Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
67. Marah


__ADS_3

"Aku dan Pram sebentar lagi akan segera menikah. Jadi, kamu tidak usah mengganggu apalagi mengajakku rujuk..!" Ucap Serina membuat Bara dan Mayang terkejut.


Pram yang mendengar pengakuan dari Serina pun juga ikut terkejut tapi pria ini mencoba untuk biasa saja.


"Tunggu. Serina, jangan coba-coba menipu aku!"


"Untuk apa aku menipumu? Kami berdua memang sebentar lagi akan mengadakan pernikahan," Ucap Serina tegas.


"Benar. Aku dan Serina akan segera menikah." Sambung Pram membenarkan ucapan Serina.


Bara merasa syok, pria ini masih tidak percaya jika mantan istrinya akan segera menikah dengan lelaki lain. Bara hendak menyentuh Serina tapi dengan cepat Pram menepisnya.


"Kamu sudah tidak ada hak lagi untuk menyentuh Serina." Tegas Pram.


"Serina sudah bekas ku, memangnya kamu mau menikahi janda?" tanya Bara.


"Memangnya kenapa kalau dia bekasmu?" Pram bertanya balik. "Aku menerima dia apa adanya, masalah status aku tidak keberatan asalkan dia mencintai ku dengan tulus dan tidak macam-macam di belakang ku." Jelas Pram membuat wajah Bara tebal.


"Murahan sekali kamu, Serina. Padahal baru cerai dari anakku tapi kamu sudah ingin menikah lagi." Cibir Mayang membuat Serina tertawa.


"Seharusnya ibu dan anak ibu ini bercermin dahulu. Apa perlu ku belikan cermin besar agar bisa berkaca terlebih dahulu sebelum mengatai ku." Ucap Serina tak mau kalah.


"Aku peringatkan padamu. Jangan pernah mengganggu Serina lagi karena dia sebentar lagi akan menjadi istriku." Tegas Pram.


"Serina, ayo kita pergi." Ajak Pram pada Serina.


Pram dan Serina pun pergi tanpa menghiraukan Bara yang masih terpaku di tempatnya. Bara masih syok, pria ini tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia dengar. Sumpah serapah pun terlontar dari mulut Bu Mayang menyumpahi mantan menantunya. Dengan langkah lesu, Bara pun mengajak ibunya untuk pulang saja karena sudah tidak berselera lagi untuk makan.


Sesampainya di rumah, Bara langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan Arum yang tengah menunggu dirinya di ruang tamu.


"Mah, Mas Bara kenapa wajahnya kusut begitu?" Tanya Arum pada Bu Mayang.


"Ini semua gara-gara kamu. Andai anakku tidak menikah dengan mu mungkin dia tidak akan bernasib sial seperti ini." Ucap Bu Mayang.


"Maksud mamah apa?"


"Ah sudahlah. Aku malas bicara dengan wanita bodoh seperti kamu." Ucap Bu Mayang kemudian ia berlalu.


"Dasar tua Bangka. Aku juga malas ngomong sama nenek-nenek kaya kamu." Ucap Arum kesal. Wanita ini pun pergi ke dapur untuk membuatkan suaminya segelas susu hangat kemudian ia pergi ke lantai dua kamar suaminya.

__ADS_1


Di depan kamar suaminya, Arum mendengar seperti suara barang-barang yang di hempaskan. Wanita ini khawatir kemudian mengetuk-ngetuk pintu, namun tidak ada jawaban, Arum pun membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci.


"Mas...!" Teriak Arum ketika melihat suaminya sedang mengamuk.


Arum berjalan menghampiri suaminya. Bara tidak menghiraukan Arum yang terus memanggilnya. Pria ini melampiaskan amarahnya kepada barang-barang yang ada di hadapannya.


"Mas...!" Panggil Arum sekali lagi dengan suara lembut.


Bara terdiam kemudian berbalik dan menatap tajam ke arah Arum. Dengan langkah cepat ia berjalan menghampiri Arum dan mencengkeram dagunya dengan kuat.


"Andai aku tidak tergoda denganmu, mungkin rumah tangga ku akan baik-baik saja. Kamu yang menghancurkan hidup ku, Arum." Ucap Bara dengan mata melotot.


"Kenapa kamu selalu menyalahkan ku. Bukankah kamu sangat mencintai ku, apa kamu lupa kamu selalu mengatakan bahwa kamu mencintai ku, hah!" Seru Arum.


"Itu dulu, sekarang aku baru sadar. Aku menyesal telah memilih kamu. Kamu hanya godaan yang datang untuk menghancurkan rumah tanggaku, seharusnya aku bisa menahan godaan itu." Ucap Bara yang terus menyalahkan Arum.


"Ya berarti kamu nya dong yang salah juga, sudah tahu aku menggoda terus kenapa kamu malah terayu denganku?" tanya Arum.


Bara semakin emosi, pria itu lalu mendorong tubuh Arum hingga jatuh ke lantai.


"Akh......sakit mas!" rintih Arum.


Arum yang juga ikutan kesal, ia pun langsung berlalu dari kamar Bara dengan sumpah serapahnya.


Sedangkan kini, diperjalanan pulang suasana didalam mobil tampak begitu hening. Baik Serina atau Pram keduanya sama-sama canggung dan gugup.


"Ehem....." Dehem Pram sengaja.


Serina lalu melirik ke arah Pram, "Ada apa, Pram?" tanya Serina.


"Yang tadi, apakah benar?" tanya Pram memastikan.


Serina tak buru-buru menjawab, wanita itu masih diam berpikir.


"Jangan bilang itu semua hanya untuk membuat mantan suami dan mantan mertua mu merasa panas saja,"


"Tidak Pram, jangan berpikir seperti itu." Sangkal Serina.


"Lalu apa?"

__ADS_1


"Aku mau menikah denganmu," Ucap Serina yang tak berani menatap wajah Pram.


Pram seketika langsung menepikan mobilnya ke pinggir jalan, ia lalu menatap lekat wajah cantik Serina.


"Serina, apa aku tidak salah dengar? Coba ulangi ucapan mu tadi!" Pinta Pram .


"Setelah ku pikir-pikir lagi dengan matang, aku memutuskan untuk mau menikah denganmu, Pram."


Pram tersenyum lebar, pria itu tanpa basa-basi langsung saja menggenggam tangan Serina lalu menciumnya.


"Terimakasih, Serina!" Seru Pram dengan begitu sumringah.


*


Keesokan harinya, Bara dengan wajah kusut nya turun dari tangga sambil membawa beberapa tas branded milik Arum. Bara memang berniat untuk menjual tas tersebut sebagai biaya hidup karena ia sendiri pun sudah lama menjadi pengangguran.


Arum yang kebetulan sedang mengepel lantai saat melihat Bara menuruni anak tangga dengan membawa beberapa tas, ia langsung saja menghampiri Bara dengan wajah bingung.


"Mas Bara......mau mas kemanakan tas milikku ini?" tanya Arum.


"Mau dijual lah, masa mau dibuang, kan sayang!" celetuk Bara.


"Eh enak aja, gak bisalah! Semua tas inikan milik Arum! Mas gak ada hak buat jual itu tas!" Ucap Arum tak terima.


"Ya terserah aku lah Arum, lagian beli semua tas ini kan pakai uangku!"


"Gak.....gak bisa gitu dong mas! Dulu kan kamu sendiri yang beliin bua aku!"


"Dulu itu karena kamu rayu aku, tapi sekarang kan aku udah sadar jadi ku jual aja lagi semua tas ini. Toh lagian uangnya buat biaya hidup aku sama mamah!" celetuk Bara.


Arum menggelengkan kepalanya, tak menyangka jika Bara akan menjadi seperti ini.


"Kurang ajar kamu, Mas!" Geram Arum, wanita ini lalu menyemburkan air pel yang berada didalam embel ke tubuh Bara.


"Arum.....!' teriak Bara dengan wajah penuh amarah.


"Apa gak terima, hah!" Sentak Arum dengan kedua tangan mengacak pinggang.


"Eh.....ada apa sih ini, kok teriak-teriak!" Seru Mayang datang menghampiri.

__ADS_1


__ADS_2