Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
72. Rumah Sakit


__ADS_3

"Bara......." Arum kaget saat melihat Bara yang datang dengan tatapan tajam seperti iblis.


"Mau lari kemana kau, hah!" teriak Bara seraya melangkah ke arah Arum.


Plaakkkk......


Bara tanpa ampun menampar wajah Arum berkali-kali sampai membuat Arum jatuh terhuyung ke lantai. Merasa belum puas, Bara menarik kerah baju Arum lalu kembali menampar wajah Arum.


"Ampun mas...!!" Ucap Arum berurai air mata. Wanita ini mengusap pipinya yang terasa sangat perih.


"Bara, apa yang kamu lakukan?" Mayang menjerit, wanita ini langsung memeluk anaknya agar berhenti memukuli Arum.


"Bara, apa kamu sudah gila? Bisa mati anak orang kamu hajar..!" Sentak Mayang.


"Wanita jahanam ini menusuk Serina mah..!" Ucap Bara.


"Apa? Arum menusuk Serina?" Tanya Mayang.


"Wanita iblis ini melakukan upaya pembunuhan mah, aku harus menyeretnya ke penjara..!" Ucap Bara membuat Arum ketakutan.


"Aku melakukan itu semua sebab karenanya. Kamu tidak pernah memikirkan perasaanku mas, kamu hanya memikirkan Serina bukan aku. Padahal aku istrimu mas..!"


"Arum, kamu sudah gila!" Sentak Mayang.


"Yah, aku memang sudah gila mah. Kenapa perempuan jahanam itu tidak mati saja, arghh...!!"


Bara tidak terima, akal pikirannya sudah dirasuki amarah bahkan pria ini tega mencekik Arum. Mayang berusaha melepaskan tangan Bara, menarik Bara yang sudah seperti orang gila.


"Arum bisa mati. Bara, sadarlah!" Ujar Mayang namun Bara semakin keras mencekik Arum.


Plak... Mayang menampar wajah anaknya sampai membuat Bara sadar dan terdiam. Sedangkan Arum, wanita ini hanya bisa menangis meraung-raung.


"Aku harus menyeretnya ke penjara mah." Ucap Bara kemudian menarik tangan Arum.


"Mas, aku mohon jangan penjarakan aku." Pinta Arum.


"Persetan denganmu!"


"Aku melakukan ini semua agar kamu melihatku mas!"


"Aku tidak peduli. Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu."


Tanpa merasa iba, Bara menarik rambut Arum lalu menyeretnya keluar. Mayang yang sangat syok hanya bisa menjerit memohon agar Bara melepaskan Arum.


"Bara, kamu bisa membawanya ke kantor polisi tapi tidak begini juga caranya!" Ujar Mayang.

__ADS_1


"Mah, tolong Arum mah!" Rintih Arum yang kesakitan.


Sedikit perdebatan antara Mayang dan Bara hingga saat Bara tengah lengah Arum bangkit dan menendang bagian sensitif milik Bara.


"Arghhh.... Sialan!" Erang Bara sambil memegangi burung miliknya.


Kesempatan itu digunakan Arum untuk melarikan diri, dengan sisa tenaga yang ia miliki wanita ini terus berlari hingga tanpa ia sadari sebuah truk melaju dan menabrak dirinya.


"Aaaaaaa.......brugh!!!!"


Tubuh Arum terseret beberapa meter lalu tanpa sengaja lagi kakinya terlindas motor yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Bara yang mencari-cari Arum pun tampak penasaran karena di seberang jalan ramai orang-orang yang sedang berkerumun. Ia yang penasaran pun langsung saja menghampiri.


"Ada apa ini?" Tanya Bara menyelinap diantara kerumunan orang-orang.


"Kecelakaan!" Sahut salah satu warga sekitar.


Bara tersentak dengan kedua mata terbelalak saat melihat ke arah Arum yang sudah tergeletak lemas dengan darah segar yang terus mengalir.


"Ah.....sakit.....sakit......" Lirih Arum kemudian tak sadarkan diri.


Singkat cerita, Arum kini sudah berada di rumah sakit. Namun wanita ini belum juga sadarkan diri sejak tadi.


Bara maupun Mayang yang mengantar Arum ke rumah sakit begitu syok dengan keadaan Arum yang saat ini. Begitu sangat memprihatinkan, tapi Bara sama sekali tak peduli.


Dokter menghela nafas panjang.


"Bu, kondisi pasien saat ini begitu kritis. Terlebih kaki kirinya mengalami cedera parah akibat kecelakaan sehingga harus dilakukan tindakan amputasi secepatnya." Jelas Dokter.


Mayang sedikit kaget, sejenak ia menatap Bara yang berada disampingnya.


"Tak hanya itu Bu, kecelakaan tersebut membuat pasien mengalami syaraf otak sehingga membuat pasien akan kesulitan berbicara saat sudah pulih nanti."


Lagi, Mayang menatap ke arah Bara. Seolah tak percaya jika Karma akan secepat itu menghampiri menantu biadabnya itu.


"Lalu bagaimana, Bu Pak? Amputasi harus dilakukan secepat mungkin, tapi kami harus mendapatkan izin dulu dari keluarga pasien." Kata Dokter.


"Amputasi saja, Dok! Biar dia tahu rasa!" Ucap Bara yang masih tersulut api emosi.


"Hus.......Bara, jangan bicara seperti itu!" sentil Mayang.


"Dok, apapun itu saya serahkan kepada Dokter saja baiknya yang mana." Ujar Mayang.


Sedangkan saat ini Serina belum juga sadarkan diri. Dia mengalami kritis karena terlalu banyak kehabisan darah. Pram yang bersedih dari tadi pun hanya bisa menangis sambil menggenggam tangan wanita yang baru saja sah menjadi istrinya itu. Pram terus saja berdoa kepada Tuhan agar wanita yang sangat ia cintai ini bisa selamat.

__ADS_1


"Sayang.......kamu harus kuat! Aku sama sekali tidak mau jika harus kehilangan kamu!" Seru Pram dengan satu tangan mengelus lembut kepala Serina.


Sampai malam tiba, Serina pun belum juga sadar. Membuat Pram semakin begitu sedih dan cemas.


"Semua ini gara-gara wanita sialan itu!" Hardik Pram bangkit dari duduknya.


"Wanita itu harus menerima akibat nya!" Ucap Pram dengan kedua tangan terkepal dengan kuat. Pria itu lalu pergi meninggalkan ruangan dimana Serina di rawat.


Pram bermaksud ingin menemui Bara dirumahnya, akan tetapi saat di koridor rumah sakit, Pram tak sengaja melihat Bara sedang berdiri sambil mengusap kasar wajahnya.


Pram yang memang sudah emosi, langsung menghampiri Bara lalu tanpa kata dia menarik kerah baju Bara.


"Hah, Pram? Ada apa, lepaskan aku!" pinta Bara.


"Kurang ajar, semua ini gara-gara istrimu. Gara-gara istrimu, istriku jadi sekarat!!" maki Pram.


"Apakah semua ini suruhan mu? karena kamu memang tidak rela kan jika aku menikahi nya?" tuduh Pram.


"Jangan asal nuduh, aku sama sekali tidak ada pikiran seperti itu untuk mencelakai Serina!" sanggah Bara tak terima.


"Aku juga tidak tahu jika Arum akan seperti itu!"


"Omong kosong!" bentak Pram.


"Sekarang katakan, dimana istrimu itu? jangan bilang kamu menyembunyikannya!"


"Cuih.....Keparat! Sudah ku bilang jangan asal menuduh!" Bara semakin tak terima.


"Ikut aku!" Bara mendorong tubuh Pram, lalu melangkah menuju ke ruangan dimana Arum di rawat.


Pram pun mengikuti langkah Bara.


Sesampainya di ruangan Arum, Pram tercengang saat melihat kondisi Arum yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit dengan kepala diperban.


"Apa yang terjadi? Kenapa dia?" tanya Pram.


Bara lalu menjelaskan tentang semua yang terjadi setelah Arum menusuk Serina.


Mendengar penjelasan Bara, Pram pun hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Tidak akan ku biarkan dia hidup tenang setelah menyakiti istriku." Ucap Pram.


"Apa maksudmu?" tanya Bara.


"Lihat saja nanti!" Ucap Pram kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


"Arum......Arum......kenapa aku dulu bisa sampai tergoda oleh manusia iblis seperti dirimu?" tanya Bara pada diri sendiri sambil menatap ke arah Arum.


__ADS_2