
Siang ini disalah satu restoran ternama.
Serina, wanita itu tampak berbincang-bincang dengan seorang wanita yang seumuran dengan dirinya.
"Bagaimana, apa klien kita mau di ajak bekerjasama?" Tanya Serina.
"Tentu saja! Bekerjasama dengan perusahaan mu pastinya akan sangat menguntungkan bagi mereka." Ujar Desi.
Desi adalah tangan kanan Serina, sekaligus sahabatnya.
Serina tersenyum mendengar penuturan sahabatnya.
Lalu mereka pun melanjutkan makan siangnya.
Dari kejauhan samar-samar terdengar suara berat dari seseorang yang memanggil nama Serina.
Serina menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat seorang pria tampak tersenyum lebar padanya.
Dengan langkah lebar pria tersebut pun langsung saja menghampiri Serina.
"Serina......" Tegur Pria itu yang bernama Pram.
Serina bangkit dari duduknya dan menatap Pram dengan tatapan menyelidik.
"Apa kabar?" Tanya Pram sambil mengulurkan tangan, bermaksud ingin bersalaman. Tapi Serina hanya diam mematung, seolah kaget melihat kehadiran Pram.
"Serin........!"
"Ah.....Pram....." Serina membalas salam Pram.
"Kenapa malah diam? oh, apa karena kamu kaget melihatku?" Tanya Pram tersenyum.
"Tentu saja, karena kita sudah lama tidak bertemu!" Ucap Serina.
Pram Dirgantara, ia adalah seorang pria berparas tampan bertubuh kekar, memiliki rahang yang tegas serta bola mata yang kecoklatan.
Pram dan Serina saling mengenal satu sama lain, karena dulu Pram dan Serina pernah satu universitas.
Pram begitu mencintai Serina dan menganggap Serina adalah wanita pertama yang mampu membuatnya jatuh cinta sampai sedalam ini.
Sampai suatu hari saat hari kelulusan, Pram dengan gagah dan beraninya ia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Serina.
Akan tetapi saat ia sudah mengungkapkan perasaannya, Serina justru malah memberikan jawaban yang menusuk ke hatinya.
Serina mengatakan jika Pram selama ini hanya dianggapnya sebagai teman saja , tidak lebih.
Kecewa? Tentu saja, Hati Pram begitu ditusuk tombak berkarat saat mendengar Serina menjawab seperti itu. Tapi hati Pram dibuat jauh lebih sakit lagi saat Serina mengatakan bahwa ia sebentar lagi akan menikah dengan Bara, kekasihnya saat itu yang baru jadian beberapa hari.
Pram pun begitu terkejut ketika mendengar Serina yang akan menikah dengan Bara.
Singkat cerita, Pram merasa tidak ada harapan lagi untuk memiliki Serina. Jadi dirinya memutuskan untuk pergi keluar negeri demi bisa melupakan Serina, wanita yang selalu terbayang-bayang di ingatannya.
"Pram, kapan kamu kembali?" Tanya Serina yang duduk berhadapan.
__ADS_1
"Sudah beberapa Minggu yang lalu!" Jawab Pram.
"Oh jadi begitu." Ucap Serina singkat.
"Bagaimana kabar mu, Serin? Aku lihat sepertinya kamu tampak bahagia sekarang?" Tanya Pram.
Serina menundukkan pandangannya lalu kembali menatap pria di hadapannya sambil memberikan setengah senyuman.
"Kabarku baik. Kalau kabarmu sendiri?"
"Kamu sedang tidak berbohong kan?" Tanya Pram.
"Apa maksudmu?"
"Serina, aku sudah lama mengenalmu. Jadi aku bisa melihat dari matamu, tatapan matamu seperti orang yang sedang menyimpan kesedihan, bukankah begitu?"
Serina mendecih. "Cih.....dasar sok tahu!"
Pram menatap wajah cantik wanita di hadapannya, wajah yang selalu membuat dirinya terbayang-bayang.
Serina mendadak membuang muka, menghindari tatapan Pram yang sedari tadi terus memandanginya.
"Mungkin terlihat lancang jika aku bertanya apa masalahmu, tapi jika kamu perlu tempat untuk mendengarkan mu, aku siap!" Jelas Pram.
Serina mengernyitkan alisnya.
"Maaf, Pram. Aku harus pulang!" Ucap Serina, yang sebenarnya ingin menghindari Pram.
Pram, pria itu memegang tangan Serina.
"Pram! Apa kamu lupa jika aku sudah menikah?" Tanya Serina.
Pram melepaskan tangannya.
"Maafkan aku, Serin." Ucap Pram dengan wajah lesu.
"Tidak apa-apa!" Ucap Serina seraya berlalu, namun lagi-lagi Pram menahannya.
Serina menatap Pram heran, beberapa detik keduanya saling menatap satu sama lain hingga akhirnya Serina memutuskan pandangannya.
"Bisakah kita bertemu lagi?" Tanya Pram penuh harap.
"Aku mohon." Batin Pram.
Serina, wanita itu tampak berpikir untuk beberapa saat lalu mengiyakan permintaan pria itu.
Senyum manis terlukis di wajah tampan milik Pram.
Pandangan Pram tidak terputus sama sekali melihat penampilan Serina yang sangat cantik dan elegan. Pria itu tersenyum lebar melihat wanita yang selama ini sangat ia rindukan.
Huft.......
Waktu berlalu begitu cepat, semburat jingga melambai indah menghiasi langit pertanda sudah petang.
__ADS_1
Serina mengendarai mobilnya sendiri, membelah jalanan ibukota yang terlihat ramai oleh kendaraan.
Serina memutuskan untuk tidak pulang ke rumah melainkan singgah ke taman yang terletak di sudut kota.
Sesampainya di taman kota, Serina berjalan-jalan mencari kursi kosong. Di sepanjang taman kota di penuhi orang-orang yang sekedar jalan-jalan, muda-mudi yang sedang berkencan serta anak kecil yang sedang berlarian kesana kemari.
Wanita itu lebih memilih menyendiri di sudut taman kota. Walaupun suasana ramai tapi hatinya terasa hampa.
Ada pemandangan yang membuat hati Serina tersentuh, wanita itu melihat sepasang suami-istri sedang bermain bersama anak-anak mereka, keluarga kecil yang terlihat bahagia.
Serina, wanita itu menghela nafas pelan. Ada kehangatan yang menelusup di relung hatinya menyaksikan pemandangan indah di depannya.
Pram, pria itu dari kejauhan melihat seseorang yang tampak tak asing baginya.
"Serina, sedang apa dia disana?" Batinnya.
Pram lalu menepikan mobil miliknya, berniat untuk menghampiri Serina.
Setelah menepikan mobilnya, ia langsung saja bergegas turun.
Pram memperhatikan Serina yang tengah asyik melamun sehingga tidak menyadari menyadari kehadirannya.
"Serin..." Tegur Pram sambil menyentuh bahu Serina, hingga membuat Serina kaget dan langsung menoleh.
Serina tersenyum tipis dan memperhatikan pria di sampingnya dengan heran.
"Pram! Sedang apa kamu disini, kamu mengikuti ku, ya?" Tanya Serina.
"Kamu jangan salah paham, Serin. Aku tak sengaja melihat mu tadi dari kejauhan." Jawab Pram.
Serina tidak bergeming, wanita itu kembali melamun.
"Hallo.. hai.. aku disini!" Ucap Pram, sambil melambaikan tangannya di depan wajah Serina.
Serina menghembuskan nafasnya kasar lalu menatap Pram dengan tatapan kesal, padahal dia ingin menyendiri tapi kenapa harus bertemu dengan Pram lagi?
"Sebentar lagi malam, kenapa kamu masih disini?" Tanya Pram.
"Lalu bagaimana dengan mu, Pram? Kenapa kamu ada disini juga?" Serina bertanya balik.
"Tidak baik membiarkan gadis cantik sendirian disini." Ucap Pram. "Nanti kalau ada yang menculik mu bagaimana?" Tanya Pram lagi.
"Pram! Aku sudah mengatakan kalau aku sudah menikah, jadi aku bukan gadis lagi." Sanggah Serina.
"Aku tidak peduli!" Seloroh Pram.
"Maksudmu apa, Pram?" Tanya Serina, wanita itu mengalihkan pandangannya menatap pria di sampingnya.
"Serina... Aku tidak peduli jika kamu sudah berstatus istri orang, kali ini aku tidak akan melepaskan mu, Serina. Tidak akan pernah." Batin Pram.
Pram, pria tampan itu tersenyum sambil menatap lekat wajah cantik Serina. Pram menatap Serina dengan tatapan mata yang berbeda sehingga membuat Serina mengernyitkan alisnya.
"Tidak apa-apa, Serin!" Ucap Pram dengan lembut.
__ADS_1
Serina mendengus kesal.