
"Saudara Arum, ayo ikut. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda!" Ucap pak polisi.
Arum menurut dan dia pun dibawa ke sebuah ruangan yang dimana disitu sudah ada Pram dan Serina yang menunggu.
Arum membelalakkan matanya saat melihat orang yang ingin bertemu dengan dirinya ternyata adalah Pram dan Serina.
Arum duduk lalu langsung bertanya dengan sengak kepada Pram dan Serina.
"Mau apa kalian kesini? Kalian pasti ingin menghina ku kan karena keadaanku yang seperti ini?" Tanya Arum.
Keduanya tak buru-buru menjawab, Serina menatap Pram sejenak seolah membiarkan Pram yang menjawab pertanyaan dari Arum.
"Hei Arum, apa kamu tidak merasa bersalah?" Tanya Pram.
"Merasa bersalah? Untuk apa aku merasa bersalah, hah?" Tanya Arum dengan angkuhnya.
"Apa kamu lupa? Kamu telah mencelakai Serina, istriku!"
Arum seketika menatap Serina dengan tatapan tajam dan penuh kebencian. Rasanya ingin sekali dia menghajar Serina yang telah menyebabkan dirinya seperti ini, tapi apalah daya kedua tangannya di borgol.
"Semua itu pantas dia dapatkan karena dia telah menghancurkan hidupku!"
"Mas, apa ku bilang. Seharusnya kita tidak usah kesini." Ucap Serina setengah berbisik.
"Seharusnya kamu mati saat itu juga, Serina!" Ucap Arum dengan seringai liciknya.
__ADS_1
Pram mendelik tajam ke arah Arum. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal erat .
"Andai kamu seorang pria sudah pasti kamu akan ku hajar!" Ucap Pram yang emosi.
Arum tertawa terbahak-bahak saat mendengar ocehan yang tak bermutu dari Pram.
Bukannya sadar, Arum justru tertawa mendengar ancaman Pram yang terdengar lucu di telinganya.
"Hai, Pram! Kamu itu masih perjaka kenapa mau menikah dengan janda bolong ini?" Ejek Arum.
"Arum, jaga ucapan mu!" Bentak Serina yang sudah menahan sabar dari tadi.
"Sepertinya pulang dari sini aku harus bertemu dengan Bara dan mengatakan kepadanya, terimakasih sudah melepaskan sebuah berlian hanya demi batu jalanan seperti dirimu!" Ucap Pram tak mau kalah.
"Jangan ngawur kamu, Arum. Inilah tempat sesungguhnya untuk kamu bernaung sampai ajal menjemput mu!" Cemooh Pram tersenyum penuh kemenangan.
Arum menyeringai seolah tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Pram.
"Keparat!!" Teriak Arum menggema.
"Cepat lepaskan aku! Aku tidak Sudi jika harus tinggal disini seumur hidup!" Raung Arum seperti orang kesetanan.
Pram tak perduli begitu juga Serina. Mereka berdua hanya menatap Arum dengan tatapan hina dan jijik.
"Sayang, sebaiknya kita segera pergi dari sini!" Ujar Pram.
__ADS_1
Serina menganggukkan kepalanya.
Sebelum akhirnya pergi, Serina memberikan sebuah ucapan yang begitu membuat Arum frustasi.
"Sudah buntung tidak tahu malu pula! Sekarang nikmati lah karmamu, Rum!" Ucap Serina sinis, kemudian ia dan Pram pergi meninggalkan Arum yang menangis dan meraung-raung bagaikan orang gila.
Hari terus berlalu, sampai tak terasa sudah satu Minggu berlalu Arum mendekam di balik jeruji.
Setiap hari Arum bagaikan orang gila, bagaimana tidak, dia terus saja menangis bahkan sesekali tertawa sendiri dan berbicara sendiri kadang juga mengamuk ingin minta keluarkan.
"Saudari Arum, ayo ikut. Ada seseorang lagi yang ingin bertemu dengan anda." ucap pak Polisi pada Arum yang melamun.
"Siapa yang mencari ku, hah?" Tanya Arum.
"Pak Bara namanya."
Arum begitu sumringah saat mendengar nama Bara. Suaminya yang sudah seminggu lebih ini tidak bertemu dengannya.
"Hah apa? Mas Bara? Ayo pak, bawa saya cepat!" Seru Arum tak sabaran ingin bertemu.
Dan kini Arum dan Bara pun sudah duduk berhadapan dengan terhalang oleh meja.
"Mas, sudah lama kita tidak bertemu. Kenapa kamu baru kesini?" Tanya Arum tapi Bara hanya diam.
"Mas, tolong keluarkan aku dari sini. Aku tidak tahan hidup disini. Apa kamu tega apa kamu gak kasihan lihat aku begini?" Tanya Arum dengan wajah sedih.
__ADS_1