasib ke ibukota. Tapi entah mengapa, semenjak seminggu berlalu kepergian Arum ke ibu kota, Arum tak lagi dapat dihubungi oleh Bayu.


Arum menghela nafas lega saat melihat Bayu yang sudah pergi. Dia pun segera kembali ke unitnya karena ia tak mau Bara menaruh curiga dan menuduhnya yang bukan-bukan.


"Rum, kamu darimana saja?" Tanya Bara pada Arum yang baru saja masuk.

__ADS_1


"Mas Bara, a-aku aku habis keluar buang sampah tadi!" Jawab Arum berbohong.


"Oh, aku kira kamu kemana."


__ADS_2