Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
14. Pergi Ke Mall


__ADS_3

Serina merasa mual dan ingin muntah saat mendengar penuturan suaminya yang seperti itu.


"Dimana dia? kenapa tidak muncul juga?" Tanya Serina.


"Arum.....Arum....." Panggil Serina dengan nada setengah berteriak.


Arum yang sedang merias diri merasa kesal. Setengah berlari Arum pun menghampiri sang majikan yang sudah menunggunya di ruang tengah.


Serina menatap Arum dari bawah keatas dengan tatapan sinis, berbeda dengan Bara, pria itu menatap Arum dengan pancaran mata yang terpesona.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Serina.


"Maaf, nyonya. Tadi saya--"


"Sudahlah sayang, ayo kita pergi sekarang!" Tukas Bara.


Lalu mereka bertiga pun melangkah keluar karena di depan sudah ada pak Kubis yang telah menunggu sejak tadi.


"Arum, kamu duduk depan saja, bersama pak Kubis!" Ucap Serina. Sementara ia duduk dibelakang bersama Bara.


"Ba-baik, nyonya!"


Dua puluh menit kemudian, sampailah mereka di salah satu ?Mall ternama di kotanya.


Bara dan Serina turun lalu masuk ke dalam Mall tersebut, begitu pula dengan Arum yang berjalan dibelakang mereka. Sedangkan pak Kubis tidak ikut masuk, dia hanya menunggu di mobil saja.


Hal pertama yang Bara dan Serina cari ialah pakaian yang akan dikenakan saat pesta nanti.


Sambil berkeliling mencari toko pakaian yang pas, Arum terus saja memperhatikan gerak gerik majikannya itu, terlihat Bara dan Serina terus bergenggaman tangan sejak awal.Tak hanya itu Serina terus saja bergelayut manja di lengan Bara seperti kera, seolah membuat Darah Arum benar-benar mendidih melihatnya.


"Sialan, apakah dia sengaja seperti itu di hadapanku?" Batin Arum yang begitu muak melihat tingkah majikannya itu.


"Sayang, kita beli disini saja!" Ucap Serina saat melewati salah satu toko pakaian branded.


Bara mengangguk. "Boleh, Sayang!"


Kemudian mereka pun masuk dan langsung memilih-milih.


"Sayang, semuanya yang ada disini sangat bagus. Aku jadi bingung ingin beli yang mana!" Ucap Serina dengan nada manja.


"Kamu bingung, kalau begitu belilah semuanya!" Kata Bara tersenyum lebar.


Arum yang sudah merasa jengkel sejak tadi, ia langsung saja melirik tajam ke arah Bara yang berkata seperti itu. Sadar jika Arum menatap tajam dirinya, Bara malah menunjukkan sikap yang seolah-olah tak perduli.


Arum yang merasa di acuhkan merasa sangat kesal, wajahnya memerah menahan amarah.

__ADS_1


Akhirnya, Arum hanya bisa diam saja dengan tangan mengepal dan hati yang begitu dongkol.


"Benarkah? em....tapi sebaiknya tidak usah, mas." Ujar Serina.


"Ya sudah kalau begitu, terserah kamu saja, Sayang!" Tutur Bara.


Sampai beberapa saat kemudian, Serina sudah menemukan pakaian yang menurut ia cocok dan Bara langsung saja membayarnya. Harganya pun tak main-main, cukup mengurus kantong. Tapi itu semua tak menjadi masalah bagi Bara.


Setelah membeli pakaian, mereka juga tak lupa membeli persiapan untuk pesta besok seperti makanan ringan, minuman dan juga buah-buahan.


Arum, wajah wanita itu tampak sangat kesal. Bagaimana tidak, sejak tadi berkeliling membawa beberapa tentengan ditangannya, sementara Bara dan Serina terlihat begitu santai dan mesra sambil tunjuk sana dan sini.


"Sayang, ayo kita masuk ke toko ini?" Ajak Serina pada Bara.


Bara melirik dan Arum juga ikut melirik ke arah toko yang dimaksud Serina. Sebuah toko yang menjual pakaian haram, sontak saja membuat Bara dan Arum tertegun.


"Kenapa malah diam, mas?" Tanya Serina.


"Ah, tidak sayang. Ka- kamu mau apa masuk ke toko ini?" Tanya balik Bara.


"Ya nggak papa, aku hanya ingin melihat-lihat saja. Kalau ada yang pas ya aku beli!" Jawab Serina tersenyum menyeringai sambil melirik ke arah Arum yang mendadak membuang muka.


Bara mengangguk, karena ia tak ingin juga menolak permintaan sang istri. Serina lalu melangkah lebih dulu, dan saat Bara ingin menyusul langkah istrinya, tiba-tiba saja Arum langsung


memanggilnya dengan pelan.


Mendengar itu Bara langsung menoleh ke arah Arum yang berada di belakangnya.


"Ada apa, Rum?" Tanya Bara.


"Kalian sengaja ya ngajak aku? biar aku sakit hati gitu?" Tanya Arum dengan tatapan yang masih tajam.


"Shut.....jangan bahas itu disini, Rum! nanti yang ada malah Serina dengar lagi!" Ucap Bara, lalu melanjutkan langkahnya kembali.


Arum membuang nafasnya dengan kasar, lalu ia pun menyusul majikannya.


"Aku akan memakainya nanti malam, mas!" Ucap Serina. "Kira-kira yang mana yang bagus?" Tanya Serina.


"Cih....pakaian itu hanya aku yang pantas memakainya. Kamu sudah tua, jadi sama sekali tidak pantas memakai pakaian seperti itu!" Batin Arum yang dengki.


"Ah....terserah kamu sayang, itu sesuai seleramu." Jawab Bara.


"Em.....kalau begitu aku tanya Arum saja. Arum, kira-kira warna apa yang bagus untukku?" Tanya Serina sengaja.


Arum menghela nafas panjang, lalu berkata "Maaf jika lancang, nyonya. Tapi saya rasa dengan usia nyonya yang sudah segini, nyonya sangat tidak pantas lagi memakai pakaian seperti ini." Cemooh Arum lalu kembali menundukkan pandangannya. Tanpa sadar ia berkata seperti itu pada Serina.

__ADS_1


"Apa katamu barusan?" Tanya Serina menatap serius Arum.


Tak menjawab, Arum malah terlihat seperti orang yang gagap.


"Aku memakainya untuk menyenangkan suamiku, jadi


masalah pantas atau tidak nya tidak masalah." Jelas Serina.


"Lagipula aku hanya bertanya padamu, warna mana yang bagus, tapi kenapa kamu seperti orang yang terlihat kesal?" Tanya Serina dengan senyum penuh arti.


"Ma-maafkan saya nyonya, saya tidak bermaksud berkata seperti itu." Ucap Arum menahan kesal.


Tidak menghiraukan ucapan Arum, Serina lebih memilih untuk beranjak pergi dari toko tersebut.


"Serina....!" Panggil Bara setengah berteriak tapi istrinya itu tidak menghiraukan panggilannya.


Bara melirik Arum dengan sorot mata malas.


"Rum! aku tahu kamu kesal, tapi jagalah sikap dan bicara mu itu!." Cecar Bara.


"Kamu membela dia?" Tanya Arum dengan nada sedikit meninggi.


"Sudahlah, Rum. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu." Ucap Bara ketus.


Arum tersentak, wanita itu tak terima jika Bara berbicara dengan nada ketus.


Tanpa menunggu jawaban dari Arum, Bara langsung melangkahkan kakinya mengejar sang istri.


Arum menipiskan bibirnya geram, lalu menarik nafas dalam untuk meredamkan rasa kesal di hatinya.


Huft.....


Di perjalanan pulang, semuanya tampak diam bergelut dengan pikiran masing-masing.


Serina pun terlihat lebih memilih membuang pandangannya ke luar jendela.


Diamnya Serina sungguh membuat Bara tak enak hati.


"Serina......tolong maafkan Arum yang telah membuat perasaanmu tersinggung." Ucap Bara membuka obrolan.


"Kenapa malah kamu yang meminta maaf?" Tanya Serina menekankan ucapannya.


Bara, pria itu tampak gugup mendengar pertanyaan ketus yang yang meluncur dari mulut istrinya.


"Semua ini memang kesalahan saya, nyonya. Sekali lagi saya benar-benar minta maaf!" Sambung Arum.

__ADS_1


Serina memutar bola mata malas sambil mendengus kesal saat mendengar ucapan Arum.


__ADS_2