
Mata Arum melebar, dia lupa bahwa tadi saat berhubungan dengan Bayu, Bayu memberi tubuhnya stempel.
"Mas, ka-kamu jangan salah paham dulu, Mas." Ucap Arum terbata-bata.
"Ini hanyalah bekas gigitan nyamuk!" Timpalnya berbohong.
"Tapi mustahil digigit nyamuk sebesar ini?"
"Ya iyalah mas, kan tadi gatel terus ku garuk-garuk jadi besar gini."
Bara menghembuskan nafasnya kasar, wajah yang semulanya penuh gairah kini malah berubah menjadi wajah yang sedang memikirkan sesuatu.
"Astaga jangan sampai dia tahu dan berpikiran yang bukan-bukan." Batin Arum.
"Mas, kamu kenapa? jadi nggak?" Tanya Arum mengalihkan situasi yang sempat tegang.
"Nggak Rum, nggak jadi. Tiba-tiba aku jadi nggak bergairah!" Ucap Bara seraya melepaskan tubuh Arum.
"Ayo dong, Mas. Tadi aja kamu maksa-maksa!" Arum meraih lengan Bara.
"Jawab yang jujur, Rum. Tanda merah itu bekas apa?" Tanya lagi Bara.
"Aduh mas, kita ini sudah menikah. Masa kamu gak percayaan sih sama aku? ini itu digigit nyamuk." Jelas Arum.
"Ta-tapi....."
"Udahlah mas, kalau gak percaya yaudah! mending aku lanjut tidur lagi!"
"I-iya, Rum. Ayo kita melakukannya."
Bara kemudian melepas pakaiannya dan ia langsung saja memasukan benda pusaka miliknya tanpa aba-aba. Tak bertele-tele, benda pusaka milik Bara kini sudah masuk dengan los kedalam lubang milik Arum yang sudah begitu longgar.
Baru beberapa detik melakukan irama maju mundur benda pusaka, tiba-tiba berhenti.
"Ada apa, Mas? kenapa berhenti?" Tanya Arum.
"Ah....tidak apa-apa, Rum." Jawab Bara berbohong, padahal dalam hati bergumam mengapa sekali masuk langsung los, padahal sudah lama mereka tidak melakukannya.
"Rum, kenapa wajahmu biasa saja? apa kamu tidak menikmatinya?" Tanya Bara.
"Hem......menikmati kok mas, hanya saja aku sedikit lelah." Ucap Arum.
Jujur saja semenjak Bayu hadir kembali, Arum sendiri sudah tidak bergairah melakukannya dengan Bara. Bagi Arum, hanya Bayu lah yang mampu menuntaskan hasrat birahinya.
Selama mereka melakukan ritual esek-esek, Bara terus saja berperang dengan pikirannya sendiri. Sejenak muncul kecurigaan dalam dirinya terhadap Arum, apakah istrinya itu berselingkuh darinya?
__ADS_1
Dan dapat dilihat sejak awal, Bara bisa merasakan jika Arum seperti orang yang tak bergairah menjalankan ritual tersebut.
Selang beberapa saat, Bara mulai mencabut benda pusakanya itu, meskipun dia sama sekali belum mengeluarkan benih kehidupan dirahim Arum. Entah kenapa, benih tersebut seperti yang enggan untuk keluar.
"Kenapa berhenti mas, kan belum keluar?" Tanya Arum.
"Nggak papa, Rum. Kita lanjut besok malam lagi." Jawab Bara.
"Ya baguslah, lagian aku udah capek banget!" Ucap Arum.
*
*
*
Malam berlalu, pagi harinya raut wajah Bara dan Arum tampak begitu kesal. Bagaimana tidak, saat ingin sarapan, mereka malah mendapati meja makan yang kosong.
"Nggak ada uang, jadi mamah gak masak!" Cetus Mayang.
Tak bisa menjawab, Bara hanya mengusap kasar wajahnya.
"Terus bagaimana ini, Mas? masa kita gak makan hari ini?" Tanya Arum.
"Heh, Arum! Kamu kerja sana! jangan bisanya cuma mengandalkan suami dan menghabiskan uang suami saja!" Titah Mayang.
"Bekerja?"
"Iya kerja, apa perkataan ku kurang jelas?" Tanya Mayang.
"Enak aja, kerja itu kan udah jadi tugas suami. Jadi mamah suruh aja anak mamah Bara yang kerja!" Sela Arum.
"Mah, sudah jangan berdebat seperti ini. Bara tidak akan pernah mengizinkan Arum untuk bekerja." Ucap Bara.
"Kamu ya Bara, masih aja belain walang sangit ini. Kalau begitu yasudah kamu aja sana yang kerja!" Cecra Mayang sudah begitu kesal.
Arum melotot tak terima saat mamah mertuanya mengatai dirinya sebagai Walang sangit.
"Mah, sabar dong ini juga Bara lagi berusaha cari pekerjaan." Ujar Bara.
"Halah, udah seminggu tahu gak kamu nganggur itu!"
"Bener kata pepatah ya, beda istri beda rezeki!" Sindir Mayang seraya melirik ke arah Arum.
"Loh, maksud mamah apa bicara seperti itu?" Tanya Arum yang terasa.
__ADS_1
"Yah lihat saja, sewaktu Bara nikah sama Serina, Bara pasti selalu ngasih uang ke saya. Lah giliran nikah sama kamu, lihat noh Bara gak lagi kasih saya uang." Jelas Mayang. "Yang ada pas Bara nikah sama kamu, Bara malah jatuh miskin." Cibir Mayang.
Kedua tangan Arum terkepal dengan kuat. Emosi yang ada pada dirinya kini sudah membuncah. Untung saja Bara langsung menenangkan dirinya.
"Rum, jangan hiraukan apa kata mamah." Ucap Bara.
"Dan mamah, mamah jangan bicara seperti itu dong,"
"Lah emang kenyataannya, mau diapakan lagi? istri kamu yang sekarang itu pembawa sial!" Lagi ucapan pedas Mayang sungguh membuat telinga Arum panas.
Arum yang benar-benar kesal akhirnya memilih untuk berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun.
"Arum, kamu mau kemana?" Tanya Bara tapi tak dihiraukan.
"Mah, seharusnya mamah gak bicara seperti itu kepada Arum!" Sentak Bara sedikit emosi, lalu ia menyusul Arum yang berlalu.
"Loh kamu sudah berani menyentak mamah seperti itu?" Tanya Mayang meninggikan nada suaranya.
Bara menyusul Arum yang pergi kekamar dan saat dikamar, Bara langsung saja meminta maaf.
"Rum, aku minta maaf kalau mamah aku sudah berbicara seperti itu!" Ucap Bara seraya meraih lengan Arum. Tapi dengan sigap Arum menepisnya dengan kasar.
"Mas, mamah kamu itu bener-bener keterlaluan ya! kalau bukan orangtua mungkin aku sudah mencabik-cabik mulutnya!" Cecar Arum sambil menunjuk-nunjuk wajah Bara.
"Iya aku tahu, Rum. Maka dari itu aku minta maaf."
"Argh.......pokonya aku gak mau tahu ya mas, secepatnya kamu harus beli rumah agar kita bisa minggat dari sini!" Tuntut Arum.
"Kamu pikir selama ini aku diam aja gitu? aku juga mikir Rum, sampai-sampai kepalaku mau meledak. Aku kesana kesini cari kerjaan gak ada yang mau menerima!" Jelas Bara.
"Ya semua itu kan karena ulah mantan istri murahan kamu itu, Mas! seharusnya kamu harus lebih tegas lagi!" Cibir Arum.
"Pikir lagi deh mas, semua masalah ini itu berawal dari mantan istri kamu, yah mungkin saja dia masih belum terima jika kalian bercerai." Imbuhnya.
Bara terdiam, sepertinya ucapan istrinya itu ada benarnya juga. Awal dari masalah ini adalah ulah mantan istrinya, Serina.
Melihat Bara yang hanya diam, Arum langsung saja meraih tas dan kunci mobil yang berada diatas meja.
"Kamu mau kemana, Rum!" Tanya Bara yang langsung meraih lengannya.
"Mau pergi, lama-lama dirumah bikin aku pusing aja!" Jawab Arum dengan ketus. Ia melepaskan tangan Bara dengan kasar lalu berlalu begitu saja.
Bara mendengus kesal, sekarang dia seperti orang yang sudah kehabisan kata-kata.
"Argh......." Teriak Bara seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Memang benar, ini semua karena ulah Serina! awas saja kamu Serina, tunggu pembalasanku!" Kecam Bara dengan kedua tangan terkepal kuat.