Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
63. Angkuh


__ADS_3

Pukul sembilan malam, Serina baru saja diantar pulang oleh Pram. Saat Serina hendak turun dari mobil, tiba-tiba Pram menahan dirinya.


"Ada apa, Pram?" Tanya Serina heran.


"Jangan lupa, Serin. Karena aku sudah tidak sabar menunggu jawaban kamu." Ucap Pram.


Serina terdiam untuk beberapa saat, lalu wanita itu pun mengangguk dengan diiringi senyum tipis.


Pram menghela nafas lega. Lalu ia pun turun membukakan pintu mobil untuk Serina.


"Terimakasih, Pram!" Ucap Serina.


"Seharusnya aku yang berterimakasih, karena kamu sudah mau bertemu denganku." Ujar Pram.


Serina tersenyum, kemudian ia pamit untuk masuk kedalam.


Setelah memastikan Serina sudah masuk ke dalam rumahnya, Pram pun kembali memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, baru setengah perjalan, tiba-tiba sebuah mobil menghentikan mobil Pram hingga membuat Pram merem mendadak


"Ah.. sial..!" Umpat Pram.


Pram keluar dari dalam mobilnya lalu menghampiri mobil yang menghadang jalannya.


"Hei... Keluar kamu...!" Ucap Pram sambil mengetuk pintu mobil.


Pintu mobil terbuka, Pram sedikit memundurkan posisinya. Sosok yang keluar dari dalam mobil itu ternyata ialah Bara, mantan suami Serina.


Pram pun mengernyitkan dahinya. "Hah, Bara?"


"Apa maksud mu, hah? Ada perlu apa sehingga kamu menghalangi jalanku?" Tanya Pram.


"Jauhi Serina..!" Ucap Bara.


"Apa?"

__ADS_1


"Apa kamu tuli? Menjauh lah darinya!"


"Apa urusannya dengan mu. Kamu tidak ada hak melarang ku, lagipula kamu bukan lagi siapa-siapanya Serina...!" seru Pram tegas.


"Aku tidak peduli...! Yang jelas kamu jauhi Serina atau kamu akan..."


"Kau mengancam ku? Cih, laki-laki pengecut seperti dirimu memberiku ancaman?" Ejek Pram.


"Dengarkan aku, aku ingin kamu menjauhi Serina karena sebantar lagi aku akan membawanya rujuk kembali!" jelas Bara dengan nada angkuh.


Pram justru terkekeh saat mendengar penjelasan Bara yang begitu sombong.


"Silahkan saja, tapi apakah dia mau rujuk kembali denganmu?" tanya Pram.


"Pertanyaan bodoh macam apa ini?Jangan bercanda, aku ini adalah lelaki yang paling dicintai Serina. Jadi aku yakin, pasti dia akan mau diajak rujuk kembali." Ucap Bara tersenyum miring.


"Jangan mimpi, Bara. Kamu telah menyakitinya , sekarang tidak ada lagi kamu dihatinya bahkan yang ada hanya rasa kebencian kepadamu."


"Sepertinya bukan aku yang patah hati tapi kamu..!" Ejek Pram lagi.


"Banyak omong...!" Cibir Bara.


"Asal kamu tahu saja, sebentar lagi aku akan menikahi Serina, mantan istri kamu...!" Tekan Pram.


Bara menautkan kedua alisnya. ia terkejut dan tak percaya dengan apa yang dikatakan Pram barusan.


"Tidak mungkin, itu tidak benar!" seru Bara tak terima.


"Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh menanyakannya langsung pada Serina," Ucap Pram santai.


Bara mendengus kesal, dadanya seketika bergemuruh dan kedua tangannya kini sudah terkepal dengan kuat. Dia tidak rela jika Serina menikah dengan lelaki lain.


"Baiklah, aku akan menanyakannya langsung pada Serina nanti!" Seru Bara kemudian pria ini masuk ke dalam mobilnya dan berlalu begitu saja.

__ADS_1


Pram hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Bara yang seperti itu. Akhirnya pria ini pun melanjutkan perjalanan pulangnya yang sempat tertunda.


Dilain tempat, saat ini Arum baru saja sampai ke kampung halamannya. Dengan nafas yang sudah tersengal-sengal, Arum berulang kali mengetuk pintu rumah orangtuanya. Sudah lebih lima kali Arum mengetuk pintu, akan tetapi sama sekali tidak ada yang membuka maupun menyahut.


"Kemana mereka?" tanya Arum lirih karena dirinya merasa sangat lelah akibat perjalanan yang lumayan jauh.


"Arum....." Tegur seorang ibu-ibu dari arah belakang.


"Bu Susi....." Balas Arum pada tetangganya itu.


"Kamu cari siapa, Rum?" tanya Bu Susi sambil menatap Arum dari atas kebawah.


"Ya cari orangtua saya, Bu!" ujar Arum.


"Loh kamu gak tahu ya?"


"Maksud ibu apa?"


"Orangtua serta adik kamu itu baru aja pindah dari rumah ini. Tiga hari yang lalu tepatnya."


Arum begitu kaget saat mendengarnya. "Hah, pindah?"


"Kamu gak dikasih tahu ya memangnya?"


Arum terdiam, lalu ia menggelengkan kepalanya.


"Terus kamu mau kemana lagi malam-malam begini, Rum?" tanya Bu Susi prihatin.


"Entahlah Bu, Arum gak tahu. Lagi pula Arum juga gak tahu alamat orangtua Arum yang sekarang."


"Ya sudah, untuk malam ini kamu tidur saja di rumah ibu," Tawar Bu Susi.


Arum tanpa basa basi langsung menerima tawaran tersebut karena dirinya sudah merasa sangat lelah dan mengantuk. Terlebih kepalanya terasa sangat pusing sekarang, mungkin karena efek hamil.

__ADS_1


__ADS_2