Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
21. Pulang


__ADS_3

"Heh.. Bara kamu ini dasar laki-laki bodoh!" Umpat Ruslan. "Istrimu pergi saja, kamu tidak tahu dia pergi kemana!" Seru Ruslan.


"Ma-maafkan Bara, Pah!" Ucap Bara pelan. "Kalau Bara tahu juga, Bara tidak mungkin mencarinya kesini." Kata Bara.


"Kamu terlalu sibuk dengan selingkuhan mu hingga kamu tidak tahu istrimu kemana." Geram Ruslan dengan kedua tangan terkepal kuat.


"Pah.. sudah pah.. jangan marah-marah, nanti darah tinggi papah naik." Ucap Sonia menenangkan suaminya.


"Tapi mah, dia benar-benar keterlaluan!"


"Sudah....sudah, Bara sebaiknya kamu pergi dari sini!" Titah Sonia, ia tak ingin ada perkelahian antara suaminya dan menantu.


Akhirnya dengan perasaan kesal Bara pun pamit pergi kepada kedua mertuanya.


Argh... Argh....


"Sial... Sial..!" Umpat Bara, pria itu memukul-mukul setir mobilnya.


"Kemana kamu pergi Serina?" Ucap Bara yang mulai frustasi.


"Tidak.. tidak mungkin kamu meninggalkan aku. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari ku, Serina. Tidak akan!" Bara mengusap wajahnya kasar.


Pria itu pun lalu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sekarang di dalam pikirannya hanya ada Serina istrinya.


Setelah tampak banyak berpikir, Bara pun memutuskan untuk pulang, pikirannya tak karuan, kepergian Serina yang entah kemana membuatnya begitu pusing.


-


-


Matahari mulai menunjukan sosoknya sedikit demi sedikit, pertanda pagi mulai datang. Sinarnya masuk dengan malu-malu melalui celah korden sehingga membuat Serina yang tertidur pulas kini terbangun akibat silaunya.


Serina mengerjapkan matanya berulang kali demi menyesuaikan pandangannya yang terlihat kabur. Kepalanya masih sedikit terasa pusing, mungkin akibat terlalu banyak meminum alkohol semalam.


Serina merenggangkan otot-ototnya lalu dengan sekuat tenaga ia bangun dari tempat tidur. Serina mencium aroma masakan yang begitu menggugah selera, sehingga membuat perutnya lapar seketika. Ia langkahkan kakinya, mencari sumber aroma masakan yang begitu menyengat.


Ternyata aroma tersebut berasal dari dapur, dimana ternyata sedang ada Pram yang tengah sibuk dengan alat-alat masakan.


Serina berdehem. Dan Pram langsung saja berbalik badan.


"Serina? kamu sudah bangun?" Tanya Pram.


"Ya, yang kamu lihat sendiri bagaimana?" Tanya balik Serina.


Pram tersenyum mendengar jawaban Serina yang seperti itu. Dia lalu melangkahkan kakinya, mendekat ke arah Serina.


"Kamu pasti lapar, duduklah dulu dan tunggu sebentar. Karena sebentar lagi aku akan selesai!" Ujar Bara lalu membawa Serina untuk duduk di meja makan.

__ADS_1


Serina mengangguk tanda mengiyakan.


Tak lama kemudian, Pram sudah selesai memasak. Dia meletakan dua piring nasi goreng telur mata sapi di atas meja makan. Lalu mempersilahkan Serina untuk memakannya.


"Pram...." Panggil Serina.


"Iya ada apa?"


"Maafkan aku." Ucap Serina tiba-tiba.


Pram menunjukkan wajah heran, tak mengerti kenapa Serina meminta maaf padanya.


"Maaf untuk apa?"


"Hm, masalah kemarin, karena aku jadi menceritakan semua masalah rumah tanggaku padamu." Ucap Serina tak enak hati.


"Tidak masalah, Serina. Sudahlah, sekarang makanlah dulu!" Ujar Pram.


"Ba-baik....." Serina lalu menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Dan sedetik kemudian Serina terpaku dengan rasa nasi goreng yang dibuat oleh Pram, begitu enak.


"Kenapa Serin? apa rasanya tidak enak?" Tanya Pram. Serina menggeleng.


"Tidak , ini sangat enak sekali. Aku suka!" Jawab Serina lalu kembali menikmati nasi gorengnya.


Pram menyunggingkan senyum. Pria lalu kembali menikmati nasi gorengnya.


Pram mengerutkan dahinya. "Kenapa kamu buru-buru, Serin?" Tanya Pram.


"Tidak apa-apa Pram, aku tidak ingin merepotkan mu. Lagipula status ku masih istri orang, tidak enak jika di lihat orang kalau kita bersama seperti ini." Jelas Serina.


"Hem....baiklah kalau begitu! bersihkan lah dulu dirimu!"


Serina bangun dari duduk lalu melangkah menuju ke arah kamar untuk membersihkan diri.


Selang beberapa saat, Serina sudah keluar dari kamar dan menghampiri Pram yang sedang duduk disofa, seolah menunggu Serina.


"Serina.....aku akan mengantarmu!" Ujar Pram.


"Tidak usah Pram, aku pulang sendiri saja. Aku tidak ingin merepotkan mu, aku akan naik taxi!" Tolak Serina secara halus.


"Tidak....tidak, lebih baik kamu ku antar saja!" Pram terus memaksa dan akhirnya Serina menurut.


Hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit, mobil yang dikendarai pun kini telah tiba di halaman rumah Serina.


Bara yang memang saat ini masih tertidur diatas sofa, ia seketika terbangun tak kala mendengar suara deru mobil dari arah luar.


"Hah, itu Serina!" Ucap Bara sambil mengucek-ngucek matanya. Pria itu beranjak dari sofa lalu melangkah keluar memastikan kalau itu benar istrinya.

__ADS_1


"Pram, nanti kamu langsung pulang saja ya." Kata Serina, ketika ia melihat ada mobil Bara yang terparkir.


"Baiklah, Serin!"


"Itu ada Bara, dia seperti orang yang sedang menunggumu." Ucap Pram saat melihat Bara yang keluar dari rumah.


Serina membuang nafas kasar. "Terimakasih banyak, Pram. Aku turun dulu!" Ujar Serina.


"Kalau begitu aku pulung dulu ya!"


"Baik, hati-hati dijalan!" Serina lalu turun dari mobil dan Pram segera berlalu dari kediaman Serina.


Terlihat Bara memicingkan kedua matanya, ia begitu penasaran dengan siapa yang mengantar istrinya.


Serina menatap acuh ke suaminya, wanita itu lalu melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah. Demikian dengan Bara, pria itu juga ikut masuk menyusul Serina.


"Serina....Serin..... Tunggu!" Pinta Bara seraya meraih lengan Serina.


Serina berbalik badan dan menatap Bara dengan penuh kebencian.


"Apa sih?" Tanya Serina ketus.


"Darimana saja kamu semalaman? kenapa tidak pulang ke rumah? terus siapa pria yang tadi mengantarmu?" Tanya Bara secara rinci.


"Mau aku kemana itu sama sekali tidak penting untukmu, mas!" Jawab Serina.


"Aku suamimu, Serina!" Bentak Bara yang dibuat emosi dengan jawaban Serina.


"Secara status iya, tapi hatimu bukan!" Sentak Serina.


Bara terdiam sesaat.


Serina kemudian melepaskan pegangan tangannya. "Kenapa diam? benarkan apa yang aku katakan? hatimu hanya untuk Arum, bukan untukku!" Cecar Serina dengan wajah menahan amarah.


"Bukan begitu Serin, sampai kapanpun hatiku ini hanya untuk kamu seorang!" Sanggah Bara.


Serina tertawa renyah mendengar pernyataan Bara. "Cuih.....ingin sekali rasanya aku percaya!"


"Sudahlah, jangan membahas hal yang lain!" Ujar Bara, karena ia tahu pembicaraan ini pasti akan berhubungan dengan Arum.


"Siapa pria tadi? apa kamu semalam pergi dengannya? Serina, jangan berhubungan dengan lelaki lain meskipun hubungan kita saat ini sedang tidak baik!" Gerutu Bara.


"Kenapa? Kamu saja berhubungan dengan wanita lain bahkan saat kita masih suami istri!" Balas Serina, tatapannya begitu tajam.


Bara semakin emosi mendengar setiap kata yang keluar dari mulut istrinya. Ingin sekali rasanya ia melayangkan satu tamparan ke wajah mulus Serina, akan tetapi ponselnya tiba-tiba berdering.


Bara merogoh saku celananya dan melihat siapa yang menelepon. Ternyata itu adalah Arum.

__ADS_1


__ADS_2