
Serina tertawa kencang lalu kembali menatap tajam ke arah Bara.
"Apa aku tidak salah dengar?"
Bara menghela nafasnya, "Serina.....tolong jangan perpanjang masalah ini. Lagipula aku sudah minta maaf padamu. Kamu tinggal memaafkannya lalu selesai, bukan?"
"Brengsek! tidak tahu malu!" Umpat Serina.
"Baiklah, semua sudah jelas. Kalian berdua saling mencintai, berarti selama ini aku hanya menjadi penghalang bagi kalian!" Ucap Serina menatap tegas keduanya.
"Bukan begitu, Serina!"
Tak menghiraukan, Serina bangkit dari duduknya dan hendak melangkah pergi. Namun Bara langsung meraih lengannya.
"Kamu mau kemana, Serina?" Tanya Bara.
"Sudahlah, semua sudah jelas. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan!" Ujar Serina dengan mata memerah. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Bara.
Wanita itu kemudian berlalu begitu saja menaiki anak tangga menuju ke kamar.
"Serina.....Serina....." Panggil Bara tak dihiraukan.
Bara lalu melirik ke arah Arum yang sejak tadi hanya diam mematung dengan wajah tanpa dosa.
Tak berkata sepatah katapun, Bara langsung saja melangkah menyusul sang istri.
Dikamar, Serina langsung saja menumpahkan air mata yang sejak tadi ia tahan-tahan. Perasaannya saat ini begitu campur aduk, antara sedih, kesal, marah dan kecewa.
"Argh......Bragg.....!"
Dengan diiringi Isak tangis, Serina menghempaskan semua benda yang ada dihadapannya, termasuk dengan foto pernikahan dirinya dan Bara yang terpajang rapi diatas meja.
"Serina....apa yang kamu lakukan!" Tanya Bara saat baru masuk ke dalam kamar. Pria itu begitu kaget saat melihat tingkah istrinya yang seperti orang kerasukan.
Serina lagi-lagi tak menghiraukan, dia kembali meraih foto pernikahan yang dipajang didinding, lalu menghempaskannya ke lantai. Serina tertawa kencang, dirasa belum puas, ia langsung saja menginjak-injak foto pernikahan tersebut.
"Serina hentikan!" Teriak Bara.
Serina berhenti dan menatap nyalang ke arah Bara.
"Bagaimana bisa kamu memperlakukanku seperti ini? Teganya kamu!" Raung Serina.
"Maafkan aku, sayang. Aku benar-benar minta maaf." Ucap Bara dengan lembut.
Serina mendekat lalu menggelengkan kepalanya.
"Kamu minta maaf untuk apa? Dua tahun kamu mengkhianati rumah tangga kita, dua tahun!" Serina kembali berteriak.
"Enak sekali bilang maaf semudah itu?" Air mata semakin berlinang membasahi pipi mulus Serina.
"Tuhan saja memaafkan hambanya jika berbuat salah, kenapa kamu yang manusia tidak bisa memaafkan?" Imbuh Bara.
"Aku bukan tuhan!" Ketus Serina.
__ADS_1
Bara menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya kasar.
"Aku mengaku bersalah karena telah mengkhianati pernikahan kita. Aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Mohon Bara.
Serina tidak menjawab, hatinya terlalu hancur untuk bisa memaafkan.
Bara merengkuh tubuh istrinya membawa wanita itu kedalam pelukannya. Pelukan hangat yang selama ini Serina rindukan.
Bara semakin merasakan sesak semakin menghimpit di dadanya.
Bara merasa sangat bersalah teramat dalam. Betapa dirinya telah memberi luka pada seseorang yang seharusnya ia jaga sepenuh jiwa dan raga.
Seseorang yang tidak pernah menuntut apa-apa darinya, tapi kini hanya pengkhianatan yang Bara berikan.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, pengkhianatan yang di lakukan oleh Bara tidak bisa di maafkan.
"Serin, tolong maafkan aku untuk sekali ini saja!" Bisik Bara dengan segenap perasaan bersalah.
"Sudahlah mas, untuk apa kita terus bersama jika pada akhirnya kita saling terluka." Kata Serina sembari melepaskan pelukan suaminya.
Bara menatap lekat wajah istrinya, wajah yang terlihat begitu sendu.
"Sayang.. apa maksudmu?"
"Lebih baik kita akhir saja semua ini!" Ujar Serina, malah semakin membuat Bara tak paham.
Serina meraup udara sebanyak mungkin. Mengendorkan dada yang terasa begitu sesak. Merajut kembali kata yang sempat terhenti di tenggorokan.
"Mari kita bercerai!"
Bara bagaikan disambar petir ketika mendengar pernyataan dari Serina.
"Tidak, aku tidak mau bercerai dengan mu." Tolak Bara tegas. "Serina... bagaimana mungkin kita akan berakhir seperti ini, apa yang harus ku lakukan untuk memperbaiki semuanya?" Tanya Bara dengan wajah penuh ketakutan.
Serina, wanita itu menampar keras wajah Bara.
"Mungkin bagimu pengkhianatan adalah hal biasa bagi manusia yang tidak memiliki hati nurani seperti dirimu." Ucap Serina menatap nyalang ke arah Bara.
Bara mendecih.
"Lalu kenapa kamu diam saja melihat ku berselingkuh dengan Arum? Kenapa kamu tidak menghentikan ku?" Tanya Bara dengan suara meninggi.
"Aku ingin melihat sampai sejauh mana suamiku sendiri berbohong padaku." Ucap Serina menatap dingin suaminya.
"Mungkin jika aku tidak membongkar pengkhianatan mu malam ini, mungkin kamu akan terus membohongi ku, mas."
Bara mengusap wajahnya kasar.
"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang, sedangkan kamu saja tidak ingin memaafkan ku?"
"Yang kamu lakukan sekarang? baiklah, tenang saja. Kamu hanya perlu menunggu surat cerai dariku!" Tutur Serina dengan sorot mata tajam.
"Jangan gila kamu, Serina! kamu semakin tidak karuan! ingat, sampai kapanpun aku tidak ingin kita bercerai. Pikirkan perasaan ku, Serina!" Ungkap Bara.
__ADS_1
"Di saat kamu berselingkuh, apa kamu memikirkan perasaan ku, Hah?!" Teriak serina. "Bahkan lebih parahnya kamu dengan Arum bermain di rumah kita!." Sentak Serina.
Bara seketika terdiam.
"Sekarang pergi dari hadapan ku!" Usir Serina.
"Serina..." Bara menatap sendu istrinya.
"Pergi!" Bentak Serina. "Aku sudah muak melihat orang munafik seperti kamu!" Imbuhnya.
Bara mau tidak mau pun langsung melangkah keluar, memberikan Serina waktu untuk menenangkan pikiran.
Sepergiannya Bara dari kamar, Serina pun kembali menitihkan air matanya. Ia menangis sesenggukan, merasakan perih dihatinya yang kembali hadir.
Malam ini adalah malam yang terpahit bagi keduanya, baik Serina maupun Bara.
Huft....
Dengan langkah gontai dan wajah tertunduk, Bara menuruni anak tangga tanpa sadar jika Arum telah menunggunya diujung tangga.
Bara menegakkan pandangannya dan menatap Arum dengan tatapan nanar.
"Bagaimana, apa yang kalian bicarakan tadi?" Tanya Arum penasaran.
"Dia memutuskan untuk bercerai!" Jawab Bara, lalu membuang nafasnya kasar.
"Benarkah? baguslah kalau begitu, kita bisa menikah habis itu." Kata Arum tersenyum tipis.
"Em tapi, apa jawaban yang kamu berikan saat dia memutuskan untuk bercerai?"
"Aku sama sekali tidak mau." Tukas Bara.
"Kenapa?"
"Bagaimana bisa aku mau, sementara aku sangat mencintai dirinya." Ucap Bara.
Arum mendengus kesal saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Bara.
"Apa kamu tidak mencintaiku juga?"
"Bukan begitu, Rum. Aku mencintainya, tapi aku juga mencintaimu. Aku sama sekali tidak mau kehilangan dia ataupun kamu." Jelas Bara.
"Kamu tidak bisa begitu, Mas. Kamu harus pilih salah satu antara aku apa dia!" Cerocos Arum.
Bara menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku tidak bisa memilih diantaranya, aku tetap mau dia dan kamu." Tegas Bara sekali lagi.
"Kamu egois, mas!" Cemooh Arum.
"Aku tidak perduli!" Ucap Bara, kemudian berlalu begitu saja.
Arum termangu, tak habis pikir pada Bara yang mencintai dua wanita dalam satu hati.
-
__ADS_1
-
-