
"Kamu sudah membuat keributan di kantor ku. Cepat kamu pergi atau aku akan menyuruh satpam menyeret mu keluar!"
Arum memijit keningnya yang tiba-tiba terasa nyeri. Wajahnya begitu malu di saat semua orang mencemooh dan menatapnya dengan tatapan merendahkan.
"Satpam! Seret wanita ini keluar!" Titah Serina dan diiyakan oleh satpam.
"Ayo pergi dari sini!" Ucap satpam sambil menyeret Arum keluar.
"Lepaskan! Aku bisa sendiri!" Ucap Arum menepis kasar tangan satpam yang menyeret nya.
Dengan perasaan campur aduk, Arum pergi dari perusahaan yang ternyata bukan milik suaminya.
"Tidak, aku tidak mau jadi orang miskin! Aku harus minta penjelasan sama mas Bara!" Lirih Arum.
Dan pada akhirnya, Arum kembali lagi ke apartemen.
Bara menyambut kedatangan Arum tapi baru saja membukakan pintu untuk Arum, Arum langsung saja menampar dirinya.
Plak!!
"Arum...! Kenapa kamu menampar ku, hah!" Seru Bara.
Plak!
Untuk kedua kalinya, Arum menampar Bara.
"Kamu membohongi ku, Mas.. Kamu membohongi ku...!" Pekik Arum.
"Apa maksud mu, Arum? Bicara yang jelas!" Sentak Bara.
"Ternyata perusahaan itu bukan milik kamu tapi milik mantan istrimu dan sekarang kamu sudah di tendang dari perusahaan mu itu!" Gerutu Arum.
Bara seketika menjadi gagap mendengar ucapan Arum itu. Sekarang dia tidak bisa lagi mengelak bahwa perusahaan itu adalah milik Serina.
"Pokonya aku tidak mau jatuh miskin, mas. Aku tidak rela!" Tuntut Arum.
"Jelaskan padaku, mas apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Arum.
Bara, pria itu dengan wajah tertunduk menghembuskan nafasnya pelan lalu berkata,
"Asal kamu tahu yang sebenarnya Rum, selama ini yang kaya bukanlah aku, melainkan Serina." Ucap Bara pelan.
Kedua mata Arum terbelalak ketika mendengar ucapan suaminya. "Apa..! Tidak mungkin, mas. Kamu pasti membohongi ku kan, mas?" Tanyanya tak percaya.
"Aku tidak bohong, Rum!"
Arum menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak mau jadi miskin, mas!" Jerit Arum tak terima.
"Memangnya jika aku miskin, apa kamu akan meninggalkan ku, Rum?" Tanya Bara.
"Ya kamu pikir sendiri lah, mas. Memangnya kamu kira hidup miskin itu enak? cih ..... Aku kecewa sama kamu!" Cetus Arum kemudian berlalu begitu saja menuju ke kamar.
Bara ingin menyusul Arum namun ia kedatangan tamu yang tak lain adalah Bu Mayang.
"Mamah, ngapain mamah datang kesini?" Tanya Bara.
"Orang tua bukannya di suruh masuk malah bertanya ngapain kesini, memangnya salah kalau mamah kesini?" Ketus Mayang.
__ADS_1
"Ya nggak salah, yaudah jangan marah-marah, ayo masuk!"
"Bara, wajahmu kenapa merah begitu?" Tanya Mayang.
"Tidak kenapa-kenapa, mah!"
"Istri kamu mana?"
"Ada, di kamar."
"Mertua datang bukannya di buatin minum malah di kamar, istri kamu itu gak sopan!"
Bara menghela nafas pelan, pria ini kemudian beranjak dari duduknya dengan niat ingin menghampiri Arum di kamar.
"Rum, ada mamah. Kamu salaman giih, terus buatin mamah minuman!" Titah Bara.
"Nggak mau ah, kamu buat saja sendiri, Mas. Oh ya, aku tidak mau melihat mu apalagi berbicara dengan mu!" Ucap Arum.
"Rum, jangan begitu! Disini ada mamah, jagalah sikap mu!" Pinta Bara menekankan kata-katanya.
Arum mendengus kesal, wanita ini bangkit lalu menuju dapur untuk membuatkan minuman.
"Silahkan di minum, mah!" Ucap Arum sambil meletakan secangkir teh di atas meja.
"Mertua datang bukannya di sambut malah enak-enakan tidur di kamar."
"Mah! Sudah!" Ucap Bara.
"Heh, Arum wajahmu kenapa gitu, kok kaya benang kusut?" Tanya Mayang. "Apa jangan-jangan kalian habis bertengkar?" Timpalnya.
"Kita gak kenapa-kenapa, mah!" Jawab Arum.
"Yaudah Bara mamah kesini cuma pengen minta uang aja kok, lagi pula kamu kan udah lama gak kasih mamah jatah." Ujar Mayang langsung pada intinya.
Belum sempat Bara menjawab, Arum langsung saja membuka suaranya.
"Mas Bara lagi gak punya uang, Mah! jadi gak bisa ngasih!" Ucap Arum.
"Heh, kamu itu nyambung-nyambung aja. Saya kan mintanya sama anak sayang sendiri!" Kata Mayang.
"Mah, yang diucapkan Arum itu benar Mah. Sekarang Bara lagi gak punya uang." Ungkap Bara.
"Bara, kamu itu kan kerja tiap hari, mustahil gak ada uang sama sekali, sih!"
Bara tak menjawab dan hanya diam saja seperti orang yang bingung.
"Mah, anak mamah ini udah gak kerja lagi, udah nganggur sekarang!" Jelas Arum.
"Apa! Bara apa yang dikatakan istrimu itu benar?" Tanya Mayang pada Bara.
Bara pun menganggukkan kepalanya seolah membenarkan ucapan Arum.
"Apa maksud dari semua ini, Bara?" Tanya Mayang.
Ting....Ting......
Terdengar lagi suara bel, Arum dengan cepat langsung membukakan pintu. Saat membuka pintu, Arum dibuat termangu ketika melihat yang datang adalah dua sosok lelaki yang sama sekali tak ia kenal
__ADS_1
"Maaf, siapa anda? ada perlu apa?" Tanya Arum.
Tak langsung menjawab, dua pria itu langsung saja melangkah masuk ke dalam.
"Hei siapa anda, kenapa main masuk saja?" Tanya Arum membuntut dibelakang.
Sementara Bara bangkit dari duduknya saat melihat dua orang lelaki menghampiri dirinya.
"Rum, siapa mereka?" Tanya Bara.
Arum mengangkat kedua pundaknya. "Entahlah mas, aku tidak tahu. Mereka main masuk saja!"
"Pak Bara......!" Panggil salah satu lelaki asing itu.
"Ya, saya sendiri. Ada apa? siapa kalian?" Tanya balik Bara pada kedua orang yang berdiri tak jauh dari dirinya.
"Anda tidak bisa lagi tinggal diapartemen ini!" Jawabnya, membuat Bara dan Arum serta Mayang yang ada disitu ikut terkejut.
"Apa, kenapa, apa alasannya?" Tanya Arum tak terima.
"Ibu Serina sudah mengambil alih apartemen ini bahkan surat menyuratnya sudah berada ditangan ibu Serina. Jadi atas perintah dari ibu Serina, silahkan kalian pergi dari sini!" Jelasnya dengan tegas.
Bara tersentak, lelaki ini benar-benar tak percaya jika mantan istrinya itu akan melakukan hal ini padanya.
"Tidak bisa begitu pak, apartemen ini adalah milik suamiku!" Protes Arum.
"Apartemen ini atas nama ibu Serina dan kalian hanya menumpang selama ini. Silahkan pergi sekarang juga!"
Arum benar-benar tak terima, ia melirik ke arah Bara yang sejak tadi hanya diam mematung.
"Mas, apa-apaan semua ini? dulu kamu bilang apartemen ini milik kamu, Mas! kenapa sekarang malah begini?" Tanya Arum dengan murka.
"Se-sebenarnya apartemen ini juga memang milik Serina dari awal." Jawab Bara dengan terbata-bata.
Arum menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Dia tidak bisa lagi berkata-kata kali ini dan hanya memijat keningnya.
"Cepat pergi sekarang juga, kalau tidak kami saya akan memanggil polisi." Ancam orang lelaki itu.
Akhirnya mau tidak mau dengan berat hati, Bara dan Arum serta Mayang pun pergi meninggalkan apartemen tersebut.
"Bara, apa maksud dari semua ini? kenapa bisa jadi begini?" Tanya Mayang penasaran.
"Sudahlah Mah, untuk sekarang Bara gak bisa jelasin ke mamah." Ucap Bara.
"Aku gak habis pikir sama kamu, Mas. Sekarang lihat kita mau tinggal dimana sekarang, Mas!" Tanya Arum yang terus menyalahkan Bara.
"Rum, untuk sementara kita bisa numpang tinggal di rumah mamah dulu." Ujar Bara.
Kedua mata Arum membulat. "Hah, apa? tinggal di......"
"Bara jadi kamu mau tinggal dirumah, Mamah?" Tanya Mayang.
Bara mengangguk. "Iya mah, untuk sementara saja."
"Tapi mas, masa kita tinggal dirumah Mamah sih?" Protes Arum.
"Ya apa salahnya Rum, lagipula kan hanya sementara ini saja."
__ADS_1
"Argh.....sudahlah Bara terserah kamu saja, kalau bukan anak mamah sendiri, mana mau mamah!" Sindir Mayang sambil melirik Arum.
Akhirnya Arum pun hanya pasrah, karena tidak ada pilihan lagi selain tinggal dirumah mertuanya yang sangat menjengkelkan ini.