
Bagaikan disambar petir, Arum kaget dan terdiam dengan mulut ternganga. Dia sama sekali tak menyangka jika Bara akan mengatakan hal itu.
"Maksud kamu, apa Bara?" tanya Arum seraya bangkit berdiri menatap wajah Bara dengan serius.
"Apa kamu tuli? Hari ini juga, sekarang ini juga aku TALAK kamu!" Ucap Bara dengan nada penuh emosi
Arum menggeleng dengan cepat. "Ti-tidak Bara, aku tidak ingin kita berpisah." Tolak Arum.
"Tidak Arum, kita tidak bisa lagi untuk bersama. Aku tidak ingin hidup bersama orang pengkhianat seperti kamu!" Ujar Bara.
"Bukankah katamu kamu kamu mencintai aku?" tanya Arum.
"Hah, Cinta? Itu dulu, Rum. Sekarang tidak!" jawab Bara.
"Sungguh aku menyesal sekarang, kenapa dulu aku memilih wanita murahan seperti kamu ini," Hardik Bara.
Bagaikan di tusuk belati tajam yang baru diasah, Arum benar-benar tak menyangka jika Bara akan mengatainya sebagai wanita murahan.
"Apa kamu bilang?" Arum menatap tajam Bara.
"Iya, kamu wanita murahan, Rum. Bodoh sekali dulu aku mau padamu.Oh, apa jangan-jangan dulu kamu pelet aku ya?"
Pertanyaan Bara kali ini sungguh tidak masuk di akal.
"Kalau ngomong disaring dulu, Mas. Bukankah dulu kamu sendiri yang kegatalan dan ngejar-ngejar aku?"
"Tapi semua itu berawal dari kamu, Rum. Kamu yang menggoda aku duluan sampai-sampai rumah tanggaku dengan Serina hancur!" Tutur Bara.
"Apa kamu bilang!" Arum naik pitam mendengar penuturan Bara yang terus menyalahkan dirinya.
"Kamu gak terima? Ya sudah sana pergi!" Usir Bara dengan tegas.
Arum terdiam, lalu kedua matanya kembali berkaca-kaca. Dia memohon pada Bara agar Bara tidak mengusir maupun menceriakan dirinya.
"Tidak, aku tidak mau kita bercerai, Mas." Ucap Arum tak kalah tegasnya.
Bara menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Tapi aku mau kita bercerai. Aku tidak bisa lagi denganmu."
"Kalau kita bercerai lalu bagaimana dengan anak kita yang sedang ku kandung ini?" Tanya Arum sambil mengelus-elus perutnya. Berharap Bara mengurungkan niatnya untuk bercerai.
"Masih bisa bertanya seperti itu? Hei Rum, aku sama sekali tak peduli. Lagipula sudah jelas kalau itu bukan anakku!" Gumam Bara.
__ADS_1
"Tidak Mas, ini adalah anak kami. Darah daging kamu!" Ucap Arum menegaskan sekali lagi.
"Kamu sudah membohongi ku, Rum...!" Ucap Bara seketika membuat Arum tertawa. "Hai, kenapa kamu tertawa, hah?" tanya Bara.
"Kamu tidak bercermin, mas. Kamu saja berbohong padaku, kenapa kamu tidak jujur kalau kamu laki-laki mandul!"
"Andai aku tahu kamu lelaki mandul, aku tidak sudi menikah dengan mu!" timpalnya.
"Aku tidak peduli, sekarang kamu pergi dari rumah ku..!" Usir Bara.
"Di mana perasaan mu, mas?" Seru Arum yang merasa tidak terima.
"Aku tidak peduli...!" sentak Bara.
Arum panik, ia kebingungan. Kalau dirinya di usir, ke mana ia harus pergi?
"Mas, ini anak kamu, seharusnya kamu tidak seperti ini, kamu harus bersyukur aku bisa memberikan mu keturunan." Jelas Arum berusaha meraih tangan suaminya tapi, Bara menepisnya.
"Dia bukan anakku dan bukan juga darah dagingku, dia adalah anak hasil dari lelaki lain.!" Tuduh Bara.
"Kalau ini memang anak dari lelaki lain, terus kamu mau apa Mas? Kamu sendiri saja mandul gak bisa punya keturunan!" Hina Arum.
Plak...
"Dasar wanita pelac*r! Kamu pantas mendapatkannya!" Hardik Bara.
"Arum sekarang juga cepat kamu angkat kaki dari rumah ini," Usir Mayang.
"Mah, tolong jangan usir Arum!" Kini Arum malah bersimpuh dibawah kaki mamah mertuanya.
"Arum mohon bujuk mas Bara agar tidak mengusir Arum, mah...!" pinta Arum dengan air mata berderai.
"Halah, kemarin-kemarin kamu membentak ku, sekarang malah nangis-nangis...!" Ucap Mayang lalu tertawa puas.
"Mas Bara, aku mohon maafkan aku kali ini, mas..!" Ucap Arum dengan wajah melasnya.
"Tidak ada...! Sekarang pergi dari sini...!" Sentak Bara.
Bara tak bisa berfikir jernih, setelah mengatakan hal seperti itu, pria ini langsung menyeret Arum keluar kemudian ia masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu.
Bara kini mendudukkan pantatnya disofa, lalu memijat keningnya yang terasa pening.
Betapa kecewanya hati Bara saat ia mengetahui istrinya mengkhianati dirinya. Perempuan yang selama ini ia puja-puja, nyatanya hanya memberi luka di hatinya.
__ADS_1
"Bagaimana, apa rasanya sakit di khianati?" Tanya Mayang.
"Ternyata sakit sekali, mah..!" Ucap Bara lesu.
Mayang tersenyum miring kemudian berkata.
"Mungkin begitulah apa yang di rasakan Serina..!" Ucap Mayang
"Lagian kan memang dari awal mamah gak setuju kalau kamu nikah sama dia, eh sekarang udah ngerasa kan akhirnya gimana?" ujar Mayang kemudian berlalu.
"Argh......" Bara mengusap kasar wajahnya, ia begitu frustasi dengan situasi saat ini.
*
Berkali-kali Arum mengetuk pintu rumah suaminya tapi tetap saja Bara tidak membukakan pintunya. Arum yang kesal menendang pintu rumah Bara, mau tidak mau wanita itu akhirnya pergi dari sana. Arum berniat untuk pergi ke apartemen Bayu, meminta pertanggungjawaban laki-laki yang telah menyebabkan rumah tangganya di ujung perceraian.
"Ada apa lagi kamu ke sini?" Tanya Bayu dengan santainya.
"Aku ingin kamu menikahi ku!" Ucap Arum membuat Bayu tertawa.
"Apa, menikahi mu?" Tanya Bayu yang masih tertawa. "Yang benar saja, mana mungkin aku menikahi istri orang." Cibir Bayu.
"Tapi sebentar lagi aku akan bercerai dari suamiku." Jelas Arum.
"Kenapa suamimu menceraikan mu. Oh.. pasti karena suamimu tahu kalau kamu mengandung anak dari lelaki lain." Ucap Bayu.
"Aku tidak peduli kamu tahu darimana, yang jelas, aku ingin kamu menikahi ku!" tukas Arum yang lagi-lagi membuat Bayu tertawa.
"Jangan mimpi, Rum! Pas lagi enak kamu membuang ku, eh.. pas lagi susah begini kamu datang ke aku, ngemis-ngemis untuk di nikahi. Hei, bangunlah dari mimpi mu, Rum..!" Cemooh Bayu.
"Tapi ini anak kamu juga, Bayu..!" Bentak Arum.
"Jadi kamu ingin aku bertanggung jawab?"
"Benar, karena ini anak kamu. Anak kita...!" Tekan Arum.
"Arum...! Bukankah kita melakukan hubungan terlarang ini karena suka sama suka. Lagipula, bukankah kamu sendiri yang dengan suka rela memberikan tubuhmu ke aku untuk ku cicipi?" Cibir Bayu.
"Lagipula aku tidak yakin itu anak ku!" Imbuh Bayu sontak membuat Arum tidak mengerti.
"Apa maksud mu, hah?" Tanya Arum dengan suara tinggi.
"Aku sangat yakin Rum, anak yang sedang kamu kandung itu pasti anak hasil dari celup sana celup sini, tapi kamu hanya meminta pertanggung jawaban dariku saja, iyakan?"
__ADS_1
"Tapi aku bersumpah ini anak kamu, Bay!" Arum kembali menyakinkan Bayu.